pendidikan agama
pendidikan agama

Paham Radikal Menyusup ke Dunia Pendidikan, Inilah Cara Islam Mengatasinya

Lembaga pendidikan, utamanya yang berbasis Islam, seyogyanya mengemban misi mencetak generasi muslim yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia dan menjadi pribadi yang taat terhadap ajaran agama serta mempraktekkan nilai-nilai luhur agama dalam kehidupannya.

Lembaga pendidikan semestinya mengefektifkan fungsinya sebagai basis transformasi keilmuan yang mencerahkan dan memberi garansi untuk tidak memutus masa depan generasi bangsa akibat doktrin-doktrin pemahaman radikal yang menyusup ke dalam.

Agaknya, idealisme mulia dunia pendidikan Islam tersebut, pelan tapi pasti mulai tercoreng dengan adanya fakta-fakta tak terbantahkan. Apa itu? Menyusupnya paham radikalisme ke tubuhnya.

Usaha Salafisme Jihadis di Indonesia dilakukan dengan segala trik dan upaya. Satu diantaranya dengan menyasar lembaga pendidikan. Baik melalui program seperti rohis dan sejenisnya yang memang telah sisusupi anggota mereka. Atau, dan ini yang paling bahaya, guru yang telah terpapar paham radikalisme.

Tiga Kunci Pencegahan

Untuk mencegah hal ini sebenarnya tidak sulit kalau tiga komponen penunjang pendidikan bersinergi secara efektif. Yakni guru, orang tua, dan lingkungan. Kalau sinergisitas ini berjalan efektif, efektif pula melindungi anak dari paham radikalisme sebagai embrio terorisme.

Islam, untuk kepentingan ini sejatinya telah mengajarkan kepada orang tua bahwa mereka memiliki kewajiban mengajarkan anak-anak mereka hukum-hukum agama. Contoh sederhana, orang tua diharuskan mengajarkan dan mendorong anak untuk shalat pada usia sebelum baligh sebagai latihan.

Bahasa agama yang lain, “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” mengharuskan peran aktif orang tua dalam urusan pendidikan dan amaliah anak dan keluarganya supaya menjadi muslim yang taat. Ini juga menandaskan bahwa orang tua harus selektif memilih guru agama untuk anaknya.

Sementara guru, sebagai pemegang peran sentral transformasi keilmuan, hendaklah memahami betul doktrin radikalisme sebagai ideologi yang sangat berbahaya. Guru harus kaya literasi keagamaan sehingga mampu berdiri dengan kokoh di atas pondasi ajaran agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Baca Juga:  Neraka: Tempat Bagi Orang Bunuh Diri dan Membunuh Orang Lain

Dalam hal ini, kualifikasi guru sangat diperhatikan oleh agama Islam. Bukan sembarang orang melainkan mereka yang memiliki kecakapan pemahaman agama yang sempurna. Untuk itu guru harus tetap terus-menerus belajar ilmu agama meskipun telah menjadi guru. Hal ini seperti disampaikan oleh Imam Ghazali dalam risalahnya al Adab fi al Dien. Guru harus senantiasa mengasah kemampuan intelektual keagamaannya.

Dengan demikian, jauh kemungkinan guru akan terpapar paham radikalisme. Sebab paham radikalisme hanya efektif menipu mereka yang pemahaman ilmu agamanya lemah. Kelemahan inilah yang dimanfaatkan oleh penjahat berlebel salafisme jihadis. Bom bunuh diri, misalnya, yang nyata-nyata dilarang oleh agama tetap dilakukan.

Berikutnya adalah menjaga lingkungan pergaulan anak didik agar selalu steril dari virus paham radikal. Salah satunya memperhatikan dengan siapa mereka berteman.

Antisipasi pertemanan ini dibicarakan oleh Imam al Ghazali dalam kitabnya Bidayah al Hidayah. Beliau memberi tips mencari teman untuk dijadikan teman belajar atau untuk urusan agama dan dunia. Yaitu harus berteman dengan orang yang pintar, baik akhlaknya, taat menjalankan perintah agama, jujur dan tidak serakah terhadap materi dunia.

Ibnu Abbas bertanya kepada Nabi, “Siapakah teman-teman kita yang terbaik”? Beliau menjawab “Teman terbaik adalah teman yang dengan melihatnya mengingatkan kalian kepada Alalh, ucapannya menambah ilmu bagi kalian dan perbuatannya mengingatkan kalian pada akhirat”.

Tiga komponen ini, orang tua, guru dan lingkungan, bila bersinergi dengan baik tidak akan memberi celah kepada kaum Salafisme Jihadis untuk melakukan manuvernya mempengaruhi dan menipu dengan doktrin radikalnya. Sebab bila salah satunya terpapar akan mudah dikontrol oleh yang lain. Dan, sang anak selamat dari ancaman tersebut.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

muadzin

Apakah Muadzin Disyaratkan Punya Wudhu’?

Dari al Zuhri, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAw, “Tidak boleh adzan kecuali orang yang …

menjaga kebersihan masjid

Anjuran Menjaga Kebersihan Masjid dan Memberinya Pengharum

Bukan suatu alasan dengan mengatakan terpenting adalah menjaga banyaknya jamaah di masjid sementara menjaga kebersihan …