hidangan non muslim
istilah makanan dari babi

Fikih Toleransi (4) : Memakan Hidangan Non Muslim

Agama Islam membolehkan memakan makanan apa saja yang penting halal, demikian juga minuman. Maka, meskipun yang menyuguhkan adalah muslim kalau hidangan tersebut tidak halal tentu haram mengkonsumsinya.

Anjuran memakan apa saja yang penting halal telah dijelaskan dalam al Qur’an. Allah berfirman, “Dan makanlah dari apa yang diberikan Allah kepada kamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadanya” (QS. al Maidah: 88).

Halal dan baik (halalan thayyiban) menjadi tolak ukur makanan yang layak untuk dikonsumsi oleh umat Islam. Halal zatnya dan halal cara memperolehnya. Hal ini telah diatur dengan jelas dalam fikih. Sedangkan baik adalah bagus kualitasnya dan bergizi yang bermanfaat untuk kesehatan tubuh.

Sampai disini sekilas bisa dipahami bahwa makanan halal tidak tergantung kepada siapa yang menyuguhkan, tapi dilihat dari zat dan cara memperolehnya.

Lalu, bagaimana kalau yang menyuguhkan makanan tersebut adalah non muslim? Meskipun makanannya halal, apakah muslim boleh memakannya?

Allah menegaskan, “Pada hari ini dihalalkan bagimu makanan yang baik. Makanan Ahli Kitab halal bagimu. Demikian juga makananmu halal bagi mereka” (QS. al Maidah: 5).

Ibnu Baththal dalam kitabnya Syarhu Shahihil Bukhari mengutip pendapat Ibnul Mundzir yang mengulas perbedaan pendapat para ulama tentang bermu’amalah dengan seseorang yang hartanya lebih dominan haram. Yakni, menerima hadiah dan pemberian mereka. Segolongan ulama menghukumi rukhshah. Imam Hasan al Bashri mengatakan, Allah menghalalkan makanan orang Yahudi dan Nasrani. Sahabat-sahabat Nabi memakannya. Padahal Allah melabeli Yahudi sebagai pemakan riba.

Kesimpulannya, boleh memakan makanan yang disuguhkan oleh non muslim senyampang suguhan tersebut halal. Dalam konteks persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah) hukum ini maslahatnya sangat besar. Silaturahmi kebangsaan akan berjalan dengan baik dan semakin merekatkan persatuan. Karenanya, sudah sepatutnya kita menjalin hubungan baik dengan non muslim dan tidak perlu ragu meminum maupun memakan suguhan yang mereka berikan selama makanan dan minuman tersebut statusnya halal.

Bagikan Artikel ini:
Baca Juga:  Fikih Toleransi (5): Menerima Hadiah dari Non Muslim

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

hadiah dari non muslim

Fikih Toleransi (5): Menerima Hadiah dari Non Muslim

Rasulullah adalah manusia paling sempurna dalam segala aspek kehidupannya; paling sempurna ibadahnya, pribadi yang paling …

jual beli

Fikih Toleransi (3) : Hukum Bertransaksi dengan Non Muslim

Sebagian umat Islam ada yang melarang untuk bermu’amalah dengan non muslim, termasuk jual beli. Sebab, …