Petani
Petani

Petani sebagai Profesi Mulia dalam Islam

Petani merupakan profesi purba yang sudah ada sejak zaman dahulu. Bahkan di zaman Rasulullah selain berdagang, bertani menjadi perhatian utama. Karena itulah, sektor pertanian juga menjadi pembahasan dalam Islam melalui berbagai ajaran etika maupun hukum.

Tak hanya menganjurkan untuk bertani atau bercocok tanam, Rasulullah juga telah mengajarkan pada umatnya tata cara sewa lahan serta pembagian hasil dari bercocok tanam. Cara irigasi alami telah disediakan oleh Allah dengan hujan. Dari bercocok tanam inilah rantai makanan mulai terjalin dan juga cocok tanam mampu melahirkan ilmu pengetahuan dan juga teknologi yang dikembangkan.

Bercocok tanam merupakan profesi yang terhormat. Pekerjaan bercocok tanam menuntut dedikasi yang tinggi dan sikap tawakal penuh terhadap Allah. Allah berfirman, “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” [Quran Al-Mulk: 15].

Dalam ayat al-Quran dijelaskan bahwa Allah memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa berusaha di muka bumi ini dengan cara makan darinya, dan menikmati rezeki yang datang darinya (hasil bumi). Selain itu, ukuran kemakmuran suatu bangsa juga dinilai atas pemenuhan terhadap kebutuhan dasar warganya, dan yang paling utama ialah kebutuhan pangan.

Kebutuhan atas makanan adalah hal yang primer yang tak terbantah. Tidak mungkin sebuah bangsa yang dikatakan makmur jika sebagian masyarakatnya masih merasakan kelaparan atau kekurangan bahan makanan, meski bangsa tersebut telah mencapai kemajuan dalam pembangunan di berbagai bidang, tetap saja bangsa tersebut tidak bisa dianggap bangsa yang makmur.

Inilah yang harusnya dijiwai oleh segenap muslim bahwa pertanian selain berdimensi duniawi, ada jaminan bahwasanya juga berdampak ukhrawi karena ada kemanfaatan yang bernilai jariyah dan terhitung pahala. Bahkan, faedah bercocok tanam tidak hanya terbatas untuk manusia, tetapi juga berguna bagi makhluk hidup lainnya. Binatang-binatang yang hidup di bumi juga merasakan dampak dari bercocok tanam, seperti sapi, kerbau, kuda dan juga burung.

Baca Juga:  Bersyukur adalah Cara Menjaga Kenikmatan dari Kerusakan

Rasul pun mengungkapkan pahala yang menyertai para pecocok tanam ini. Tidak ada ganjaran yang lebih pantas bagi seorang Muslim yang menanam tanaman, lalu dijadikan makanan manusia ataupun binatang melata atau apa pun, kecuali akan tercatat sebagai sedekah baginya hingga hari kiamat kelak.

Karena alasan inilah, bercocok tanam merupakan pekerjaan yang dipandang terhormat dalam Islam. Melalui profesi ini maka akan mampu menerangkan akan kekuasaan Allah yang menyatakan bahwa Ia merupakan satu-satunya Dzat pencipta yang menguasai unsur air, mengubahnya menjadi air hujan, lalu menurunkannya ke bumi untuk menghidupi berbagai macam tanaman yang dipergunakan bagi kelangsungan makhluk hidup.

Allah berfirman dalam surat al-Anam ayat 99, “Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak.”

Profesi petani bukan hanya sebagai profesi semata, namun, lebih dari itu semua, profesi petani merupakan profesi yang mampu menjadikan ladang amal bagi seluruh insan yang berkecimpung di dalamnya. Bukan hanya ladang untuk mencari riski namun juga demi mencukupi kebutuhan semua makhluk hidup dan sarana demi menggapai ridho Allah.

Berbanggalah menjadi petani di mana seluruh umat manusia bergantung dari hasil panen yang diperoleh.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Imam Santoso

Avatar