Photo 2020 06 26 15 01 52 (2)

Pancasila Dengan Nilai-nilai Agama Adalah Vaksin Menangkal Virus Radikal Terorisme

Jakarta – Pancasila sebetulnya sudah menjadi vaksin yang tepat bagi bangsa ini untuk menguatkan imunitas diri dari virus-virus pemahaman radikal terorisme. Karena di dalam Pancasila sendiri jika di istilahkan dalam bahasa agama ada sila Ketuhanan Yang Maha Esa yang sama artinya dengan tauhid yang dikenal dalam Islam.

Wakil Direktur Eksekutif International Conference of Islamic Scholars (ICIS),  KH. Khariri Makmun Lc, MA mengatakan bahwa sesungguhnya dalam sila-sila dalam dasar negara  Pancasila ini sudah tercermin nilai-nilai agama, khususnya agama Islam. Karena itu menurutbya tidak seharusnya agama dan Pancasila ini dibentur-benturkan.

“Di dalam Pancasila ada sila Ketuhanan Yang Maha Esa yang itu sebetulnya tauhid, kemudian sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab itu ‘al insaniyah’, kemudian sila Persatuan Indonesia yang di dalam Al Qur’an disebut ‘wa’tasimu bihablillahi jami’an wala tafarraqu’ yang artinya kita bersatu jangan tercerai berai. Lalu sila keempat itu permusyawaratan perwakilan itu ‘as-syura’ yang dalam Al Quran itu artinya Musyawarah. Juga sila Keadilan Sosial adalah ‘al adalah’ yang artinya keadilan” ujar KH. Khariri Makmun Lc, MA di Jakarta, Jumat (26/6/2020).

Dengan adanya penjelasan yang tercermin di dalam Al Quran tersebut maka Khariri menuturkan bahwa rumusan-rumusan Pancasila itu sudah selaras dengan maqashidu asy-shyariah dengan tujuan-tujuan agama.

“Yang tentunya kalau orang bisa memahami agama itu dengan benar, tentu tidak akan ada tuduhan antara Pancasila dengan agama atau dengan Al Qur’an itu sendiri,”tuturnya.

Selain itu menurut pria yang pernah menjadi Rais Syuriah NU di Jepang pada tahun 2004-2006 ini juga menyampaikan bahwa ketika seseorang bisa memahami agamanya dengan baik, maka secara otomatis orang tersebut akan bisa menerima Pancasila itu dengan benar.

Baca Juga:  UEA Minta 100 Hafidz Indonesia Untuk Menjadi Imam Masjid

“Yang terjadi sekarang kan dalam memahami ajaran agama saja  mereka banyak memiliki permasalahan, sehingga ketika agama disandingkan dalam konteks bernegara dan berpolitik ada miss, ada sesuatu yang hilang dari pemahaman mereka. Inilah kemudian yang memunculkan bibit intoleransi dan radikalisme,” jelasnya.

Menurut Khariri, agama dan Pancasila ini selalu dibenturkan. Hal ini dikarenakan kurangnya pemahaman itu tadi sehingga perlu bagi para tokoh agama atau para ulama-ulama moderat untuk memberikan pemahaman yang benar.

Iamenjelaskan bahwa cara untuk mengatasi ini adalah harus sering-sering mengajak mereka berdialog. Selain itu juga perlu adanya tokoh-tokoh yang bisa menjelaskan secara runut kepada kelompok-kelompok ini.

“Orang-orang ini ini sebetulnya adalah korban dari indoktrinasi jadi perlu diajak dialog. Kita harus berikan kepada mereka bagaimana pemahaman yang benar. Khususnya dalam konteks beragama di Indonesia,” katanya.

Khariri mengungkapkan bahwa biasanya kelompok-kelompok ini menggunakan alibi bahwa mereka adalah orang yang referensinya adalah alquran dan sunnah. Jadi seolah-olah mengatakan ijtihad pendapat-pendapat ulama itu bukan berasal dari Alquran dan sunnah.

“Makanya mereka yang mengambil langsung dari sumbernya Alquran dan hadist akan berhadapan dengan masalah yang lebih sulit. Karena kemampuan mereka di dalam mamahami Alquran dan hadist saja sebetulnya tidak sampai tapi dia memaksakan diri,” terang Wakil Direktur International Conference of Islamic Scholars (ICIS) itu.

Karena itu, ia menyampaikan perlunya moderasi beragama untuk memberi ruang kepada orang lain yang berbeda agama atau berbeda paham dengan kita.

“Dengan berpikir moderat, kita akan memberi ruang kepada orang lain untuk berbeda dengan kita. Kalau mereka yang radikal itu dia tidak memberi ruang bagi orang lain untuk berbeda dengan dia sehingga siapapun yang berbeda dengan dia dianggap sesat,” pungkas Khariri.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About redaksi

Avatar