Perlunya Perspektif “Istitho’ah” dalam Dakwah : Berkaca Dari Kasus Intimidasi Jilbab

0
37
sumber foto: sindonews

Satu minggu terakhir, ramai dibicarakan tentang peristiwa dugaan intimidasi oknum Rohis SMAN 1 Gemolong Sragen kepada salah satu siswi kelas X dengan inisial Z yang tidak menggunakan jilbab ke sekolah. Hal ini bermula dengan ajakan pelaku kepada korban untuk menggunakan jilbab dengan cara mengirimi pesan tentang keutamaan berjilbab bagi Muslimah.

Ajakan tersebut tentunya adalah satu langkah yang baik. Namun, yang disayangkan dalam kasus ini adalah ajakan tersebut dilakukan secara terus menerus setiap hari dan mengarah pada tindakan intimidasi melalui pesan daring.

Tindakan tersebut menyebabkan korban merasa tidak nyaman hingga tidak berani berangkat sekolah. Menjadi ironi memang, ketika keinginan untuk mengajak dalam kebaikan justru menjadikan orang lain menjadi terhambat dalam melakukan kewajiban. Dalam konteks ini adalah kewajiban siswi Z untuk belajar.

Berkaca dari peristiwa tersebut, kita bisa mengambil pelajaran bahwa mengajak seseorang untuk mengikuti syariat agama tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru dan cara yang instan. Dakwah untuk menuntun seseorang agar lebih syar’i melibatkan satu proses panjang dan berjenjang. Dalam setiap langkahnya hendaknya dilakukan dengan cara yang santun dan tidak menyakiti hati.

Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah dalam berdakwah. Sejak diangkat menjadi Rasul hingga wafat menjelang beliau tidak pernah menggunakan kekerasan dalam menyebarkan agama Islam. Sifat santun dan penuh empati inilah yang justru menjadi daya tarik dan merupakan karakter utama seorang muslim sejati.

Mengenai hal ini, Nabi SAW. bersabda: “Kalian tidak dapat menjangkau semua orang dengan harta benda kalian, tapi mereka dapat terjangkau oleh kalian dengan wajah yang cerah dan akhlak yang luhur.” (HR. Al-Bazzar dan lain-lain)

Mengerucut ke dalam konteks dakwah mengajak Muslimah yang tidak berjilbab untuk mengenakan jilbab harus dipahami terlebih dahulu, apakah yang menjadi alasannya dalam berpakaian dan tidak mengenakan jilbab. Dengan berlandaskan pada prasangka baik, kita bisa berasumsi bahwa setiap Muslimah tentu ingin menjalankan Syariat agama Islam.

Baca Juga:  Atas Nama Apapun, Kekerasan Takkan Pernah Menang

Namun, kemampuan setiap Muslimah untuk menjalankan syariat agama tentunya berbeda satu sama lain. Ada Muslimah yang sejak kecil sudah berjilbab karena sudah menjadi bagian dari nilai hidup keluarga dan lingkungan sekitar. Ada Muslimah yang baru mengenakan jilbab setelah dewasa dan langsung siap untuk mengganti penampilan menjadi lebih tertutup. Ada yang belum bisa berjilbab karena tuntutan eksternal yang sulit untuk dilepaskan.

Sebagian Muslimah yang lain belum berjilbab karena memang belum siap seperti dalam kasus di atas (berdasarkan penuturan ayah korban). Sementara tidak sedikit juga yang tidak berjilbab karena memiliki interpretasi tersendiri mengenai tuntutan berjilbab bagi seorang Muslimah. Pastinya, masih banyak pertimbangan lainnya yang mendasari bagaimana seorang Muslimah berpakaian dan menunjukkan citra diri yang tak cukup untuk dibahas di sini satu persatu.

Menjadi Arif dalam Berdakwah

Dibutuhkan spektrum sudut pandang yang luas dalam melihat kemampuan setiap muslim dalam menjalankan syariat. Salah satunya adalah perspektif istitho’ah, yakni suatu cara pandang yang menitikberatkan pada kemampuan seorang hamba dalam melakukan suatu kewajiban. Hal ini berlandaskan pada salah satu ayat Al – Qur’an ayat 286 yang berbunyi :

“Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Selain itu, Nabi Muhammad dalam salah satu haditsnya bersabda,
Dari Ibnu Umar r.a. ia berkata, “Kami berbaiat kepada Nabi SAW untuk selalu mendengar dan taat, lalu berliau bersabda menuntun kami, ‘Atas sesuatu yang kalian mampu’.” (HR. Muslim). Dalam redaksi lain, diriwayatkan, “Kalian dibebani suatu amal selama kalian mampu melakukannya.”(HR. Muslim).

Dengan memasukkan perspektif istitho’ah (kemampuan diri) dalam berdakwah bisa menjadi modal untuk lebih arif dalam berdakwah. Modal ini menjadi penting bagi kita untuk malanjutkan misi Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan nilai nilai Islam Rahmatan lil Alamin dengan cara yang santun, empatik dan sikap memanusiakan manusia.

Baca Juga:  Kiamat Gerakan Islamis

Dakwah yang baik adalah dakwah yang tidak menyakiti hati dan mengantarkan kita menuju kebenaran ilahi dengan niat yang ikhlas dan penuh harap. Dakwah yang baik juga senantiasa didorong dengan pendekatan spiritual, yakni melalui doa dan permohonan agar Allah senantiasa membuka pintu rahmat dan maunahNya.

Adapun jika ajakan kita berhasil merubah perilaku dan karakter seseorang menjadi lebih baik, perlu diingat bahwa kesuksesan itu bukan murni karena dakwah dan usaha yang kita lakukan, melainkan itu semua adalah berkat pertolongan dan ikut campur Alloh dalam memudahkan kita mencapai tujuan. Sebab, “Alloh tidak membebani seseorang di luar batas kemampuan hamba, dan ini adalah dari kelembutan Alloh ta’ala kepada makhluqnya serta bagian dari sifat pemurah dan kasih saying Alloh kepada mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir : 1 / 737 ).

Tinggalkan Balasan