kesederhanaan KH hasyim asyari

Meneladani Kesederhanaan KH Hasyim Asy’ari

Sudah jamak diketahui bahwa sifat kesederhanaan merupakan salah satu ciri hidup para nabi dan rasul, kekasih Allah, wali, serta para ulama yang melakoni hidup dengan kesalehan. Pun, termasuk manifestasi dari kerendahan hati seseorang. Karenanya, Islam menaruh perhatian sangat luar biasa terhadap sifat ini. Sebab, dengan sifat tersebut seseorang bisa terhindar dari kesombongan, merendahkan orang lain, dan sifat tercela lainnya.

Karenanya, tidak sedikit para ulama terdahulu yang menjadikan tema kesederhanaan sebagai bagian dari nasihat-nasihat mereka dalam berdakwah. Itu artinya, menjadi sosok pribadi yang sederhana bagi kebanyakan orang tidaklah mudah. Sehingga, orang yang menghendaki hidupnya dengan perilaku kesederhanaan tentu memerlukan (harus melakukan) banyak latihan dan pengorbanan yang sangat luar biasa. Apalagi, bagi orang yang kehidupannya terbiasa bergelimang harta, memiliki jabatan, dan lain sebagainya. Begitu pula dengan Kiai Hasyim Asy’ari.

Selain sebagai seorang tokoh ulama, pengasuh pesantren, pejuang kemerdekaan Indonesia dan pendiri Nahdlatul Ulama (NU), ia juga merupakan sosok yang dikenal sebagai “hamba ilmu” yakni orang yang tidak pernah merasa puas dalam mencari ilmu. Alhasil, pada masa mudanya, hidup Kiai Hasyim Asy’ari banyak dihabiskan untuk belajar dari pesantren ke pesantren hingga belajar ke Makkah yang diyakini sebagai salah satu tempat terbaik menuntut ilmu kala itu, khususnya ilmu di bidang keagamaan.

Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila Kiai Hasyim Asy’ari banyak digandrungi oleh para ulama, cendekiawan, akademisi dan generasi setelahnya sampai saat ini. Sehingga, seluk-beluk hidupnya banyak dijadikan inspirasi dan panutan/teladan bagi kita semua dalam melakoni kehidupan sehari-hari, baik dari perilaku, tutur kata dan bahkan sepak terjangnya dalam menyebarkan agama Islam.

Di antara salah satu perilaku atau sifat yang patut dijadikan teladan dari Kiai Hasyim Asy’ari, adalah ihwal kesederhanaannya dalam melakoni kehidupan. Dikutip dari buku KH. Hasyim Asy’ari Sehimpun Cerita, Cinta, dan Karya Maha Guru Ulama Nusantara karya Abdul Hadi, pada masa Kiai Hasyim, mode transportasi umum yang banyak digunakan oleh masyarakat selain kuda adalah dokar. Bahkan, dokar dapat dikatakan sebagai sarana transportasi paling populer kala itu.

Baca Juga:  Tasawuf Modern HAMKA

Karenanya, Kiai Hasyim Asy’ari juga kerap kali menggunakan dokar untuk berkeliling kampung atau menghadiri acara tertentu di desanya. Bahkan, dari saking populernya Kiai Hasyim hingga memiliki dokar pribadi yang beliau gunakan tatkala hendak bepergian setiap harinya. Ada satu kisah menarik yang patut dijadikan inspirasi dari Kiai Hasyim adalah ihwal kesederhanaannya dalam menjalani kehidupan.

Alkisah, pada suatu hari Kiai Hasyim Asy’ari diundang ke sebuah acara pertemuan (rapat) dan beliau dijemput dengan mobil. Alih-alih menyambut kedatangan mobil yang hendak digunakan menjemput beliau, namun dengan tuturnya yang santun Kiai Hasyim menolak untuk menggunakan mobil tersebut sembari berkata; sangat berlebihan jika mobil sekadar digunakan untuk menjemput dirinya sendiri. Kemudian beliau memilih menaiki dokar miliknya sendiri.

Pun, yang tak kala menariknya adalah sifat demikian sudah melekat pada diri Kiai Hasyim sejak masih kecil. Terbukti, beliau terbiasa memberikan barang-barang kepunyaan untuk teman-temannya yang sangat membutuhkan. Bahkan, baju baru Kiai Hasyim yang dibelikan oleh Kiai Asy’ari untuk dipakai pada saat hari raya, oleh beliau malah diberikan kepada temannya.

Dengan sikapnya demikian, maka tidak mengherankan apabila Kiai Hasyim sangat dicintai teman-temannya. Sifatnya yang tidak egois dan sederhana menjadikan beliau senantiasa dikelilingi dan cintai serta dihormati oleh teman sebayanya. Tampaknya, sifat ini melekat dalam diri Kiai Hasyim hingga tumbuh menjadi pengasuh pesantren, ulama, dan tokoh nasional.

Oleh karena itu, sebagai seorang ulama tentu saja Kiai Hasyim Asy’ari memahami betul akan posisinya sebagai “pewaris nabi”. Sehingga, beliau kerap kali memberikan keteladanan yang baik kepada masyarakat, salah satunya adalah dengan sifat kesederhanaan, kedisiplinan, tidak egois dan ketulusannya dalam mengabdi serta melayani umat. Pun juga, beliau merasakan betul penderitaan masyarakat dengan berusaha menjaga dan mengayomi mereka hingga akhir hayatnya. Itulah alasannya, kendatipun beliau termasuk seseorang yang mampu secara materi, tetapi kehidupan sehari-harinya selalu diwarnai dengan kesederhanaan dan tetap bersahaja.

Baca Juga:  Kiai Sepuh Minta Muktamar ke-34 NU Digelar Tahun Ini

Demikianlah, seluk beluk kehidupan Kiai Hasyim Asy’ari yang penuh dengan kisah inspirasi dan patut kiranya dijadikan teladan bagi kita semua dalam melakoni kehidupan sehari-hari, khususnya sifat kesederhanaan beliau. Wallahu A’lam

Bagikan Artikel ini:

About Saidun Fiddaraini

alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, dan sekarang mengajar di PP Zainul Huda, Arjasa Sumenep.

Check Also

wafatnya khalifah ustamn

Kisah Pilu Wafatnya Khalifah Ustman bin Affan

Ustman bin Affan merupakan khalifah (ketiga) umat Islam setelah Umar bin Khattab. Dia juga termasuk …