istilah islamisme
istilah islamisme

Memahami Islamisme (1) : Meneropong Munculnya Istilah Islamisme

Islam mewakili kelompok agama terbesar kedua di dunia dengan klaim setidaknya 24 persen dari populasi dunia. Sedangkan ideologi politik yang tumbuh darinya, Islamisme atau Islam politik, merupakan salah satu gerakan politik yang paling sering disalahartikan oleh media dan masyarakat Barat.

Sejak peristiwa 11 September 2001, media, masyarakat dan elit politik Barat semakin percaya bahwa Islamisme, bukan hanya jihadisme, adalah ancaman mematikan bagi mereka. Bagi Barat, Islamisme memiliki Ideologi kekerasan dan totaliter yang menganut penghancuran serta dominasi atas global sebagai prinsip inti darinya.

Rasa takut ini terus disemburkan secara konsisten selama satu dekade terakhir oleh beberapa pemberontak yang melawan pemerintah sah dan sipil baik di Iral maupun Afghanistan. Islamisme telah dibenci oleh elemen-elemen media yang berpengaruh dengan penggunaan istilah-istilah seperti Islamofacism. Para politisi global dan Barat juga tak luput menyerukan perlawanan melawan Islamisme politik.

Istilah yang Membingungkan

Pembingkaian fenomena sosial seperti Islamisme oleh media massa itu adalah sumber utama kebingungan atas istilah ini. Untuk memisahkan mitos dari realitas seputar gerakan politik Islam – tujuan akhirnya adalah untuk mendirikan pemerintahan berdasarkan Syariah (hukum Islam) – diperlukan kesediaan untuk mengakui kompleksitas dan keragaman Islamisme dari media Barat.

Meliputi sebagaimana adanya, baik elemen arus utama maupun militan, Islamisme tidak dapat dianggap sebagai istilah umum untuk politik Islam, tidak lebih dari istilah politik Amerika atau politik Eropa yang cukup untuk menjelaskan ruang lingkup pandangan dan keyakinan politik di wilaya itu.

Media Barat, tampaknya, sering mendikte Islamisme dan Jihadisme dan hal yang sama. Media massa sering menggambarkan reaksi terhadap serangan, seperti yang terjadi pada 11 September 2001. Namun faktanya, bertentangan dengan kesan yang diberikan oleh media. Segera setelah serangan tersebut, Islamis arus utama mengutuk serangan al-Qaeda.

Baca Juga:  Imam Besar Masjidil Haram: Islam Tak Bisa Disandingkan Dengan Separatisme atau Terorisme

Mislanya para pemimpin Islam arus utama seperti Hassan al-Turabi, mantan kepala Front Islam Nasional dan pemimpin ideologi garis keras Sudan, mengutuk tindakan al-Qaeda sebagai tindakan yang berbahaya bagi Islam dan Muslim. Di Qatar, ulama Islam konservatif Yusuf al-Qaradawi mengeluarkan fatwa yang mencela serangan al-Qaeda terhadap warga sipil yang tidak bersalah.

Pengamat seperti Fawaz Gerges, penulis Journey of the Jihadist: Inside Muslim Militancy dan The Far Enemy: Why Jihad Went Global, percaya bahwa media Barat secara konsisten gagal mengajukan sejumlah pertanyaan penting ketika meliput berita tentang Islam politik dan jihadisme; Pertanyaan seperti: Mengapa al-Qaeda tiba-tiba mengarahkan target mereka pada “musuh jauh” setelah pertempuran Barat dengan kelompok Islamis lainnya selama tahun 1980-an dan 1990-an?

Di media online, definisi negatif tentang orang dan budaya Islam bahkan lebih dominan pasca insiden 9/11, yang mana menemukan kolokasi ‘Islam’ dengan istilah evaluatif negatif seperti teroris, ekstremis, fundamentalis, radikalisme dan jihadisme.

Kebingungan istilah ini terlihat di semua jenis media dan dalam banyak contoh wacana tentang Islamisme dan makna sebenarnya. Islam politik telah dipopulerkan sebagai sebuah istilah oleh media terkemuka seperti The Economist. Ia menjelaskan banyak hal tentang Islamisme kepada para pembacanya.

