Selain praktek poligami yang dilakukan Rasulullah, ayat yang sering dijadikan dasar bagi pengabsahan poligami adalah ayat tentang kebolehan menikahi dua (matsna), tiga (tsulasa) dan empat (ruba’). Pemilihan numerik ini yang dipakai oleh al-Qur’an sebenarnya bisa ditemui dalam ayat-ayat lain yang memiliki makna berbeda. Artinya bukan hitungan angka.

Sebelum kita mereview makna tersebut, penting untuk disajikan beberapa ayat yang juga memakai perhitungan di atas.

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا

Artinya : Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. QS: al-Nisa :03

الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, (ada yang) tiga dan (ada yang) empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.QS: Fathir: 01

قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُمْ بِوَاحِدَةٍ أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا مَا بِصَاحِبِكُمْ مِنْ جِنَّةٍ إِنْ هُوَ إِلَّا نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ

Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras.QS: Saba’ 46

Dalam QS: al-Nisa :03, QS: Fathir: 01, QS: Saba’ 46 kita jumpai term mastna, tsulatsa, ruba’ yang sama tetapi dengan terjemahan berbeda.  Lalu bagaimana sejatinya term-term ini dalam gramtikal Bahasa Arab?.

Term mastna, tsulatsa, ruba’, digunakan bukan sebagai jumlah nominal, melainkan deskripsi sebuah sifat benda. Sementara QS: al-Nisa :03 selama ini dengan pengertian jumlah nominal 2,3,4 sudah menjadi konsumsi publik.

Para Mufassir tidak menafsirkan term mastna, tsulatsa, ruba’ sebagai sifat tetapi lebih kepada jumlah nominal, yaitu dua istri, tiga istri dan empat istri.  Menurut al-Razi, penafsiran seperti ini menodai kaidah lughawiyyah (kebahasaan). Menurutnya, term mastna, tsulatsa, ruba’ merupakan isim ghairu munsharif (isim yang tidak bisa diberi tanwin). Jika narasi ini diterima, maka ada dua aspek yang melingkupi term mastna, tsulatsa, ruba’.

Pertama, berkumpulnya dua illah (alasan). Yaitu alasan ‘udul dan alasan washfiyyah. Disebut ‘udul, karena term mastna, tsulatsa, ruba’ adalah ungkapan kata tetapi yang dimaksudkan adalah kata lain. Misalnya, kata Umar dan Zufar yang dimaksud dengan dua kata ini adalah Amir dan Zafir. Demikian pula dengan kata matsna, maksud dari kata ini adalah tsintaini tsintaini (dua dua,) sebagai ma’dul-nya.

Disebut washfiyyah, pengertiannya bisa diperoleh dari  QS: Fathir: 01 uli ajnihatin matsna wa tsulatsa wa ruba’ (Malaikat yang memiliki sayap dua dua, tiga tiga, empat empat), dua sayap dikiri dan di kanan. Mafatih al-Ghaib, 5/46

Namun al-Razi tidak menuntaskan kajian tafsir ini hingga rampung. Sebab, tersisa satu pertanyaan mendasar dan dharuriy untuk dijawab. Bahwa jika terma matsna, tsulatsa dan ruba’ disebut washfiyyah lalu siapa yang disebut maushufnya?

Ayat sebelumnya yaitu QS: al-Nisa :02 mendiskripsikan larangan eksploitasi yang merugikan harta anak yatim. Hingga menurut Jalaluddin al-Suyuthi dan al-Mahalli ketika ayat ini turun, setelah itu, orang orang mulai menjauhi dan menjaga jarak atau tidak peduli terhadap anak yatim. Padahal sebelumnya, ada lelaki yang mengasuh sepuluh, delapan anak yatim dengan menikahi ibunya. Namun sayangnya, mereka tidak bertindak adil namun sebaliknya lalim. Maka perlu QS: al-Nisa :02 diturunkan oleh Allah. Tafsir al-Jalalain, 1/495

Maka, untuk menuntaskan kajian tafsir al-Razi, mawshuf dalam term matsna, tsulatsa dan ruba’ adalah anak yatim. Maka bunyi  QS: al-Nisa :03 menjadi maka kawinilah wanita-wanita janda yang memiliki anak yatim dua, tiga atau empat. yang kamu senangi. Dengan begitu background sosial ayat ini hendak dikembalikan dengan tatanan yang lebih ‘apik’ lagi.

Sinkronisasi pemahaman ini dengan praktik poligami Rasulullah menemukan kesejajarannya. Karena semua Istri-Istri Rasulullah selain ‘Aisyah adalah Janda. dan jangan pura-pura lupa, bahwa praktik poligami Rasulullah didedikasikan untuk perjuangan semata. Sederhananya, Rasul berpoligami demi perjuangan. Jangan dibalik, berjuang demi poligami.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.