Takdir

Di dalam kitab al-Hikam karangan Syaikh Ibnu Atha’illah terdapat untaian mutiara yang bunyinya :

سَـوَابِـقُ الْهِمَمِ لاَتَخـْرِقُ أَسْوَارَ اْلأَقْدَارِ

“Menggebunya semangat itu tidak dapat menembus tembok atau benteng takdir”.

Angan-anganmu yang sudah ada itu tidak bisa mengalahkan ketentuan takdir Allah. Jika Allah telah menetapkan satu perkara maka perkara tersebut pasti terjadi ataupun sebaliknya. Ketahuilah bahwa jika seluruh umat ini bersatu untuk memberimu manfaat dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan kepadamu. Dan jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan kepadamu.

Jadi, ketika ada orang bahkan ribuan orang yang ingin menyelakakan kita. Jika Allah tidak berkehendak maka kita tidak akan celaka. Begitu pula sebaliknya.

Meskipun dengan perkembangan sains dan teknologi yang luar biasa dahsyat, manusia merasa bisa melakukan apa saja. Ia merasa dirinya sebagai the creator of his/her own destiny. Ia bisa menjadi pencipta takdir dan nasibnya sendiri. Hal itupun tidak akan dapat merubah takdir, malahan bisa berubah menjadi kesombongan yang ada pada dirinya

Apakah pernyataan Syaikh Ibnu ‘Atha’illah tentang ini seolah-olah berbau fatalistis, menyerah pada takdir, ketetapan Tuhan. Benarkah?

Itu tidak Benar. Percaya pada takdir tidak menafikan pentingnya dimensi usaha atau ikhtiar pada manusia. Sebagai subjek yang bisa bertindak, manusia tentu harus memiliki kehendak untuk berbuat dan mengubah sesuatu.

Tetapi kehendaknya manusia biasanya bertabrakan dengan externalities yaitu kondisi-kondisi di luar yang tak sepenuhnya ada di dalam kontrol kita, kata lainnya masih dikontrol oleh takdirnya Allah yang maha menentukan segalanya.

Contohnya : Pemerintah kita berusaha keras untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi agar tercipta lapangan kerja bagi rakyat. ini namanya ikhtiar.

Tetapi ada kondisi eksternal, seperti situasi ekonomi global, yang tak sepenuhnya ada pada kontrol pemerintah. Keadaan domestik memang relatif bisa dikontrol oleh pemerintah; tetapi situasi global, jelas tidak. Sebab, itu masuk dalam kawasan externalities, kondisi luaran. Itulah kira-kira, takdir.

Contoh lainnya : Ketika kita ingin berangkat ke kampus di situ terdapat ikhtiar. Namun, ketika diperjalanan terjadi kecelakaan yang menyebabkannya di rawat di rumah sakit.

Jadi, manusia itu bukanlah seperti wayang. Karena wayang itu tidak punya kehendak sama sekali, kehendaknya sudah diatur oleh dalangnya.

Sedangkan manusia masih mempunyai ikhtiar atau usahanya dalam kehidupannya, meskipun ikhitiar tersebut masih di kontrol oleh Allah. Sehingga, manusia di perintahkan untuk berusaha dan berdo’a dalam setiap aktivitas kehidupan nya.

Kesimpulannya :

1. Manusia memiliki ikhtiar, namun ikhitiar tersebut masih didalam kontrol Ikhtiarnya Allah.

2. Jika Allah telah menetapkan sesuatu pada hambanya maka ketetapan tersebut pasti terjadi.

3. Manusia diperintahkan untuk selalu berikhtiar dan bertawakal kepada Allah.

4. Mengajarkan kepada kita agar tidak bersikap sombong dengan kemampuan atau kelebihan yang kita miliki, karena itu semua atas kehendak atau pemberian Allah.

5. Pengetahuan tentang ini jika dipahami dengan tepat bukan membawa kita pada sikap menyerah. Tetapi justru sikap realistis.

Kita berusaha, tetapi usaha kita ada batasnya. Tugas kita adalah mengetahui batas-batasnya kita itu, dan memaksimalkan usaha kita dalam batas-batas yang ada. Sesudah mentok batas, ya sudah, kita berhenti. Tidak gelisah yang membuat diri kita mengalami depresi.