Definisi Ahlussunnah wal Jama’ah

Istilah Ahlussunnah Wal Jama’ah dipakai untuk mereka yang mempraktekkan ajaran agama Islam sesuai dengan tuntunan, bimbingan, arahan Rasulullah dan sahabatnya. Hal ini karena konsistensi mereka berpegang dan mengikuti sunnah beliau, ittiba’ secara istiqamah.

Ibnu Rajab al Hanbali menjelaskannya lebih rinci sebagai ‘jalan yang ditempuh, termasuk di dalamnya adalah berpegang teguh kepada apa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin berupa keyakinan, perkataan dan perbuatan. Inilah Ahlussunnah yang sempurna. Dengan demikian, bisa dimaklumi kalau generasi ulama salaf tempo dulu tidak memberi gelar ahlussunnah kecuali kepada mereka yang konsisten meneladani tiga aspek tersebut.

Sementara menurut Imam Syafi’i, ahlu sunnah wal jamaag adalah “perintah untuk untuk ikut kepada jama’ah’. Yakni, berpegang pada kebenaran dan mengikutinya. Andaipun yang mengikutinya sedikit dan banyak yang menyalahkan. Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah mereka yang meneladani Rasulullah dan para sahabat dan pembangkang setelahnya keluar dari golongan ini.”

Adapun Ibnu Mas’ud menjelaskan Ahlussunnah dengan “Mengikuti kebenaran walaupun sendirian.”

Ujaran Ahlussunnah Wal Jama’ah ini berawal dari kegelisahan Rasulullah kepada umatnya yang akan terpecah, berkelompok dan sulit dipersatukan. Firqah atau aliran dalam Islam berdiri dengan argumen keabsahan masing-masing. Hal ini seperti apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad:

Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu, atau tujuh puluh dua golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu, atau tujuh puluh dua golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan.

Penegasan Rasulullah, semua aliran, firqah, atau kelompok dalam agama Islam dinyatakan masuk neraka, kecuali satu golongan saja yang selamat. Yakni, Ahlussunnah Wal Jama’ah. Pertanyaannya kemudian, siapakah yang termasuk kelompok yang dikecualikan oleh beliau tersebut? Pertanyaan ini telah dijawab oleh baginda Nabi, “Yaitu mereka yang mengikuti jejakku dan meneladi sahabat-sahabatku”.

Ciri-ciri Ahlu Sunnah wal Jamaah

Tentu saja dengan kasat mata terlihat secara jelas “Siapa Ahlussunnah Wal Jama’ah”. Ciri-cirinya ada pada mereka yang mencontoh Rasulullah dan sahabatnya.  Ada tiga ciri utama ajaran Ahlussunnah wal Jamaah atau kita sebut dengan Aswaja yang selalu diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Yaitu, Tawassuth, Tawazun dan Ta’adul.

Tawassuth memiliki makna sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan. Ciri ini bisa dipahami dari firman Allah SWT:

“Dan demikianlah kami jadikan kamu sekalian (umat Islam) umat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) manusia umumnya dan supaya Allah SWT menjadi saksi (ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) kamu sekalian. (QS al-Baqarah: 143).

Sedangkan tawazun meiliki arti seimbang dalam segala hal, termasuk dalam penggunaan dalil ‘aqli, dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional,  dan dalil naqli, sumber hukum yang diambil dari Al-Qur’an dan Hadits. Allah berfirman:

“Sunguh kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti kebenaran yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka al-kitab dan neraca (penimbang keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (QS al-Hadid: 25)

Adapun ta’adul atau I’tidal memiliki arti tegak lurus. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu sekalian menjadi orang-orang yang tegak membela (kebenaran) karena Allah menjadi saksi (pengukur kebenaran) yang adil. Dan janganlah kebencian kamu pada suatu kaum menjadikan kamu berlaku tidak adil. Berbuat adillah karena keadilan itu lebih mendekatkan pada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Maidah: 8)

Selain ketiga prinsip ini, golongan Ahlussunnah wal Jama’ah juga mengamalkan sikap tasamuh atau toleransi, yakni konsep beragama yang damai dengan perbedaan, serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama. Namun bukan berarti mengakui atau membenarkan keyakinan yang berbeda tersebut dalam meneguhkan apa yang diyakini.

Firman Allah: ”Maka berbicaralah kamu berdua (Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS) kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut dan mudah-mudahan ia ingat dan takut. (QS. Thaha: 44)

Ayat ini berbicara tentang perintah Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun agar berkata dan bersikap baik kepada Fir’aun. Ibnu Katsir  ketika menjabarkan ayat ini mengatakan, “Sesungguhnya dakwah Nabi Musa dan Nabi Harun kepada Fir’aun adalah menggunakan perkataan yang penuh belas kasih, lembut, mudah dan ramah. Hal itu dilakukan supaya lebih menyentuh hati, lebih dapat diterima dan lebih berfaedah”.


Setelah mengetahui ciri-ciri Ahlussunnah Wal Jama’ah, menjadi jelas faktor pembeda mana yang masuk ketegorinya dan kelompok yang berkitar di luarnya. Oleh karena itu, dalam tataran praktis, prinsip-prinsip yang menjadi karakteristik Ahlussunnah Wal Jama’ah ini dapat dilihat dengan jelas pada praktek kehidupan keberagamaan masing-masing. Kalau merujuk pada ciri termaktub di atas, sudah pasti termasuk Ahlussunnah Wal Jama’ah, namun kalau tidak, tentu sebaliknya.

Sebagai penajam untuk menyebutkan ciri-ciri Ahlussunnah Wal Jama’ah. Maka dapat ditarik benang merah bahwa firqah yang diakui baginda Nabi ini dalam hal akidah memiliki keseimbangan dalam menggunakan dalil naqli dan dalil ‘aqli, akidahnya bersih dan tidak seenaknya memberi predikat salah, menyatakan syirik, bid’ah dan kafir pada kelompok atau komunitas yang lain.

Sedangkan dalam hal syariah, berpedoman kuat pada al Qur’an dan hadis dengan menggunakan metode yang abash secara ilmiah. Seperti metode yang dipakai oleh para imam Madzhab. Sedangkan dalil aqli baru diterapkan manakala dijumpai suatu masalah yang secara jelas tidak diterangkan oleh teks al Qur’an maupun Hadis. Peran akal ini dalam metodologi ushul fiqih masuk pada term Ijma’ dan Qiyas. Sikap berikutnya adalah menerima perbedaan pendapat tentang hukum yang didasarkan pada dalil dzanni. Teks yang multi tafsir.

Ciri-ciri Ahlussunnah Wal Jama’ah ini kalau di Nusantara dihayati oleh Wali Songo dan diwariskan pada  ulama-ulama yang mayoritas adalah santrinya. Dengan dakwah yang santun, moderat, toleransi dan berkeadilan. Oleh karena itu, untuk menampilkan wajah Islam yang Ahlussunnah wal Jama’ah ciri-ciri yang telah tersebut harus melelat dalam sanubari setiap muslim.

Wallahu A’lam