agama cinta
agama cinta

Menjaga Keamanan demi Keimanan adalah Bagian dari Menegakkan Syariat Islam

Memberlakukan syariat Islam bukan saja dengan memaksakan ajaran Islam berlaku di suatu daerah, tetapi menjamin umat Islam aman dan dakwah berjalan dengan baik adalah bagian dari syariat Islam. Pemberlakuan syariat Islam bukan sekedar dilihat secara formal aturan Islam bisa ditegakkan, tetapi adakah jaminan keamanan bagi masyarakat yang beriman. Di sinilah, aman dan iman adalah harus sejalan.

Pemikiran itulah sebenarnya formulasi ijtihadiyah yang dipegang oleh ulama Indonesia ketika menerima Pancasila. Jika menjadikan negara Indonesia menjadi negara Islam akan merusak keamanan umat Islam atau menutup ruang dakwah Islam di daerah yang lain yang memisahkan dari negara ini tentu itu akan lebih berdampak mudharat. Alih-alih syariat Islam akan tegak justru umat Islam akan berada di ruang yang tidak aman dan ruang dakwah akan semakin sempit.

Karena itulah, sesungguhnya sikap ekstremisme yang menginginkan aturan dan ajaran formal Islam ditegakkan di suatu daerah yang multi identitas justru menyempitkan ruang dakwah Islam. Pada saat yang lain, umat Islam juga tidak akan menemukan ruang keamanannya dalam mengekspresikan keimanannya.

Keimanan harus sejalan dengan keamanan. Tidak boleh keimanan bertabrakan dengan keamanan. Rasulullah akan memilih untuk mencari keamanan dalam mempertahankan keimanannya dengan cara hijrah karena keimanan tidak bisa dipaksakan dalam situasi yang tidak aman. Atas dasar itulah, sejatinya menegakkan dan menjamin keamanan adalah bagian dari menegakkan syariat Islam.

Apabila melihat tujuan syariat (maqasyidus asy-syariah) semuanya bermuara pada menjaga keimanan dan keamanan. Dimensi menjaga keimanan misalnya tercermin dalam tujuan menjaga agama (hifdz ad-din). Sementara selebihnya adalah menjaga keamanan seperti menjaga jiwa (hifdz an-nafs), akal (hifdz al-aql), nasab (hifdz an-nasl) dan harta (hifdz al-mal) adalah persoalan menjaga keamanan. Tidak akan ada jaminan hidup tenang yang melindungi jiwa, akal, keturunan dan harta tanpa adanya situasi aman.

Baca Juga:  Meninggalkan Keluarga untuk Dakwah, Bolehkah?

Artinya, sebagian besar tujuan syariat Islam adalah menjaga keamanan masyarakat yang juga menjadi instrument bagi terjaganya keimananan. Karena itulah, pelaksanaan syariat Islam melalui pemaksaan yang dapat menggangu keamanan juga tidak akan bisa diterima. Inilah mengapa alasan terkadang dalam konteks tertentu menjaga keamanan lebih didahulukan untuk menjaga keamanan.

Dalam hal tertentu mempertimbangkan keamanan suatu wilayah tentu saja lebih diutamakan. Karena itulah, ada kaidah pokok para ulama al aman qabla al iman, artinya keamanan didahulukan sebelum iman. Kaidah ini bukan dalam arti menomorduakan keimanan kepada Allah, tetapi seluruh ikhtiar menghadirkan keimanan tidak boleh merusak keamanan sosial masyarakat. Tidak ada alasan menegakkan keimanan dengan cara merusak keamanan masyarakat.

Aman dan iman adalah dua hal yang harus diperjuangkan bersama. Ulama Indonesia terdahulu sudah sangat memahami kaidah ini sehingga persoalan keamanan didahulukan untuk menjamin terpenuhinya keamanan masyarakat. Keamanan diutamakan karena mempunyai tujuan untuk jaminan keimanan yang sebebas-bebasnya. Jika tidak ada keamanan tentu akan terasa sulit untuk mengekspresikan keimanan.

Dan terpenting bahwak keimanan akan memunculkan keamanan. Orang beriman yang sejati tidak akan merusak keamanan. Keimanan dan keamanan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Jangan mengaku orang beriman jika tidak bisa berbuat aman kepada diri dan masyarakat.

Bagikan Artikel ini:

About Farhah Salihah

Avatar of Farhah Salihah

Check Also

berdoa bersama ketika wabah

Bukankah Lebih Baik Berkerumun dan Berdoa Bersama Ketika Wabah?

Ada hal menarik dari rangkain wabah covid-19 yang tidak kunjung selesai ini. Frustasi, panik dan …

Haji di tengah pandemi

Batal Haji Salah Siapa? Butuhkah Solusi Khilafah?

Suatu kebijakan pemerintah tentu mempertimbangkan mashlahah dan mudharat bukan sekedar didasarkan pada kepentingan yang lain. …