pengertian kafir
politik kafir

Memahami Hakikat Kafir (1) : Definisi dan Sebab Kekafiran Menurut Ahlussunnah Wal Jama’ah

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw pernah bersabda :

إِذَا كَفَّرَ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

Artinya: “Apabila seseorang mengatakan kafir kepada saudaranya, maka sungguh-sungguh kekafiran itu kembali kepada salah satunya” (HR. Muslim)

Hadits tersebut menunjukkan, bahwa Rasulullah saw sejak awal mewanti-wanti umatnya agar tidak gampang mengatakan kafir kepada seseorang. Sebab ungkapan kafir tersebut dapat berdampak buruk terhadap dirinya. Bahkan ada yang mengatakan dapat berdampak kufur bagi yang mengatakan demikian[1].

Memang banyak penafsiran tentang dampak orang yang mengatakan kafir terhadap orang lain, tetapi tidak seorang pun yang mengatakan baik terhadap ungkapan tersebut. Sekalipun mengungkapkan kafir termasuk perbuatan tidak baik, tetapi bukan berarti konsep kafir tidak ada dalam Islam. Dalam ajaran Islam tetap ada istilah kafir, dengan beragam makna sesuai konteknya.

Namun, memahami istilaf kafir menjadi sangat penting agar seseorang tidak serampangan meletakkan kafir sebagai vonis dan penghakiman kepada seseorang. Karena itulah, marilah pahami pengertian kafir agar tidak mudah mengkafirkan sesama.

Definisi Kafir

Secara etimologi, kata kufur terkadang bermakna menutup, dan kadang juga memiliki mengingkari[2], sebagaimana dalam firman Allah swt

إِنَّا بِكُلٍّ كَافِرُونَ

Artinya: “”Sesungguhnya kami tidak mempercayai masing-masing mereka itu” (QS. Al Qashas: 48)

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ

Artinya: “Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus” (QS. Al Baqarah: 256)

Namun kadang-kadang juga kata kufur digunakan untuk para petani, seperti firman Allah swt

كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ

Artinya: “Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani” (QS. Al Hadid: 20)

Kata kuffar yang merupakan jama’ dari kafir tidak diartikan dengan mengingkari, tetapi para petani. Karena seandainya diartikan orang yang mengingkari, tentu tidak sesuai dengan maksud susunan kalimat tersebut.

Baca Juga:  Inilah Etika Ber-Medsos Dalam Islam

Kufur secara istilah syar’i digunakan kepada makna kebalikan dari iman. Sebab itu, orang kafir berarti orang yang tidak beriman kepada Allah swt dan RasulNya. Pengertian kufur dengan pendekatan ini tidak jauh dari makna kufur secara bahasa dengan makna menutup atau mengingkari. Sebab orang kafir hatinya benar-benar sudah tertutup sebab kekafirannya.[3]

Masih dalam kitab yang sama, Ba’alauddin al Hanafy memberikan pengertian yang lebih luas lagi yaitu: “Mengingkari apapun yang datang secara pasti (qat’i)”[4]. Dari pemahaman ini, setiap bentuk pengingkaran dari apa yang telah qat’i dari Allah swt dan Rasul_Nya, maka berdampak kufur. Bukan hanya berkaitan dengan masalah aqidah, tetapi masalah Fiqh juga dapat berakibat kufur. Seperti mengingikari shalat yang lima waktu tidak wajib, meyakini kehalalan zina, dan lainnya yang bersifat qat’i[5].

Mafhum Mukhalafah (pemahaman kebalikannya) dari pemahaman ini, mengingkari apapun yang belum qat’i, seperti nash-nash yang masih mengandung penafsiran, atau keautentikan nash tersebut masih diperselisihkan, maka tidak berakibat kufur. Seperti mengingkari wajib berniat dalam berwudhu’, meyakini tidak wajib membaca basmalah dalam shalat, dan furuiyah lainnya yang masih diperselisihkan oleh ulama’.

Faktor Menjadi Kafir

Sebenarnya, pengertian kufur menurut ulama’ yang pertama dengan yang kedua ini tidak berbeda. Sebab kewajiban dalam aqidah wajib diimani jika diperoleh dari dalil mutawatir. Dalil mutawatir akan memberikan dampak qat’i. Sehingga penafsiran pengertian ulama’ yang pertama sudah ingklud ke dalam pengertian ulama yang kedua.

Menurut Abdurrahman bin Muhammad al Qammas, di antara bagian dari kufur adalah syirik terhadap Allah swt atau menghalalkan terhadap yang jelas-jelas haram, mengingkari kenabian.[6]

Dari keterangan ini, dapat kita ketahui faktor seseorang menjadi kafir ada dua, yaitu;

Baca Juga:  Wawasan Seputar Al-Qur’an : Mengapa Terdapat Perbedaan Membaca Al-Qur’an

1.  Mengingkari semua hal yang datang Allah swt atau Nabi saw secara qat’I (dharurah)

2.  Menyekutukan Allah

Selain faktor kedua ini, maka seseorang tidak boleh dikatakan kafir, seperti melakukan tawassul yang keharamannya tidak qat’i, sementara anjurannya jelas dari Allah swt, atau ziyarah kubur, bertahlil, memuji kanjeng Nabi Muhammad saw. Perbuatan-perbuatan ini tidak pantas disebut perbuatan kufur, sebab amaliyah ini sama sekali tidak mengingkari ayat atau hadits yang datang secara qat’i.

Wallahu a’lam


[1] Syaraf al Nawawi, Syarh Muslim, Juz 1, Hal 153

[2] Ibn Mandzur, Lisan al Arab, Juz 5, Hal 169

[3] Al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah, Juz 13, Hal 227

[4] Bala’uddin al Hanafy, Al Durr Al Mukhtar, Hal 344

[5] Zainuddin al Malibary, Fath al Mu’in, Hal 3

[6] Abdurrahman bin Muhammad al Qammasy, Jami’ Lathaif al Tafsir, Juz 2, Hal 400

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

wanita ghamidi

Belajar Menghargai Orang Lain dari Kisah Wanita Ghamidi yang Berzina

Satu hari, ada seorang wanita hamil dari suku Ghamidiyah mendatangi Rasulullah saw. ia meminta dirajam …

syirik

Syirik menurut Aswaja dan Wahabi (3) : Gara-Gara Salah Konsep, Wahabi Kafirkan Seluruh Umat Islam

Pada Artikel sebelumnya telah disampaikan bahwa konsep syirik ala Wahabi lebih menekankan pada pengingkaran Tauhid …