Ustadz Abdul Somad
Ustadz Abdul Somad

Penolakan UAS di Singapura Biasa, Selanjutnya Dramatisasi Terdzalimi

Sebenarnya orang tidak bisa masuk ke negara orang lain sama halnya tidak bisa masuk ke rumah orang lain. Selain persyaratan tentu ada kemauan dan izin dari orang yang memiliki rumah untuk menolak dan menerima tamu. Bukankah itu sangat wajar?

Semua orang yang biasa melancong apalagi banyak yang mengidolakan liburan di luar negeri dari pada di negerinya sendiri sudah pasti banyak berhadapan dengan persoalan imigrasi. Diterima dan ditolak adalah hal biasa. Lalu, betapa mengejutkan ketika penceramah kondang Ustad Abdul Somad (UAS) oleh pemerintah Negara Singapura terus menjadi perhatian publik Indonesia karena menguapload statusnya di media sosial.

Akibat ditolaknya UAS ini lalu muncul digiring, didramtisasi bahkan diglorifikasi menjadi persoalan nasional. UAS merepresentasikan umat Islam Indonesia, penolakannya dianggap symbol islamophobia, dan penolakan UAS akan mengganggu kerjasama antar negara. Sungguh lebay dan dramatis.

Pada akhirnya, akibat kejadian ini, narasi terdzalimi dari UAS yang seolah diperlakukan dzalim sukses dilakukan. Padahal sejatinya, bukan kali ini saja UAS ditolak di negara lain. Ternyata keputusan Singapura untuk mengusir UAS dari Negara karena alasan Radikalisme bukanlah pertama kalinya. Sebelum singapura, ternyata UAS juga sudah banyak di tolak di Negara-negara lainnya. Pada 2017, Pemerintah Hong Kong juga menolak kedatangan Ustaz Abdul Somad di negaranya.

Kala itu pemerintah Hong Kong sedang gencar-gencarnya mengawasi kegiatan komunitas asing yang ada di negaranya. Kepala Kantor IOM (International Organization for Migration) Hong Kong sempat menuturkan bahwa penolahan Hongkong terhadap Somad salah satunya adalah untuk memastikan tidak ada radikalisme masuk di Hong Kong.

Ditahun 2018 Timor Leste juga pernah menolak UAS. Saat itu, dia hendak mengisi acara tabligh akbar. Kala itu, acara Somad disana sudah disusun dengan Pak Xanana Gusmao (mantan Presiden Timor Leste) dengan uskup. Namun pihak imigran saat itu menerima informasi secara mendadak bahwa Somad masuk dalam jaringan terorisme, karena itulah meski ia mengisi acara bersama mantan Presiden, Somad tetap tidak diperkenankan masuk ke wilayan Timor Leste.

Baca Juga:  Kembali Mengingatkan, Jihad dengan Perang Bukanlah Wajib Maqashid

Dari keterangan ini sebenarnya bisa kita lihat bagaimana Negara-negara mengamankan negerinya dari isu perpecahan, intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Mereka secara tegas mengusir seseorang yang dianggap memiliki paham dan kemampuan untuk memecah belah bangsanya.

Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Singapura pun mengungkapkan, salah satu alasan penolakan dilakukan adalah terkait konten ceramah UAS. Kemendagri Singapura pun menyebut Somad sebagai penceramah ekstremis dan segregasionis, di mana ajaran-ajaran tersebut tidak diterima di Singapura dengan masyarakat yang multirasial dan agama. Singapura juga menjelaskan terdapat tiga alasan mengapa Somad ditolak di singapura.

Penjelasan dari Singapura terkait ditolaknya Somad sekaligus jadi sindiran tajam buat pemerintah Indonesia. Mungkin Singapura juga merasa gregetan, kenapa penceramah yang bermasalah malah dibiarkan begitu saja di sini padahal jelas Somad bukan cuma ditolak di Singapura tapi juga di beberapa Negara lainnya. Negara lain menganggap Somad sebagai biang masalah dan tak layak masuk ke negaranya, namun anehnya di Indonesia justru penceramah modelan Somad justru dikasih panggung.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

ACT menyalurkan zakat

ACT Bukan Bagian dari Organisasi Pengelola Zakat

Jakarta – Aksi Cepat Tanggap (ACT) ternyata bukan bagian dari organisasi pengelola zakat. Penegasan disampaikkan …

Asrorun Niam

Kasus ACT, MUI: Perlu Kehati-hatian Ganda Kelola Zakat

Jakarta –  Mengelola dana zakat diperlukan kehati-hatian ganda oleh lembaga amil zakat (LAZ). Ini penting …