pernikahan beda agama
nikah beda agama

Pernikahan Beda Agama, Layak Dipikirkan Ulang

Cinta memang suci tidak dibatasi ruang dan waktu. Bahkan tidak bisa dibatasi hanya perbedaan suku, etnis, bangsa dan negara. Banyak kisah cinta berlatarbelakang perbedaan status sosial, etnis dan negara. Tidak sedikit pula pernikahan beda agama.

Isu pernikahan beda agama memang kerap lebih sensitif dari pada pernikahan beda etnis, suku dan budaya. Alasannya, pernikahan beda adat dan istiadat terkadang masih bisa dinegosiasikan. Namun, apakah iman dan tata cara keagamaan bisa dinegosiasikan dan dikompromikan?

persoalan sosiologis dan antropologis saja terkait pelaksanaan nikah beda agama sering problematik. Antara dua keluarga sejak awal sudah bersikukuh dengan keyakinan dan tata cara masing-masing. Belum lagi mendebatkan aspek teologis dan status hukum yang memandang pernikahan beda agama.

Mempunyai teman beda agama kan tidak masalah? Memang betul, tetapi pernikahan bukan sekedar pertemanan. Pernikahan merupakan suatu prosesi sakral yang mengandung akad atau perjanjian serta kesepakatan. Karena itulah, sebuah pernikahan diibaratkan suatu ikatan yang kokoh. Pernikahan lahir karena komitmen terhadap kewajiban dan hak masing-masing pihak suami terhadap istri dan sebaliknya yang disepakati bersama.

Jika sekedar perjanjian komitmen pemenuhan hak dan kewajiban mengapa pernikahan beda agama sangat kontroversial? Masyarakat Indonesia masih memandang isu ini kontroversi karena memang tidak hanya dilihat dari sudut pandang agama saja, namun juga norma-norma atau aturan perundang-undangan negara. Banyak masyarakat yang menganggap bahwa pernikahan beda agama juga merupakan bentuk penyimpangan terhadap aturan agama yang telah dengan jelas melarang hal tersebut.

Banyak masyarakat yang memiliki pandangan kontra karena prosesi tersebut merupakan sebuah wujud pembangkangan seolah iman seringkali diremehkan demi memilih pasangan hidup dan mengedepankan perasaan cinta dan kriteria duniawi. Lantas, bagaimana hukum menikah beda agama menurut al-Quran dan aturan perundang-undangan tentang perkawinan yang berlaku di Indonesia?

Dalam al-Quran, Allah berfirman, “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.”  (al-Baqarah-221)

Ayat di atas menjelaskan tentang larangan menikahi seseorang sampai mereka masuk Islam. Karena orang-orang musyrik atau yang mengingkari Allah akan membawa kita ke neraka. Ayat ini merupakan sebuah hikmah haramnya seorang muslim atau muslimah menikahi orang-orang musyrik. Allah telah menjelaskan hukum-hukum kepada manusia lewat firmannya supaya mereka dapat mengingat apa yang sebelumnya mereka lupakan, mengetahui apa yang sebelumnya mereka tidak ketahui dan agar mengerjakan apa yang sebelumnya mereka sia-siakan.

Memilih pasangan suami maupun istri merupakan suatu hal yang penting untuk menjadi bahan pertimbangan dalam membentuk rumah tangga. Karena sebuah bangunan rumah tangga membutuhkan pilar utama yakni suami dan istri yang nantinya akan mampu menjadi orang tua dengan bekal keimanan dan ketaatan kepada Allah sang pencipta. Karena jika perkawinan beda agama dilakukan, pada dasarnya mereka saja lalai kepada Tuhannya, apalagi kepada mereka yang yang sesama ciptaannya.

Di  Indonesia, perkawinan beda agama tidak hanya merupakan larangan agama, tetapi  juga telah dilarang oleh undang-undang, namun demikian tidak sedikit umat Islam Indonesia dengan berbagai alasan telah melakukan perkawinan beda agama dengan cara pergi ke luar negeri untuk melakukan perkawinan. Mengapa sih pernikahan beda agama dilarang dalam agama Islam?

