memaafkan
memaafkan

Memaafkan tidak Mengurangi Kemuliaanmu, Jadilah Pemaaf

“Iman yang paling utama adalah sabar dan pemaaf atau lapang dada,” (HR Bukhari dan Ad-Dailami)

Manusia memiliki beberapa unsur bawaan yang berhubungan dengan emosi.  Rasa gengsi, ego dan tidak mau kalah merupakan sifat dasar alamiah. Orang yang mampu mengalahkan ego akan melahirkan sifat mulia. Salah satu sifat mulia itu adalah memaafkan.

Pada dasarnya, memaafkan tidak semudah yang diucapkan. Memaafkan seseorang yang berbuat salah kepada kita memang tidak mudah dilakukan, karena memaafkan membutuhkan jiwa yang besar dan kemampuan menekan ego. Karena itulah, Rasulullah menempatkan perilaku memaafkan sebagai bagian dari iman yang paling utama.

Pada dasarnya memaafkan merupakan salah satu cara seseorang berdamai dengan dirinya. Perlunya kita menyadari bahwa kehidupan tidak akan berjalan seperti apa yang kita mau. Ada beberapa hal yang pasti di luar kendali kita. Memaafkan orang lain juga merupakan cara manusia untuk hidup dalam kedamaian.

Kita tidak perlu orang lain meminta maaf baru kita berinisiatif untuk memaafkan. Memang, jika kita melakukan kesalahan kepada orang lain, hendaknya kita minta maaf. Namun, perihal meminta maaf bukanlah hal yang bisa dipaksakan atau dalam kendali kita, karena meminta maaf merupakan perkara sifat dan hati seseorang.

Sifat pemaaf juga merupakan salah satu ciri kematangan emosional seseorang. Manusia pasti akan melakukan interaksi sosial dengan manusia lainnya. Dalam interaksi manusia akan menemukan perbedaan pandangan yang terkadang dalam beda pandangan tersebut ada hal-hal yang menyinggung. Jika kita tidak mampu melapangkan dada dan memaafkan, berapa banyak musuh yang akan kita koleksi?

Dalam segala hal termasuk kesalahan orang lain pada kita, setidaknya kita bisa memandangnya dari segi positifnya. Misalnya, kamu sakit hati atas perkataan teman. Dari luka yang di rasakan sebenarnya ada hikmah yang bisa diambil. kita jadi sadar, bila kita merasa sakit hati diperlakukan seperti itu, maka orang lain pun akan sama. Sehingga, ke depannya bisa mencegahmu melakukan perbuatan keliru tersebut, dan mendorongmu untuk lebih hati-hati dalam berkata.

Baca Juga:  Dalil Nisfu Sya’ban (1) : Kenapa Malam Nisfu Sya’ban Istimewa?

Terkungkung dengan permasalahan masa lalu pasti akan membuat kita sulit untuk bahagia. Dengan cara memaafkan tragedi dan seseorang dalam tragedi tersebut, sama saja kita telah berbuat baik kepada diri kita sendiri. Tanpa kita sadari, kita telah membebaskan diri dari belenggu masalalu yang pastinya mampu membuatmu damai dan bahagia.

Perasaan gengsi merupakan sebab utama sulit memaafkan kesalahan orang lain. Perasaan gengsi membuat manusia berfikir seolah-olah jika memaafkan, kita akan menjadi pihak yang kalah. Memaafkan kesalahan orang lain tidak hanya mampu menenangkan hati pelakunya, namun menjadi pemaaf juga untuk kebaikan diri.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya,) kecuali kemuliaan (di dunia dan akhirat), serta tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya (di dunia dan akhirat).” (HR Muslim).

Bukan hanya itu saja, menjadi seorang pemaaf ternyata mampu membuat kita disukai Allah. Karena sifat pemaaf merupakan salah satu sifat Rasulullah yang juga sangat di sukai Allah. Dalam al-Quran di sebutkan bahwa, “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” – (Q.S Ali Imran: 159).

Dalam surat di atas, Rasulullah mencontohkan bahwa siapapun manusia yang bersedia memaafkan orang lain atas kesalahan mereka, maka manusia tersebut akan mampu membawa kedamaian untuk dirinya sendiri ataupun untuk orang lain. Karena itu Allah sangat mencintai seseorang yang memiliki sifat pemaaf.

Baca Juga:  Jangan Anggap Sepele Ibadah Sunnah

Memaafkan akan melahirkan sifat mulia bukan menghinakan diri sendiri. Memaafkan cermin perilaku orang yang telah mampu mengalahkan egonya. Sekali lagi derajatmu tidak akan hilang karena memaafkan, justru akan menambah kemuliaan.

Bagikan Artikel ini:

About Sefti Lutfiana

Mahasiswa universitas negeri jember Fak. Hukum

Check Also

ridha orang tua

5 Kunci dalam Al-Qur’an untuk Mendapatkan Ridha Orang Tua

Setiap orang tua mengidamkan untuk memiliki anak yang berbakti. Begitu pula seorang anak juga mempunyai …

rebo wekasan

Rebo Wekasan : Tradisi, Kepercayaan dan Amalan

Dalam masyarakat Madura, Jawa, dan sunda pastinya sudah tidak asing lagi dengan istilah rebo wekasan …