maulid nabi
maulid nabi

Memperingati Maulid Nabi Salah Satu Bekal Terbaik Menjemput Akhirat

“Seseorang bersama yang ia cintai dan engkau bersama orang yang kau cintai,” (HR at-Tirmidzi No.2307).

 

Ekspresi seseorang mencintai kekasihnya berbeda-beda. Namun semua dilakukan karena rasa cinta. Begitu pun mencintai Rasulullah. Ada yang mencintainya dengan meneladani semua sunahnya. Ada pula yang selalu berhias shalawat kepadanya. Ada pula yang merasa bangga tak terhingga dengan mensyukuri kelahirannya.

Banyak ragam mengekspresikan cinta tidak perlu diperdebatkan apalagi dibid’ahkan. Mencintai Rasulullah tidak perlu ditanyakan dalilnya. Rasulullah sudah menjanjikan umatnya bahwa mencintainya akan dikumpulkan kelak di akhirat bersama orang yang dicintai. Siapa yang tidak bahagia dengan janji dikumpulkan bersama Rasulullah?

Sahabat Anas bin Malik yang meriwayatkan hadits tersebut di atas juga sangat bergembira dengan berkomentar, “Aku belum pernah melihat orang Islam begitu bahagia setelah masuk Islam, seperti saat kami mendengar pernyataan Nabi bahwa siapapun yang mencintai Nabi maka ia akan digabungkan bersama beliau pada Hari Kiamat.”

Bekal terbaik di hari kiamat adalah mencintai Rasulullah. Inilah sejatinya asbabul wurud dari hadist tersebut. Seorang Arab Badui yang bertanya tentang hari kiamat. Rasulullahpun menjawab bahwa kiamat itu rahasia Allah. Manusia hanya perlu persiapan. Rasulullah bertanya balik kepada badui tersebut “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya? Kata Rasulullah lagi.

“Demi Allah, aku tidak mempersiapkan amal shalat atau puasa yang banyak. Aku hanya mencintai Allah dan Rasul-Nya,” kata orang Badui itu. “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya? Kata Rasulullah lagi. “Demi Allah, aku tidak mempersiapkan amal shalat atau puasa yang banyak. Aku hanya mencintai Allah dan Rasul-Nya,” kata orang Badui itu. Rasulullah pun kemudian berkata, “Kau akan dikumpulkan dengan orang yang kau cintai.”

Baca Juga:  4 Manfaat Perayaan Maulid Nabi bagi Umat Islam

Dalam konteks ini, hadist itu berbicara dalam konteks keyakinan bahwa persiapan bekal iman adalah mencintai Allah dan Rasulullah sehingga akan dikumpulkan di akhirat dengan yang dicintai. Seorang yang mencintai Rasulullah akan selalu dihiasai dengan perilaku yang baik dengan meneladani yang dicintai.

Maulid sebagai Ekspresi Cinta Rasul

Di kisah yang lain ada seorang badui sedang tawaf di depan ka’bah sambil berdzikir dengan khusu’ Ya Karim, Ya Karim, Ya Karim. Dia tetap fokus dan tidak menyadari ada Rasulullah yang berada di belakangnya yang menirukan dzikir sang badui. Ia pun merasa terganggu dengan dzikir Rasulullah yang seolah mengejeknya.

Ia mulai gerah dan membentak,“Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokku, karena aku ini adalah orang Arab Badui? Kalau bukan karena ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”

Rasulullah hanya tersenyum dan bertanya : “Apakah engkau tidak mengenali Nabimu, wahai orang Arab ?”. Orang Badui tersebut menjawab singkat “Tidak.” “Jadi bagaimana kau mengimaninya ?” tanya Rasulullah.

Menjawab pertanyaan Rasulullah, orang badui itu menjawab “Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan sabdanya, sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya,”. Mendengar pernyataan yang dikatakan orang badui tersebut, maka Rasulullah berkata “Wahai orang Arab, aku ini Nabimu di dunia dan pertolonganmu di akhirat.”

Inilah saya kira generasi kita saat ini. Kita teramat sedih tidak pernah bertemu dengan Rasulullah karena tidak satu generasi. Betapa anggunnya akhlak mulia beliau dan sangat beruntung mereka para sahabat yang bisa bertemu langsung dengan beliau.

Namun, kemantapan iman dan kecintaan kita tidak pernah putus kepada Rasulullah. Beliau telah menjanjikan dirinya sebagai teman kelak di akhirat dengan rasa cinta kita. Mungkin kita merayakan maulid Nabi dengan khusu’ dan penuh cinta sementara kita tidak pernah sekalipun bertemu dengan Rasulullah. Tapi kecintaan kita ekspresikan dengan suka cita dan syukur dianugerahi Nabi yang sangat mulia.

Baca Juga:  Prediksi Lailatul Qadar Berdasarkan Hadist Nabi

Maulid Nabi hanya salah satu bentuk ekspresi cinta kita sebagai umat yang tidak pernah berkumpul semasa dengan beliau, tetapi sangat mensyukuri kehadirannya. Bahkan terkadang kita saking cinta dan antusiasnya merayakan sebulan penuh dengan shalawat dan membaca sirahnya.

Peringatan Maulid merupakan pelembagaan nilai cinta hasil kreasi terbaik generasi emas umat Islam. Sungguh ini menjadi media yang sangat baik untuk mengingatkan kepada kita untuk selalu mencintai Rasulullah. Karena selalu mencintainya tanpa pernah melihat wajahnya, alangkah bahagianya jika mendapatkan sapaan Nabi : “Wahai orang Indonesia, aku ini Nabimu di dunia dan pertolonganmu di akhirat.”

Bagikan Artikel ini:

About Farhah Salihah

Avatar of Farhah Salihah

Check Also

berdoa bersama ketika wabah

Bukankah Lebih Baik Berkerumun dan Berdoa Bersama Ketika Wabah?

Ada hal menarik dari rangkain wabah covid-19 yang tidak kunjung selesai ini. Frustasi, panik dan …

Haji di tengah pandemi

Batal Haji Salah Siapa? Butuhkah Solusi Khilafah?

Suatu kebijakan pemerintah tentu mempertimbangkan mashlahah dan mudharat bukan sekedar didasarkan pada kepentingan yang lain. …