039229300 1688695932 830 556

Petugas Haji Diminta Jaga Etika Bermedia Sosial Agar Tidak Timbulkan Kegaduhan di Tanah Air

JAKARTA — Calon petugas haji yang sedang menjalani latihan di Asrama Haji Pondok Gede Bekasi diminta untuk menjaga etika bermedia sosial, terutama untuk tidak mengunggah konten-konten yang rentan menimbulkan salah persepsi ditengah masyarakat. 

Dilansir dari laman republika.co.id Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah Ichsan Marsha meminta calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2026 untuk bijak dalam bermedia sosial saat menjalankan tugas di Tanah Suci nanti.

Hal tersebut menyusul evaluasi dari penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya di mana banyak kegaduhan di tanah air yang justru dipicu oleh unggahan foto atau video yang tidak lengkap konteksnya.

Berbicara di hadapan awak media setelah mengisi materi diklat PPIH 2026 di Jakarta, Jumat (17/1/2026), ia memberikan contoh nyata yang pernah terjadi.

Dia menyebutkan adanya unggahan foto yang memperlihatkan jamaah haji duduk-duduk di depan hotel.Tanpa keterangan yang jelas, foto tersebut kemudian viral dan dinarasikan seolah-olah jamaah haji Indonesia terlantar dan tidak mendapatkan akomodasi.

Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 mengikuti pendidikan dan latihan di Asrama Haji, Jakarta, Ahad (11/1/2026). Sebanyak 1.636 PPIH Arab Saudi 2026 mulai menjalani diklat selama 20 hari dengan dibekali berbagai keterampilan mulai dari keahlian administratif hingga bahasa arab guna mengoptimalkan layanan haji 2026. – (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

“Misalnya tadi saya sampaikan, ada postingan berbicara tentang jamaah di depan hotel yang justru tanpa konteks dipersepsikan dan dinarasikan bahwa jamaah terlantar. Padahal, faktanya tidak demikian,” ujar Ichsan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.

Konten-konten “mentah” seperti ini, menurut dia, berbahaya karena langsung diekspose ke publik tanpa verifikasi, sehingga menimbulkan kepanikan keluarga jamaah di Indonesia dan kegaduhan yang tidak perlu.

Oleh karena itu, ia menekankan, petugas haji harus mampu memilah mana konten yang layak publikasi dan mana yang berpotensi menimbulkan salah paham.

“Kenapa kami tekankan ini? Karena apa yang di-posting ataupun diunggah oleh para petugas maupun jamaah akan berbanding lurus dengan wajah kita di Tanah Suci,” kata dia.

Ia mengingatkan bahwa media sosial kini menjadi salah satu indikator keberhasilan penyelenggaraan haji. Suatu isu kecil bisa teramplifikasi menjadi masalah nasional hanya karena sebuah unggahan yang kurang bijak.

Kemenhaj menuntut para petugas untuk tidak hanya melayani, tetapi juga melindungi psikologis keluarga jamaah di Tanah Air dengan tidak menyebarkan informasi yang membingungkan.

Petugas haji diharapkan mampu menjadi filter informasi. Jika menemukan kejadian di lapangan, petugas diminta untuk melakukan kroscek dan penanganan terlebih dahulu, bukan memviralkan.

Dengan demikian, narasi yang terbangun tentang haji Indonesia adalah narasi yang positif, konstruktif, dan sesuai dengan fakta di lapangan.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Check Also

keutamaan bulan sya'ban

Bulan Sya’ban Segera Tiba: Bulan yang Sering Dilupakan, Tapi Dicintai Rasulullah

Tanpa terasa, umat Islam akan segera memasuki bulan Sya’ban pada 20 Januari 2026. Bulan ini …

092611400 1763115678 830 556

Bukti Pendidikan Jadi Fokus Pemerintah, 166 Sekolah Rakyat Beroperasi

JAKARTA — Sekolah Rakyat bukan lagi sekedar wacana dalam program pemerintah, namun telah hadir secara …