Mengambil Hikmah dari Kisah Nabi Yusuf

0
513

Tidak banyak dari kisah seseorang dalam Qur’an yang diceritakan secara kronologis dari usia muda hingga dewasa. Qur’an mengambil plot cerita Nabi Yusuf teramat istimewa. Dari penamaan surat hingga cerita yang runut dengan penuh haru dan iba hingga rasa bahagia.

Lalu, apa sebenarnya yang ingin diceritakan Qur’an tentang kisah Nabi Yusuf? Nabi Yusuf merupakan anak ke dua belas Nabi Yaqub bin Ishaq bin Ibrahim. Ia merupakan putra yang paling disayangi Yaqub, dan memiliki adik bernama Bunyamin. Nabi yusuf memiliki karunia wajah yang sangat tampan dan juga pandai menafsirkan mimpi.

Kisah Qur’an memulai dengan cerita Yusuf pada ayat 4-6 :

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku”. Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”. Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta’bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Perlakuan Nabi Yaqub yang mengistimewakan anak dari Rahilpun membuat kesebelas saudaranya menjadi iri. Mereka semua berkumpul, kecuali Bunyamin untuk mendiskusikan cara membuat bapaknya dapat menyayangi mereka layaknya seperti Yusuf. Ada yang mengusulkan membunuhnya dan ada usulan mengasingkannya. Dari diskusi tersebut diambillah kesepakatan bahwa jalan satu-satunya adalah Yusuf harus dibuang ketempat yang jauh supaya hilang dari pandangan Nabi Yaqub.

Maka datanglah saudara-saudara Yusuf kepada bapaknya untuk meminta izin hendak membawa Yusuf untuk berburu, namun Nabi Yakub tidak mengizinkan permintaan mereka, karena menimbang dari firasat mimpi yang didapatkan Yusuf. Namun karena janji mereka untuk senantiasa manjaga Yusuf, akhirnya Yaqub memberikan izin kepada mereka untuk membawa Yusuf berburu.

Di dalam alquran, Allah menjelaskan dengan firman-Nya surah Yusuf ayat 11-14 yang artinya: “Mereka berkata: “Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang menginginkan kebaikan baginya. Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, sesungguhnya kami pasti menjaganya.” Berkata Yakub: “Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedang kamu lengah kepadanya.” Mereka berkata: “Jika ia benar-benar dimakan serigala, sedang kami golongan (yang kuat), sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi.”

Merekapun membawa Yusuf pergi jauh dari tempat tinggal mereka. Buah dari kesepakatan, mereka memasukkan Yusuf ke dalam sumur. Mereka ambil baju yang dikenakan oleh Yusuf dan mereka melumurinya dengan darah domba hasil buruan mereka. Kemudian, mereka semua pulang ke rumah bapaknya sambil berpura-pura menangis. Mereka berkata: “Hai bapak kami, sesungguhnya kami datang membawa berita duka tentang Yusuf. Yakni, ketika kami sedang bermain dengannya di suatu tempat, tiba-tiba datang seekor serigala dan langsung menerkam Yusuf. Barangkali engkau tidak percaya meskipun kami telah berkata sebenarnya.”

Allah Maha Adil dan Pelindung. Sungguh beruntung Nabi Yusuf, ia tidak celaka karena sumur tempat ia dibuang ternyata tidak terlalu banyak berisi air. Datanglah seorang musafir yang hendak membersihkan diri dan ingin meminum air dari sumur tersebut. Dimasukkannya timba untuk mengambil air dalam sumur tersebut, ketika ditarik dia merasakan beratnya air yang dia ambil, dan ternyata setelah timba itu sampai di ujung sumur, alangkah kagetnya musyafir tersebut. Ternyata ada anak kecil yang berparas tampan menggantung pada tali timbanya. Musafirpun: “Aduhai, alangkah gembiranya kita memperoleh anak yang rupawan ini.”

