shalawat berjamaah
shalawat berjamaah

Membaca Shalawat Berjamaah adalah Mentradisikan Cinta Rasul, Emang Bid’ah?

Dari pada mengajak anak dan istri untuk demo, akan lebih mulia mengajak mereka untuk mengikuti majlis shalawatan. Mendidik cinta rasul sejak dini dan memasyarakatkan shalawat.


Dalam I’anah al Thalibin disebutkan, masyarakat dari berbagai kalangan berkumpul untuk membaca al Qur’an, membaca sejarah kehidupan Nabi, bershalawat, membaca syair pujian dan ceramah agama.

Keterangan ini diperkuat dalam Wafayatul A’yan yang menerangkan, setiap tahun orang berbondong-bondong datang ke kota Erbil, Irak. Mereka datang dari Baghdad, Mosul, Jazirah, Sinjar, Nasibin dan kota-kota yang lain. Tamu yang datang bukan hanya dari kalangan orang awam, tetapi juga para fuqaha (ahli fikih), kaum sufi, ahli qiraat, dan penyair.

Sekelumit tentang kisah perayaan maulid di atas memberikan pencerahan kepada umat Islam akan pentingnya syiar Islam dengan cara membaca shalawat bersama-sama. Lebih dari itu, keutamaan membaca shalawat kepada baginda Nabi memiliki keagungan dan manfaat luar biasa di dunia maupun di akhirat.

Membaca shalawat secara jamaah adalah bagian mentradisikan cinta Nabi kepada diri pribadi dan masyarakat. Berjamaah berarti memasyarakatkan shalawat dan dzikir sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi dan dakwah Islam.

Tapi, bukankah itu bentuk bid’ah? Kenapa mencintai Rasul disebut bid’ah hanya karena dengan cara berjamaah? Bukankah Rasul Rasulullah bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai aku dijadikan orang yang paling ia cintai lebih dari anaknya, lebih dari orang tuanya, dan juga lebih dari seluruh manusia di atas planet ini”. (Muttafaq ‘Alaih).

Jika ekspresi cinta itu ditularkan kepada orang lain dan mengajak orang lain mencintai Nabi melalui shalawatan bukankah itu bentuk dari cara mencintai Nabi dan mengajak orang lain mencintai Nabi. Jika ada perkataan shalawat berjamaah adalah bid’ah mungkin cocok untuk mengulangi perkataan khalifah Umar merespon tarawih berjamaah : Ini sungguh bid’ah paling baik yang ada dalam umat Islam.

Baca Juga:  Salafi-Wahabi Dan Terorisme ( 1 ) : Salah Paham Wahabi Terhadap Nash adalah Akar dari Terorisme

Namun, untuk menegaskan mereka yang tidak suka mentradisikan cinta Rasul dan memasyarakatkan shalawat ada baiknya untuk melihat hadist berikut.  Ibnu Umar meriwayatkan sebuah hadis dari Rasulullah, beliau bersabda, “Hiasilah majelis-majelis kalian dengan bershalawat kepadaku. Karena shalawat kalian kepadaku adalah cahaya bagi kalian di hari kiamat”. (HR. al Dailami).

Pada hadis yang lain Rasulullah bersabda, “Tidaklah sekelompok orang duduk disuatu tempat di mana mereka tidak berdzikir kepada Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi Muhammad kecuali hal itu menjadi kerugian bagi mereka di hari kiamat meskipun mereka masuk surga karena besarnya pahala”. (HR. Ahmad).

Dua hadis di atas, bila dilihat dari konteksnya yang umum, membaca shalawat secara berjamaah bukan sesuatu yang dilarang. Tradisi perayaan maulid Nabi yang dilakukan oleh para ulama dengan membaca al Qur’an, shalawat Nabi dan sejarahnya menunjukkan kebolehan membaca shalawat dengan cara berjamaah.

Allah memerintahkan umatnya untuk memanjatkan shalawat kepada Nabi Muhammad. Begitu pun Rasulullah telah memberikan nasehat penting untuk mencintai Nabi. Jika ekspresi cinta itu diwujudkan dengan ragam bentuk shalawatan dan mengikuti nasehat Rasulullah bukankah itu adalah bagian menghidupkan sunnah Rasul.

Bershawalat berjamaah adalah mentradisikan cinta Nabi. Memasyarakatkan cinta Nabi adalah dengan cara memeriahkan dengan semarak bukan dengan cara sembunyi-sembunyi dan menyendiri. Muhammad adalah Nabi agung yang seluruh semesta bergembira akan kehadirannya.

Dari pada mengajak anak-anak dan keluarga untuk berdemo, kenapa tidak mengajak anak-anak dan keluarga untuk menghadiri majlis shalawatan. Bukankah itu lebih mulia tujuannya dan mendidik cinta Rasul sejak dini.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

buya syafii

Buya Syafii Maarif; Cendikiawan Muslim dan Ulama yang Toleran

“Islam yang asli alias original adalah Islam yang santun dan lembut, Islam yang ramah, Islam …

murtad

Murtad Kemudian Islam Lagi, Apakah Shalatnya Wajib Qadha’?

Kita mendapat kabar Nania Yusuf alias Nania Idol yang murtad pada tahun 2009 lalu kini …