KH Marsudi Syuhud
KH Marsudi Syuhud

Syariat Islam Sebut agar Tidak Terjadi Perang, Tanah Air Harus Dijaga

Jakarta – Syariat Islam menyebutkan untuk menghindari agar tidak terjadi perang, maka tanah air harus dijaga. Hal itu diucapkan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Marsudi Syuhud saat menjadi narasumber webinar bertajuk Konflik Rusia, Glorifikasi Akhir Zaman oleh Kelompok Ekstrimisme pada Jumat akhir pekan kemarin. Webinar itu digelar Badan Penanggulangan Ekstrimisme dan Terorisme Majelis Ulama Indonesia (BPET MUI).

“Sampai sekarang tidak berhenti, perang itu terus-menerus, karena perang ada terus-menerus maka agama kita itu mengatur peperangan. Bagaimana laki-laki atau perempuan, sampai ibadah dalam kondisi perang,” kata Marsudi.

Marsudi melanjutkan, bahwa perang sudah diatur, dan memang akan terus terjadi. Menurutnya, perang biasanya terjadi melibatkan negara, karena ada suatu negara lain yang ingin berkuasa atau satu kelompok menguasai kelompok lainnya. Maka syariat Islam menyebutkan untuk menghindari agar tidak terjadi perang, maka tanah air harus dijaga.

“Menyikapi perang Ukraina, apa saja sudah ada contohnya, umat Islam seharusnya tidak perlu bingung, karena Rasulullah sudah lengkap, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sudah mengajarkan. Sesungguhnya kita yang wajib mengikuti apa-apa yang sudah diatur oleh agama kita, yang sudah diatur ikuti saja, nggak akan kita menjadi bingung ketika menghadapi suatu kejadian di muka bumi. Kita berkewajiban menjaga diri kita sendiri,” ucap Marsudi.

Di acara yang sama, Dewan Pengarah BPET MUI dan Ketua MUI Bidang Hukum, Noor Achmad mengungkapkan, bahwa permusuhan manusia pasti akan selalu ada, dan Islam hadir untuk meredamnya.

“Bahwa Islam itu diturunkan oleh Allah dengan mudah dan dinul hak, artinya ada satu proses pencerdasan manusia untuk memeluk agama, dari proses ini maka kita bisa memahami Islam akan besar bukan karena perang, tapi karena proses manusia mendapat hidayah, hidayah dari pencerdasan satu hubungan satu dengan yang lain, karena keilmuan memahami Islam benar. Ada yang mengatakan islam besar karena perang, dalam sejarah belum pernah terjadi, apa yang dilakukan Rasulullah dan sahabat bukan karena perang, karena pada saat itu mendapat tantangan,” ucap Noor.

Baca Juga:  Tolak UU Ciptaker, PBNU Bakal Ajukan Uji Materi ke MK

Ia mengungkapkan, peperangan merupakan sesuatu yang biasa terjadi, karena adanya ketidakpuasan, begitu juga yang terjadi antara Rusia dan Ukraina. Untuk itu, bagaimana caranya Islam menjadi penengah, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dua negara tersebut.

“Islam hadir dengan kedamaian, penuh akhlak, munculkan islah, keselamatan. Maka kalau ada negara-negara terlibat dalam konflik, bukan dalam konteks bagian dari peperangan agama, itu bagian peperangan antara teman satu dengan teman yang lain, itu dunia, bukan konteks glorifikasi, bukan seakan perang agama. Apa yang terjadi kalau sekarang ini ada yang memasukkan terkait agama itu ijtihad mereka,” kata Noor.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

KH Sholahuddin Al Aiyub

Radikalisme dan Liberalisme Distorsi Pemahaman Agama, Islam Wasathiyah Solusinya.

Jakarta – Radikalisme dan liberalism agama telah mendistorsi pemahaman agama. Karena itu, Islam wasathiyah menjadi …

maulid nabi

Khutbah Jumat – Hubbun Nabi

Khutbah I اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ …