Memaafkan adalah Kunci Meredam Kebencian

0
1281
memaafkan

Memaafkan adalah perbuatan yang sulit dilakukan. Tetapi dengan memaafkan adalah kekuatan untuk meredam benci.


Banyaknya masalah yang timbul dalam diri kita terkadang membuat hati dan perasaan kita menjadi tergoncang. Salah satu akar masalah yang timbul pada kehidupan manusia yakni permasalahan akan sesama manusia. Perbuatan jahat ataupun perilaku tidak menyenangkan yang tekadang tanpa kita sadari mampu melukai perasaan manusia lain atau diri kita sendiri.

Islam memberikan tuntunan dalam berinteraksi kepada sesama manusia. Dalam berinteraksi kepada sesama manusia pastinya kita memiliki beberapa masalah yang timbul. Pastinya  akan ada orang yang akan melakukan kesalahan kepada diri kita, begitupun sebaliknya atau bahkan kesalahan kita akan lebih besar daripada manusia lainnya.

Pada dasarnya manusia sering menyimpan rasa benci dalam hati. Tanpa manusia sadari, dirinya telah memupuk subur rasa benci tersebut. Kebencian seolah mendominasi diri dan membuat kita menikmatinya untuk menyakiti diri dan orang lain.

Terbukti dengan sikap kebanyakan manusia yang sulit untuk melepaskan perasaan benci dan memilih untuk mencari kedamaian. Diperkuat lagi dengan pembenaran dengan kalimat yang banyak muncul dari kalangan pembenci “forgive but never forget”.

Tersirat dalam ungkapan tersebut kekuatan dendam dan kebencian yang tertanam dalam diri manusia masi saja melekat meskipun dirinya merasa sudah memaafkan. Hakikat yang sebenarnya adalah manusia tersebut tidak mampu memaafkan, dan hanya sekedar tidak mau memperpanjang dan memperburuk masalah tersebut.

Beberapa makna yang mesti dipahami dari ungkapan “memaafkan” yakni melepaskan, menerima dan memahami. Melepaskan berarti mampu mengikhlaskan kesalahan orang lain pada kita. Menerima berarti mampu menerima maaf yang tulus dari orang yang membuat kesalahan pada kita. Dan, memahami berarti mampu melihat dari sudut pandang yang berbeda, mengapa seseorang bisa berbuat kekhilafan kepada kita, karena itu bisa bersumber dari diri kita sendiri.

Dari semua makna di atas akan bisa membangkitkan rasa memaafkan dengan penuh kesadaran serta melupakan apapun yang terjadi pada diri kita. Memang tidak akan mudah dilakukan. Oleh karena iti Islam juga tidak mewajibkan manusia untuk memaafkan, karena memaafkan membutuhkan ketulusan yang ada pada nurani manusia.

Islam memperbolehkan seseorang membalas kesalahan siapa pun selama balasan itu setimpal. Hal ini tertuang dalam firman Allah dalam surat asy-Syura 40: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.”

Ayat di atas mencerminkan bahwa setiap balasan manusia yang berbuat hal buruk adalah keburukan serupa, seperti hakim yang menjatuhkan hukuman kepada terpidana. Hal ini dilakukan demi terciptanya keadilan. Namun apabila manusia mampu memaafkan dan melupakan semua kesalahan orang yang berbuat buruk kepadanya dan mampu menjalin hubungan baik, maka Allah akan memberikan pahala yang besar kepadanya.

Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat zalim terhadap sesamanya. Zalim artinya melakukan pembalasan melampaui batas yang harus dilakukan. Karena itulah, memaafkan adalah pilihan agar kita mampu meredam kebencian dan kesalahan yang akan timbul di kemudian hari.

Orang terbaik adalah orang yang mampu memaafkan kesalahan orang lain di saat dia mempunyai kesempatan dan kemampuan untuk membalasnya. Allah memilih orang yang memaafkan dengan janji-janji pahala yang tidak terkira.