pinjaman online
pinjaman online

Pinjol Memakan Korban Ratusan Mahasiswa, Inilah Cara Transaksi yang Aman dalam Islam

Baru-baru ini santer berita tantang beberapa mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang terjerat pinjaman online (pinjol). Sedikitnya 126 Mahasiswa IPB dilaporkan telah terjerat pinjol dengan bunga yang mencekik dan jika ditotalkan semua pinjaman tersebut mencapai angka milliyaran rupiah. Tak sedikit dari mahasiswa tersebut didatangi para penagih atau yang biasa kita kenal dengan dept collector ke kost dan rumah mereka masing-masing.

Sebenarnya pinjaman mereka tidak terlalu besar, hanya berkisar antara 3 juta sampai 13 juta. Namun kisaran bunga pinjaman tersebut sangat besar sehingga mereka yang berlatarbelakang seorang mahasiswa yang notabene belum memiliki pekerjaan pun merasa terlalu berat untuk membayar bunga tersebut.

Pinjol ini terjadi karena adanya iming-iming dari sebuah usaha penjualan dengan keuntungan sebesar 10 persen kepada 126 mahasiswa tersebut, dengan catatan bahwa mereka harus menyetorkan uang dengan kedok investasi. Pinjol tentu menjadi pilihan karena persyaratan yang mudah.

Namun pada kenyataannya, bukan hanya tidak mendapat keuntungan, namun modal mereka justru tidak kembali. Lantas bagaimana jika kasus seperti ini dilihat dari kacamata Islam?

Demi kenyamanan umatnya, agama Islam telah memberikan panduan yang meliputi syarat-syarat transaksi jual beli maupun utang piutang. Syarat seperti yang ditetapkan ini dapat bermanfaat untuk menghindari kebathilan seperti memakan atau merampas hak orang lain.

Memang harus diakui bahwa topik keadilan dan kepatutan menjadi hal yang sangat penting dan banyak dibahas khususnya dalam perkara pertukaran dan jual beli barang maupun jasa.

Cara-cara yang batil dalam pertukaran yang dilarang dalam Islam dapat berupa tindakan-tindakan seperti praktik riba, ketidakjelasan dalam persetujuan yang dapat dimanfaatkan oleh salah satu pihak, penipuan, pencurian, dan penguapan.

Dalam transaksi jual beli dan transaksi lainnya yang sah harus dengan syarat adanya kesepakatan bersama. Hal ini berdasarkan surat An-Nisa ayat 29.  Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.”

Dalam kesepakatan bersama hanya dapat diungkapkan melalui ijab kabul, tindakan yang telah biasa dilakukan. Bukan hanya diungkapkan dengan kata-kata, kesepakatan jual beli juga bisa dipenuhi memalui sikap yang menandakan kesepakatan atau dalam versi saat ini adanya dokumen perjanjian yang mengikat.

Sebagai contoh, seseorang membeli minuman kemasan dengan memberikan minuman tersebut di kasir yang menandakan sebuah tindakan transaksi. Maka jual beli seperti ini tetap sah dalam Islam. Jadi, kesepakatan bersama dapat dicapai oleh apa pun yang menunjukannya, baik itu melalui kata-kata atau sikap.

Selain itu dalam transaksi jual beli barang yang dijual harus diketahui, harga barangpun juga harus di ketahui. Informasi harga dari barang atau jasa yang dijual harus disampaikan dan diketahui oleh pihak pembeli baik itu dengan cara diperlihatkan atau melalui penjelasan.

Karena itulah, ketidakjelasan detail transaksi baik barang, harga, dan keuntungan lainnya bahkan kerugian yang bisa menjadi dampak dalam transaksi tersebut menjadi syarat utama. Karena itulah, Islam melarang transaksi terhadap barang atau jasa yang tidak diketahui yang berpotensi menimbulka kerugian satu pihak.

Karena itulah, dalam bertransaksi menuntut seseorang memahami syarat-syarat adanya jual beli sebagai sarana transaksi yang aman tanpa adanya seseorang yang akan dirugikan oleh transaksi tersebut. Selain itu, dituntut sikap teliti dalam melakukan transaksi jual beli agar selalu sesuai dengan syariat, tidak hanya dalam jual beli barang kebutuhan sehari-hari tapi juga yang melibatkan uang dalam jumlah besar.

Dalam beberapa kasus pinjol memang sangat menguntungkan di awal tetapi sejatinya sangat meresahkan. Mudharat pinjol dalam kasus oknum pinjol tertentu memang harus ditertibkan karena tidak sesuai dengan transaksi dalam Islam. Mereka yang sangat butuh diharapkan bisa menahan diri dan lebih teliti.

Bagikan Artikel ini:

About Imam Santoso

Avatar of Imam Santoso

Check Also

perbedaan madzhab

Berbuat Adil adalah Berbuat Kebaikan Tanpa Memandang Latar Belakang Agama, Itu Perintah Agama

Hak beragama merupakan hak azasi yang melekat pada diri manusia. Negara Indonesia juga telah menjamin …

salah kiblat

Shalat Salah Menghadap Kiblat, Terus Gimana?

“Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana …