ilustrasi
ilustrasi

MUI Himbau Masyarakat Waspada Informasi di Medsos Guna Cegah Terorisme

JAKARTA – Radikalisme menjadi satu virus yang dapat menjangkiti siapa saja, oleh karena itulah Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol. Dr. Boy Rafly Amar menyebutkan bahwa radikalisme seperti virus Covid- 19. Siapa saja jika tidak hati-hati akan dapat terpapar. Penyebaran paham radikal menjadi semakin mudah dengan mudahnya juga masyarakat menggunakan media sosial, karena kelompok radikal juga menyebarkan pahamnya melalui media sosial.

Senada dengan itu, Pengurus Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme (BPET) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Makmun Rasyid mengajak seluruh masyarakat Indonesia waspada terhadap informasi yang beredar di media sosial guna mencegah penyebaran intoleransi, radikalisme, dan terorisme.

Masyarakat perlu waspada terhadap konten yang memuat narasi bersifat memecah-belah persaudaraan, kebinekaan, dan menghambat kemajuan bangsa, kata Makmundalam video singkat yang diunggah Humas Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam akun YouTube, seperti dipantau di Jakarta, dan dikutip dari laman republika.co.id Senin (27/6/2022).

“Narasi-narasi yang ada di medsos, yang itu bisa membuat kita jauh atau merobek tali persaudaraan, tali kebinekaan, kemudian aspek-aspek yang menjadi kendala di dalam memajukan bangsa ini, harus kita waspadai bersama,” katanya.

Dia juga menekankan pada dasarnya seluruh elemen masyarakat, tanpa terkecuali, memang sepatutnya terlibat dalam upaya mencegah penyebaran dan menanggulangi intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Pencegahan dan penanggulangan itu, lanjutnya, perlu dilakukan oleh seluruh elemen masyarakat Indonesia karena intoleransi, radikalisme, dan terorisme dapat diibaratkan sebagai virus yang masuk ke dalam tubuh, namun tidak disadari oleh manusia.

“Ini (intoleransi, radikalisme, dan terorisme) ibarat virus yang kalau masuk ke dalam tubuh kita, kita tidak menyadarinya,” tambahnya.

Oleh karena itu, Makmunmeminta masyarakat selalu mengecek kembali kebenaran dan informasi yang mereka terima saat penyebaran intoleransi, radikalisme, dan terorisme kerap dilakukan kelompok radikal atau esktremlewat media sosial. Dia juga mengimbau masyarakat agar segera menjauhi informasi yang terbukti memuat narasi memecah persatuan bangsa Indonesia, seperti narasi tentang anti-Pancasila, antidemokrasi, antikebinekaan, dan antitoleransi.

“Ketika menerima informasi terkait, misalnya anti-Pancasila, antidemokrasi, antikebinekaan, antitoleransi, maka itu bagaimana caranya kita jauhkan dan singkirkan; karena itu bisa menjadi virus untuk diri kita dan kita tidak menyadarinya. Itu akan membuat kita naik ke tahap berikutnya, yaitu radikal di dalam tindakan,” ujar Makmun.

 

 

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Check Also

Ratusan eks anggota NII Garut kembali baca dua kalimat syahadat dan ikrar setia kembali ke NKRI

Tobat, Ratusan Eks NII Garut Baca Syahadat Lagi dan Ikrar Setia Kepada NKRI

Garut – Ratusan eks pengikut Negara Islam Indonesia (NII) di Garut, Jawa Barat, melakukan pertobatan …

penceramah radikal

Jangan Heran Sudah Diprediksi Nabi, Sering Bikin Gaduh dengan Fatwa tanpa Ilmu

Terkadang kita susah membedakan antara ulama yang fasih ilmu fikih dengan hanya penceramah. Banyak pula …

escortescort