ramadan kareem
ramadan kareem

Tidak Ada Teror di Bulan Suci : Ramadan Bulan Keimanan, Keamanan dan Keselamatan

Bulan Ramadhan adalah madrasah tempat mendidik dan menempa keimanan umat Islam untuk lebih baik. Keluar dari madrasah ini akan menjadi orang yang bertakwa. Efek keimanan yang sempurna tidak hanya terjewantah saat Ramadhan saja, tapi selepasnya dan seterusnya ketakwaan itu akan menghiasi hidupnya. Dan, salah satu spirit Luhut bulan Ramadhan adalah terbebasnya manusia dari melakukan tindakan terorisme.

Dalam suatu hadis bila Nabi melihat hilal dia berkata, “Allah Maha Besar. Ya Allah jadikanlah bulan ini membawa keamanan (riwayat lain keberuntungan), keimanan, keselamatan, keislaman, petunjuk bagi amal yang Engkau suka dan restui. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah”. (HR. Al Darimi dan Ibnu Hinban).

Pada hadis yang lain Nabi berkata, “Ya Allah, jadikanlah bulan ini membawa keamanan, keimanan, keselamatan, keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah. Wahai bulan petunjuk dan kebaikan”. (HR. Ahmad dan Turmudzi).

Ini yang dikatakan Nabi saat melihat hilal bulan Ramadhan. Bila dicermati, ada harapan-harapan yang terlontar dari kata-kata Nabi tersebut, yaitu harapan untuk keamanan, keimanan, keselamatan dan keislaman. Tentang keselamatan dan keamanan manusia. Tenteram di dunia dan akhirat. Hal ini juga menjadi spirit luhur bulan Ramadhan.

Dengan demikian, terorisme merupakan tindakan yang mengabaikan harapan Nabi dan menodai spirit luhur bulan Ramadhan. Sebab, terorisme merupakan akibat dari kebodohan dalam memahami doktrin agama. Bila cerdas memahami dua hadis di atas, segera akan mengetahui bahwa terorisme itu sama sekali tidak direstui oleh Nabi dan dikutuk oleh agama Islam.

Terorisme berarti menebar rasa tidak aman kepada orang lain dan mengancam keselamatan. Sementara Nabi berharap dengan terlihatnya hilal bulan Ramadhan terciptanya suasana yang kondusif. Bebas dari keresahan dan rasa cemas akan keselamatan jiwa.

Baca Juga:  Tafsir Ngasal: Fenomena Darmo Gandul dan Gatolotjo Era Milenial

Maka, untuk menajamkan harapan Nabi dan spirit luhur bulan Ramadhan hendaklah umat Islam melakukan pagelaran ngaji dan mengkaji untuk mencerahkan kegelapan pikiran dan menyibak kesalahan pemahaman. Disamping berpuasa dan beribadah sunnah yang lain, di bulan Ramadhan hendaklah lebih meningkatkan geliat memahami agama.

Catatan pentingnya, supaya tidak terjebak pada kesalahan memahami ajaran agama seperti doktrin terorisme, maka harus hati-hati terhadap sumber ilmu yang diperoleh. Belajar agama harus kepada seorang guru yang memang memiliki kualifikasi keilmuan yang memadai dan memiliki runut sanad ilmu yang jelas.

Tidak cukup belajar agama dari dunia Maya. Harus memiliki guru yang memang ahli ilmu agama. Kata Imam Malik, siapa yang belajar ilmu hanya dari kitab, maka akan banyak salahnya daripada benarnya. Maksud Imam Malik disini adalah kitab yang memang memiliki kompetensi yang dikarang oleh para ulama. Apalagi kalau hanya belajar agama dari karya-karya kelasa dua, seperti terjemahan dan buku-buku. Lebih parah lagi kalau yang dijadikan guru juga orang yang bermodal buku-buku dan terjemahan.

Pangkal kesesatan adalah kesalahan memahami ajaran agama. Dan itu nyata sejak dulu. Ibnu Muljam misalnya, gegara salah memahami ayat jihad memandang Ali bin Abi Thalib sebagai seburuk-buruk manusia sehingga harus dibunuh. Padahal Ibnu Muljam adalah seorang ahli ibadah dan ahli membaca al Qur’an.

Semestinya ini menjadi pelajaran berarti bukan malah diikuti. Terorisme adalah mengikuti jejak langkah Ibnu Muljam, dan lebih umum kaum Khawarij yang salah memahami ajaran agama. Karena itu, Ramadhan sebagai momen tahunan hendaknya dijadikan kesempatan memperbaiki pemahaman agama yang salah.

Dan, dunia tanpa terorisme merupakan harapan Nabi yang tercermin dari doa beliau ketika melihat hilal bulan Ramadhan dan spirit luhur bulan Ramadhan.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

anal seks

Fikih Berbicara Anal Seks

Ramai publik membicarakan hubungan ranjang yang abnormal dan tidak semestinya. Ya, anal seks lagi hebohnya …

mahasiswi taliban

Haruskah Memisahkan Laki-laki dan Perempuan dalam Majelis Ilmu?

Taliban, penguasa baru Afghanistan melalui Menteri Pendidikan Tinggi Abdul Baqi Haqqani mengeluarkan dekrit, mahasiswi dapat …