Musafir yang menemukan Nabi Yusuf merupakan seorang pedagang. Maka dibawanya Nabi Yusuf kecil menuju Mesir yang kemudian akan ia jual kepada seorang bangsawan berbangsa Qibti  bernama Futhifar. Futhifar adalah ketua polisi Mesir waktu itu. Futhifar amat gembira memperoleh seorang anak yang rupawan seperti Yusuf, karena dia sendiri kebetulan tidak mempunyai seorang anak pun. Maka Nabi Yusufpun diangkat sebagai anaknya serta dipelihara dengan baik sebagaimana anak kandungnya.

Nabi Yusuf tinggal bersama Futhifar hingga beliau dewasa. Di sana, yusuf bekerja dengan baik jujur dan cekatan. Oleh karenanya, ia pun diperlakukan dengan sangat baik. Bertahun-tahun ia tinggal di rumah Futhifar. Ia pun tumbuh dewasa dan diberikan oleh Allah sebuah ilmu yang cukup luas.

Berhasil Menghadapi Tragedi Fitnah

Kisah hidup Nabi Yusuf adalah cerita yang paling menyita Qur’an. Cerita ini diulas secara kronologis dari penderitaan Nabi hingga kesuksesannya dalam memimpin Mesir. Tetapi seorang yang tangguh akan melalui cobaan yang berat. Itulah kisah Nabi Yusuf

Berbagai ujian dan coba dihadapi dengan sabar dengan keteguhan Iman yang kuat. Fitnah dan cobaan dilalui dengan tegar. Fitnah muncul ketika ia dituduh ingin melakukan kemaksiatan kepada istri Futhifar. Allah memang menunjukkan sebuah kebenaran yang sesungguhnya. Namun, Nabi Yusuf memilih di dalam penjara akibat fitnah dari pada mengikuti kedzaliman.

Kesabaran Yusuf membuahkan hasil. Saat raja meminta untuk menafsirkan mimpinya, salah satu temannya yang di dalam penjara yang telah bebas menceritakan sosok yang bisa menafsirkan mimpi. Yusuf diberikan kesempatan menafsirkan mimpi sang raja.  

Singkatnya, karena keberhasilannya memberikan tafsir raja, ia dipercaya menjadi menteri yang mengurusi persediaan logistik kerajaan. Nabi Yusufpun tampll menjadi pemimpin yang mampu mengelola kesejateraan masyarakat Mesir.

Cerita ini menyiratkan banyak pelajaran penting. Qur’an menempatkan kisah ini secara utuh dalam surat Yusuf untuk memberikan gambaran adanya Nabi agung pada masa lalu. Nabi yang memimpin masyarakat dengan keadilan dan kesejateraan untuk warganya. Narasi Yusuf bukan hanya terdapat dalam Qur’an, tetapi juga menjadi cerita kalangan Yahudi di perjanjian Baru.

Banyak penafsiran tentang turunnya ayat ini (asbabun nuzul). Pendapat pertama adalah permintaan sahabat untuk sebuah cerita yang tidak membosankan, tetapi mengandung hikmah. Pendapat kedua sebagai pemenuhan orang yahudi yang ingin mengetahui versi Qur’an tentang Nabi Yusuf yang juga dipercaya dalam tradisi Yahudi.

Hikmah Qur’an tentu sangat luas. Kisah Yusuf bisa dipotret dalam cermin pemahaman dari berbagai sisi. Bisa dalam aspek keluarga untuk tidak memilih kasih sayang terhadap anak-anaknya sehingga bisa menimbulkan kecemburuan dan bencana. Bisa pula dalam keteguhan pemuda dalam menghadapi berbagai cobaan hidup dan iman.

Nabi Yusuf berhasil melewati berbagai tragedy dari di lempar ke jurang sumur akibat kecemburuan dan fitnah dari saudaranya. Nabi Yusuf juga tegas menghadapi fitnah wanita yang mengaguminya. Nabi Yusuf memilih menerima hukuman walaupun tidak salah demi menyelematkan kehormatannya.

Namun, Allah Maha Melihat keteguhan dan perjuangan seseorang. Nabi Yusuf diangkat derajatnya oleh Allah menjadi orang terpandang. Walaupun demikian, Ia suatu saat tidak pernah membalas dendam atas perlakukan saudaranya. Menjadi menang tidak menyebabkan Yusuf menjadi pembalas dendam atas derita yang diterima di masa lalu. Yusuf memilih memaafkan.