mewariskan tauhid
mewariskan tauhid

Mewariskan Tauhid Sejak Dini dengan Cara yang Gembira

Pikiran orang tua seringkali dihinggapi oleh kecemasan akan masa depan anak keturunannya. Bagaimana agar kelak anak mendapatkan pendidikan terbaik dan terjamin hingga jenjang tinggi. Bagaimana kelak anak mendapat pekerjaan dengan honor yang besar sehingga bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan hidupnya. Bagaimana agar anak bisa mandiri dan sejahtera setelah orang tua tiada. Dan bagaimana lainnya yang tertumpu pada hal – hal yang bersifat materialistik dan terukur.

Fokus utama orang tua pada perihal tersebut merupakan suatu keniscayaan. Salah satu bukti kasih sayang dan tanggung jawab orang tua dalam membesarkan putra-putrinya adalah dengan memastikan kebutuhan materialnya terpenuhi. Namun, sebagai seorang muslim, ada satu aspek penting yang tak kalah penting yang harus menjadi fokus utama dalam pengasuhan anak anak kita. Aspek itu adalah tauhid.

Secara umum, bertauhid dipahami dengan berikrar bahwa tiada Tuhan selain Allah dengan mengucap kalimat Lâ ilâha illallâh dengan penuh keyakinan dalam hati dan pikiran. Indikator dari tauhid adalah hubungan baik antara hamba dengan Penciptanya yang terefleksikan dengan hubungan baik antara seorang hamba dengan sesamanya dan seorang hamba dengan alam disekitarnya.

Dalam Al- Qur’an, dikisahkan bagaimana Luqman, seorang yang diakui kebijaksanaannya oleh Alloh, memberi nasihat kepada anaknya tentang pentingnya memegang teguh tauhid. Dalam Surat Luqman ayat 13 diceritakan :

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

Menanamkan Tauhid Sejak Dini

Nilai tauhid hendaknya ditanamkan pada anak sejak sedini mungkin. Sebab, penanaman tauhid dalam diri seorang anak membutuhkan proses yang tidak sebentar. Bahkan berlangsung seumur hidup.

Sejak bayi dilahirkan, sang ayah selazimnya mengikrarkan kalimat tauhid di telinga kanan kiri sang bayi. Ritual ini menjadi penanda perjalanan seorang hamba dalam mengimani dan meyakini sepenuh hati bahwa hanya Alloh satu satunya Dzat yang wajib disembah seumur hidupnya.

Tidak berhenti sampai disini, peran orang tua dalam menanamkan nilai ketauhidan terus berlanjut. Memasuki usia balita, orang tua dapat mengenalkan tauhid kepada putra putrinya dengan berbagai macam pendekatan. Pendekatan yang pertama adalah melalui pendekatan spiritual.

Anak-anak akan menyerap keyakinaan dan nilai nilai sebagaimana yang diyakini dan dijalani oleh orang tuanya. Ketika orang tua senantiasa memegang teguh nilai tauhid dalam segala lini kehidupan, maka kemungkinan besar nilai tauhid juga akan turun dan diserap dalam benak anak – anaknya dan membentuk pondasi spiritualnya.

Pendekatan yang kedua yakni melalui memberi tauladan yang baik. Pada fase balita, seorang anak belum bisa mengfungsikan daya pikir dan nalarnya dengan optimal. Anak balita akan cenderung meniru apa apa yang dikerjakan oleh para dewasa di sekitarnya. Fase ini adalah fase yang paling ideal untuk memberikan tauladan dan menanamkan kebiasaan baik.

Tauladan baik dalam kaitannya dengan laku ketauhidan misalnya, membiasakan diri sholat tepat waktu dan berjamaah, melafalkan kalimat tauhid dengan khusyu’ dan ta’dzim baik sebagai wirid setelah sholat fardlu maupun dalam berbagai kesempatan yang baik, dan lain sebagainya. Berbagai kebiasaan itu akan ditangkap oleh anak dan dengan kemauannya dia akan meniru dan mengulanginya.

Ketika sang anak meniru dan mampu mengerjakan sholat dengan baik dan benar, maka seyogyanya orang tua memberikan apresiasi kepada anak dan menunjukkan kegembiraan akan capaian sang anak. Contohnya dengan memuji dan menghadiahi apa yang menjadi kesukaannya. Hal ini dilakukan bukan dalam rangka memanjakan, tetapi dilakukan dengan kesadaran ketauhidan, yakni agar anak dengan gembira mau menjaga dan merawat nilai tauhid terus merasuk ke dalam hati dan pikiran mereka  sehingga kelak mereka akan tumbuh menjadi muslim yang menghiasi diri dengan laku ketauhidan.

Bergembira dan mengapresiasi anak dalam capaian capaian spesial mereka, bukanlah tindakan berlebihan. Apresiasi tersebut merupakan bentuk kasih sayang dan cara efektif dalam membentuk memori yang baik dan menyenangkan tentang orang tua dalam benak anak – anaknya. Sisi baik lainnya adalah, timbulnya ikatan kepercayaan antara anak dan orang tua yang merupakan satu landasan penting dalam hubungan keluarga.

Hal ini senada dengan apa yang disampaikan KH Bahauddin Nur Salim dalam salah satu keterangannya, “Jangan sampai anak itu punya kenangan buruk kepada orang tua. Nonton teve, haram. Bermain, haram. Apa-apa dikit haram. Sehingga kenangan anak kepada bapaknya atau orang tuanya itu kenangan buruk. Kenangan traumatik. Dengan begitu, mereka justru mengidolakan orang lain. Maka itu, gembirakanlah mereka, dengan konteks memberi mereka hadiah atas hal baik yang sudah mereka lakukan.”

Pada kesimpulannya, tugas orang tua tidaklah terputus pada memenuhi kebutuhan duniawi sang anak, tetapi juga memenuhi kebutuhan ukhrowinya dengan pertama tama memperkanlkan nilai tauhid pada anak dari usia sedini mungkin. Internalisasi nilai tauhid pada anak hendaknya dilakukan dalam suasana yang riang gembira. Sehingga anak akan melakukannya dengan senang hati dan tanpa paksaan. Hal ini juga menjadi manifestasi dari salah satu hadits nabi tentang bersikap baik terhadap anak :

أكرِموا أولادَكُم و أحسِنوا آدابَهُم.

“Hormatilah anak-anak kalian dan didiklah tata krama mereka dengan baik. (‘Awali al-Laali al-Aziziyah Fi al-Hadis ad-Diniyah, Mohammad bin Zainuddin, jilid 1, hal 254, hadis 11)”

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Check Also

Menag Nasaaruddin di Konferensi Internasional di Mesir copy

Bicara di Forum Internasional, Menag Tekankan Agama sebagai Arah Kemajuan Modern

Jakarta – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa agama memiliki peran strategis sebagai kompas …

Masjid Al Ikhlas PIK 2 ok copy

Kehadiran Masjid Al Ikhlas PIK 2 Simbol Penguatan Toleransi dan Rekatkan Harmoni dalam Keberagaman

Jakarta – Kehadiran Masjid Al-Ikhlas PIK 2 di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, dinilai …