sudut pandang

Perbedaan Sudut Pandang dan Bahaya Merasa Paling Benar

Setiap manusia memiliki pemikiran dan sudut pandang masing-masing yang tentu saja kemungkinan besar akan berbeda dari orang lain. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Hal yang wajar jika setiap manusia memiliki perbedaan dalam memandang sesuatu menurut pandangan dan keyakinan dirinya.

Misalnya saja ketika kita melihat sebuah bangunan, tentu saja kita akan memiliki penilaian tersendiri tentang bangunan yang kita lihat tersebut berdasarkan cara pandang kita terhadap bangunan tersebut. Begitu pula jika orang lain melihat bangunan tersebut dari sudut pandang mereka yang kemungkinan berbeda dari sudut pandang kita.

Sudut pandang setiap orang dipengaruhi karena latar belakang lingkungan, sosial, pendidikan, pekerjaan, jenis kelamin, usia, pengalaman yang mereka miliki. Karena itulah, sudut pandang merupakan cara seseorang melihat sesuatu dengan berdasarkan paradigma yang dimilikinya. Kemudian paradigma tersebut menumbulkan keyakinan yang menumbuhkan cara seseorang melihat sesuatu yang akhirnya diyakini kebenarannya.

Berbeda menjadi hal wajar, asal tidak memonopoli anggapan kebenaran. Ketika merasa diri paling benar itulah yang menjadi sumber masalah. Kenapa merasa paling benar menjadi masalah? Karena kemungkinan besar ia akan lalai akan kesalahan yang dimilikinya. Orang yang merasa paling benar akan menganggap diri segalanya. Tidak ada celah salah dan selalu menganggungkan sudut pandangnya.

Dampak lain dari orang yang memonopoli kebenaran adalah selalu mencari kesalahan orang lain. Sudut pandangnya selalu diarahkan untuk mencari celah salah orang lain untuk mempertahankan sudut pandangnya.

Inilah yang diperingatkan oleh Nabi : “Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (HR. Bukhari).

Hal kecil dari kesalahan orang lain akan ditemukan, sementara ia tidak sadar dengan kesalahan besar yang ada dalam dirinya. Orang yang selalu merasa paling benar akan memunculkan kesombongan diri dan merasa paling suci.

Karena itulah, untuk mengimbangi perasaan paling benar, maqalah dari Imam Syafii patut menjadi teladan dan renungan. Imam Al-Syafi’I pernah berkata:  “Pandanganku benar, namun ada kemungkinan salah, sedangkan pandangan orang lain salah, namun ada kemungkinan benar.”

Memegang teguh pendirian sendiri memang penting. Hal itu menjadi dasar untuk menguatkan keyakinan diri. Namun, sudut pandang diri harus diletakkan pada kemungkinan yang relative, bukan absolut. Karena bisa jadi pandangan lain yang dianggap berbeda memiliki kemungkinan benar.

Mengambil Pelajaran dari Perbedaan

Manusia hidup di muka bumi untuk bisa saling memandang dan menginstropeksi diri. Manusia juga tidak memiliki hak untuk berkomentar menilai, terutama menghakimi sudut pandang orang lain jika berbeda dengan kita.

Karena pada dasarnya kita tidak bisa menyalahkan sudut pandang orang lain karena seseorang yang memiliki sudut pandang yang berbeda dari kita juga merasakan sudut pandangnya benar. Baik atau buruknya sudut pandang seseorang bukan hak kita untuk memberikan penghakiman bagi dirinya.

Sebab, kita tidak pernah atau apa yang sudah mereka alami dalam hidupnya. Yang paling bisa kita sadari adalah manusia diciptakan Allah di bumi ini dengan memiliki perbedaan satu sama lain. Itulah mengapa manusia harus mulai belajar untuk saling memahami mengenal satu sama lainnya.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah penciptaan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui (QS. Ar-Rum: 22).

Perbedaan adalah anugerah Tuhan yang terkandung pelajaran bagi mereka yang mengetahui. Orang yang bijaksana akan mengambil banyak pelajaran dari perbedaan.

Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 103, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S. Ali Imran: 103)

Manusia harus siap dalam menghadapi perbedaan dan berpegang teguh terhadap persatuan dan kedamaian. Di jaman jahilliyah Allah pernah menyatukan manusia dan membuat manusia akhirnya bersaudara, saling mencintai, hidup rukun dan damai dengan datangnya Islam.

Supaya kedamaian itu tak mudah hilang, penting adanya pemikiran terbuka untuk dimiliki oleh manusia. Pemikiran terbuka akan terbentuk jika manusia mampu melihat sudut pandang tidak dengan satu arah, kita juga dapat mengerti kenapa seseorang memiliki pendapat yang berbeda dengan kita.

Dengan multi sudut pandang, seseorang tidak akan menjadi gegabah dalam mengambil keputusan, karena ia mampu melihat dari berbagai sudut pandang terlebih dalam melihat suatu masalah. Bahkan ketika masalah yang besar yang mungkin orang lain akan merasa depresi jika menjalaninya, seseorang yang memiliki multi sudut pandang akan melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda dan akan berusaha mencari solusi untuk segera mengakhiri masa sulitnya tersebut.

Banyaknya manfaat yang dimiliki seseorang yang memiliki multi sudut pandang, membuat orang tersebut akan lebih cerdas dan bijak dalam mengambil keputusan. Inilah mengapa memiliki multi sudut pandang itu penting dalam kehidupan sehari-hari supaya kehidupan bermasyarakat dapat terjalin dengan damai sehingga membuahkan persatuan.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Check Also

032692800 1748619797 830 556

Jawab Kebutuhan Masyarakat, Kampus Ini Segera Buka Prodi Haji dan Umrah

PALU — Hadirnya Kementerian Haji dan Umrah membutuhkan sumber daya manusia yang mumpuni untuk terlibat langsung …

030282600 1767584734 830 556

Kemenag Pastikan Madrasah Terdampak Bencana di Sumbar Segera Pulih

JAKARTA — Musibah longsor dan banjir yang melanda Sumatera Barat mengakibatkan terhentinya proses belajar mengajar …