Islam, dalam wacana Barat selalau mengaitkan istilah Islamisme dengan fanatisme, keterbelakangan abad pertengahan, dan terorisme. Menyertakan kata ‘politik’ sebagai bagian dari istilah berpotensi memindahkan wacana itu dari kepedulian terhadap terorisme ke apresiasi yang lebih umum terhadap tata kelola masyarakat Islam. Terlepas dari upaya untuk memberikan pemahaman yang lebih baik kepada publik, ‘Islam politik’ terus dikaitkan di benak publik dengan terorisme dan fundamentalisme.

Dalam buku The Future of Political Islam, karya Graham Fuller, memberikan tandingan terhadap keyakinan bahwa Islamisme pada dasarnya bersifat residivis dan berbahaya. Dia menjelaskan bahwa Islamisme, atau Islam politik, sebagai istilah yang mencakup fundamentalis, tradisionalis, modernis, dan liberal, memberikan definisi seorang Islamis sebagai keyakinan bahwa Islam sebagai sistem kepercayaan yang memiliki sesuatu yang penting untuk dikatakan tentang bagaimana berpolitik dan bermasyarakat.

Baca Juga:  Allah Swt Suci Dari Tempat Dan Arah (4) : Hukum Bertanya “Dimana Allah Swt ?”

Fuller percaya bahwa upaya yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat untuk menekankan bahwa Perang Melawan Teror bukanlah perang terhadap Islam, dan begitu terpisah Islam dari politik, telah menyebabkan Barat mengabaikan kenyataan bahwa Islam sebagai agama dan Islamisme sebagai gerakan politik sangat berkaitan erat.

Dua istilah pertama yang menyebabkan banyak kebingungan bagi masyarakat umum adalah ‘Muslim’ dan Islam’. Meskipun sering digunakan secara bergantian, ini tidak selalu benar. Sebuah negara Muslim mungkin hanya merujuk pada negara di mana mayoritas penduduknya beragama Islam, sedangkan negara Islam akan merujuk pada negara yang mendasarkan legitimasinya pada Islam dan berkomitmen untuk menegakkan nilai-nilai Islam dalam hukumnya.

Sedangkan Fundamentalisme Islam adalah istilah lain yang terbukti bermasalah. Sementara istilah ini berguna karena menunjukkan bagaimana, seperti bentuk fundamentalisme lainnya. Gerakan fundamentalis Islam menyerukan pemulihan kemurnian asli iman Islam melalui interpretasi literal dari teks-teks sucinya.

Ini juga menempatkan gerakan ini dalam konteks tren global menuju fundamentalisme di banyak agama dan dengan demikian menunjukkan bahwa Islam mungkin tidak jauh berbeda dari agama-agama besar lainnya. Istilah ini tampaknya membawa konotasi dalam pikiran Barat yang salah menggambarkan realitas fundamentalisme Islam.

Orang-orang Kristen disebut fundamentalis bagi mereka yang memisahkan diri dari gereja-gereja Katolik dan Protestan dalam kepercayaan literal mereka pada Alkitab. Sementara bagi seorang Muslim yang percaya dan menganggap al-Quran sebagai firman Tuhan yang literal dan sempurna dan menyeluruh bagi kehidupan disebut fundamentalis.

Kaum fundamentalis Islam seperti yang mungkin diakui oleh Barat akan lebih sering memilih unsur-unsur tertentu dari ajaran Islam yang asli dan percaya bahwa unsur-unsur itu harus ditekankan dalam masyarakat Islam modern. Pilihan ajaran mana yang mungkin dipilih oleh gerakan fundamentalis akan sangat bervariasi dari satu gerakan ke gerakan lainnya. Yang mana semakin membedakannya dari gerakan fundamentalis Kristen yang akan memiliki lebih banyak kesamaan dengan gerakan-gerakan Kristen fundamentalis lainnya.

Bagikan Artikel ini:

About Muhammad Hasan Izzurrahman

Avatar of Muhammad Hasan Izzurrahman

Check Also

gagasan perdamain dalam al-quran

Al-Quran dan Gagasan Perdamaian

Dalam perdebatan kontemporer mengenai akar Muslim radikalisme dan karakter agama Islam, dirasa penting untuk kembali …

perayaan idul adha

Idul Adha di Masa Pandemi : Sejarah dan Makna Perayaan

Idul Adha, atau dalam bahasa Arab (الأضحى) secara harfiah diterjemahkan sebagai hari raya qurban, sementara …