Setidaknya terdapat tiga alasan. Pertama, melanggar Hukum Agama. Al-Quran dengan tegas melarang pernikahan seorang muslim/muslimah dengan orang musyrik, sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surat Al Baqarah ayat 221. Adanya sebab turunnya ayat 221 ini karena berkenaan dengan Ibnu Abi Mirtsad al-Ghanawi yang meminta izin kepada Rasulullah untuk menikahi Anaq, seorang  wanita Quraisy yang miskin tapi cantik, namun masih musyrik, sedangkan Ibnu Abi Mirtsad seorang Muslim. Lalu Allah  menurunkan ayat ini. (Kairo: Maktabah al-Manār, th.1388H/ 1968M), hlm. 39). Sementara itu MUI mengeluarkan fatwa hukumnya tentang larangan pernikahan beda agama ini nomor 4/MUNAS VII/MUI/8/2005 yang menetapkan perkawinan beda agama adalah haram dan tidak sah.

Kedua, Melanggar peraturan perundang-undangan. Keputusan Menteri Agama dengan tegas mengkategorikan perkawinan antar pemeluk agama ke dalam bab larangan perkawinan yang termaktub dalam Pasal 40 (c), Pasal 44, Bab X Pencegahan Perkawinan Pasal 61 KHI. Pasal 40 (c) berbunyi: “Dilarang melangsungkan perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita dalam keadaan tertentu: c. seorang wanita yang tidak beragama Islam.” Sedangkan Pasal 44 KHI berbunyi: ”Seorang wanita Islam dilarang melangsungkan perkawinan dengan seorang pria yang tidak beragama Islam”, dan Pasal 61 KHI : “Tidak sekufu tidak dapat dijadikan alasan untuk mencegah perkawinan, kecuali tidak sekufu karena perbedaan agama atau ikhtilaf al-dien”.

Kompilasi Hukum Islam di Indonesia merupakan hasil ijtihad dalam menafsirkan ketentuan al-Qur’an yang bersifat kolektif yang merupakan hukum yang harus dipedomani bagi umat Islam Indonesia. Perkawinan antar pemeluk agama tidak diperbolehkan secara hukum, karena jelas-jelas suatu bentuk halangan perkawinan dan wajib dicegah pelaksanaannya.

Ketiga, tidak akan tercapai tujuan perkawinan. Quraish Shihab mengatakan bahwa larangan perkawinan antar agama yang berbeda itu dilatarbelakangi oleh harapan akan lahirnya tatanan keluarga sakinah. Perkawinan akan mampu bertahan tentram jika terdapat kesesuaian pandangan hidup antara suami dan istri. Bisa kita lihat banyak kasus perceraian yang terjadi, jangankan masalah perbedaan agama yang melibatkan sebuah keimanan, perbedaan latar belakang sosial atau bahkan perbedaan tingkat pendidikan tidak jarang mengakibatkan kegagalan dalam perkawinan.

Bagaimana sebuah perkawinan akan mencapai sakinah jika tidak dilandasi dengan keyakinan yang sama. Meski dalam perkawinan beda agama terlihat bahagia, namun hal itu merupakan kebahagiaan semu sebab hakekat kebahagiaan itu adalah ketenangan batin yang didapat ketika seseorang mampu dekat dengan Tuhannya.

Memang hidup ini adalah sebuah pilihan. Namun, Tuhan telah memberikan pedoman bagi manusia dalam memilih agar tidak tersesat dalam menentukan pilihan. Terkadang pernikahan bukan sekedar bermodal cinta, tetapi juga kesesuaian. Cinta pun kandas karena ketidaksesuaian. Merawat dan memelihara selalu saling sesuai dan melengkapi itu lebih indah daripada cinta. Ataukah itu sebenarnya cinta yang sebenarnya?

Bagikan Artikel ini:

About Rufi Tauritsia

Check Also

mengemis online

Fenomena Mengemis Online, Bagaimana Menurut Islam?

Setiap manusia diberikan potensi kepada Allah untuk hidup mandiri. Kemandiriannya tersebut terbentuk dari akal pikiran …

depresi

Hati-hati dengan Sakit Jiwa, Benahi Hati dengan Berdzikir

Jangan sepelekan penyakit mental. Kesehatan mental juga sepenting Kesehatan fisik manusia. Jika gangguan mental terus …

escortescort