ulil albab
Alquran

Makna dan Karakteristik Ulil Albab dalam Al-Quran

Di dalam Al-Quran orang-orang yang menggunakan akalnya diberi sebutan dengan gelar ulil albab (orang-orang yang berfikir dan berdzikir). Istilah ulul albab dapat ditemukan dalam Al-Quran sebanyak 16 kali, dalam Surah dan ayat yang berbeda. Manusia ulil albab harus dijadikan contoh atau tauladan di dalam dunia akademis, karena ia adalah manusia yang berilmu, yang dengan ilmunya itu ia mampu mengarahkan akalnya, serta ia juga mampu mengetahui dirinya, yaitu sebagai makhluk yang harus melakukan pengabdian kepada Allah SWT yang telah menciptakannya.

Misalnya seperti Imam Syafi’i, beliau adalah sosok ulama yang sangat ‘alim dan terkenal pada zamannya dengan keilmuannya dan wara’ terhadap ilmu-ilmu Allah. Sehingga Ia dikenal dengan sebutan raisul kaum (pemimpin kaum) karena beliau menguasai ilmu al-ra’yi dan ilmu al-hadist. Sehingga setiap permasalah yang timbul ia selalu memberikan solusi. Maka dari itu penulis akan membahas mengenai makna dan apa saja karakteristik ulul albab sebagaimana di terangkan dalam Al-Quran.

Makna Dan Tafsir Kata Ulil Albab

Allah berfirman dalam Q.S. Ali Imran: 190-191 yang berbunyi:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”

Kata al-albab adalah bentuk jamak dari lubb yaitu saripati sesuatu. Ulul albab secara etimologi berasal dari dua akar kata اولو dan الْأَلْبَابِ Kata اولو dalam bahasa arab adalah berarti memiliki, mempunyai. Adapun dalam bukunya Akhmad Alim, memaparkan bahwa; kata  الْأَلْبَابِ  dalam bahasa arab adalah bentuk jamak dari اللب yang berarti akal, penggunaan kata اللب dalam bahasa arab sendiri berarti bagian termurni, terpenting dan terbaik dari sesuatu.

Dalam Tafsir Fi Zhilalil Quran, Ulil Albab adalah orang-orang yang memiliki pemikiran dan pemahaman yang benar. Mereka membuka pandangannya untuk menerima ayat-ayat Allah SWT pada alam semesta, tidak memasang penghalangpenghalang, dan tidak menutup jendela-jendela antara mereka dengan ayat-ayat Allah SWT. Mereka menghadap kepada Allah dengan sepenuh hati sambil berdiri, duduk dan berdiri. Maka terbukalah mata (pandangan) mereka, menjadi lembutlah pengetahuan mereka, berhubungan dengan hakikat alam semesta yang dititipkan Allah kepadanya, mengerti tujuan keberdaannya, alasan ditumbuhkannya, dan unsurunsur yang menegakkan fitrahnya dengan ilham yang menghubungkan antara hati manusia dan undang-undang alam ini.

Baca Juga:  Jika Salah Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 191

Orang yang selalu ingat kepada Allah (dzikrullah) dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring. Berdiri maksudnya dalam keadaan jaya, duduk yakni dalam keadaan biasa-biasa saja dan keadaan berbaring yakni dalam keadaan lemah. Mereka senantiasa bersyukur dan bersabar dalam keadaan apapun. Orang yang memiliki kapasitas intelektual yakni kesanggupan untuk memikirkan fenomena alam dan peristiwa kehidupan.

Konsep dan Karakteristik Ulil Albab

Ulil Albab adalah orang-orang yang memiliki akal yang murni yang tidak diselubungi oleh “kulit” yakni kabut ide, yang dapat melahirkan kerancuan dalam berfikir. Dengan demikian Ulil Albab adalah manusia yang menggunakan akalnya, untuk memikirkan dan memahami ayat-ayat Allah SWT, baik ayat kauniyah maupun ayat qauliyah. Ahmad Alim, di dalam bukunya yang berjudul Islamisasi Ilmu Pendidikan, memaparkan Ulil Albab terdapat dalam Al-Quran sebanyak 16 kali yang tersebar dalam berbagai surat dan ayat. Di antaranya terdapat dalam (Q.S. Al-Baqarah 179, 197 dan 269), (Q.S. Ali-Imran 7, dan 190), (Q.S. Al-Maidah 100), (Q.S. Yusuf 111), (Q.S. Ar-Ra`d 19), (Q.S. Ibrahim 52), (Q.S. As Shad 29 dan 43), (Q.S. Az-Zumar Ayat 9, 18, dan 21), (Q.S. Ghafir 54), dan (Q.S. At-Thalaq Ayat 10). Enam belas ayat tersebut, yang apabila kita relevansikan dengan konteks penegakan hukum, maka akan melahirkan sepuluh karakteristik yang dimiliki oleh manusia ulil albab sebagai penegak hukum. Yaitu sebagaimana yang akan dijelaskan yakni:

Pertama, Mampu Mentadabburi Ayat-Ayat Allah, Baik Ayat Kauniyah Maupun Qauliyah

Mentadabburi ayat-ayat Allah, baik ayat kauniyah maupun qauliyah, seperti mampu mengambil pelajaran dari suatu peristiwa sejarah. Allah SWT berfirman dalam Q.S. Yusuf: 111: Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Ahmad Musthafa al-Maraghi melihat pada kisah Nabi Yusuf tersebut merupakan salah satu kisah penting bagi mereka yang berakal dan berpikiran tajam yaitu ulul albab. Karena itulah kisah ini disebut sebagai qashasha al-khabara yang berarti menyampaikan berita dalam bentuk yang sebenarnya. Kata ini diambil dari perkataan qassa al-asara wa iqtassahu yakni menunjukkan kisah ini menuturkan cerita secara lengkap dan benar-benar mengetahui. Lalu Mampu mengambil pelajaran dari ayat-ayat Al-Quran. Allah SWT berfirman dalam Q.S Shad: 29:

Baca Juga:  Fikih Nusantara (10) : Kitab Parukunan Karya Syeikh Jamaluddin al Banjari

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.

Menurut Buya Hamka kata Ulil Albab dalam ayat di atas disebutkan sebagai orang yang mempunyai inti pemikiran, “…dan supaya ingatlah kiranya orang-orang yang mempunyai inti pemikiran.” Karena orang-orang yang memiliki inti pemikiran adalah orang-orang yang memiliki keimanan, keyakinan, dan kepercayaan akan adanya hari esok (hari pembalasan), serta percaya dan yakin akan Kebenaran dan Keadilan Allah SWT.

Kedua, Memiliki Ilmu Yang Mendalam (Rasyihun Fiil Ilmi)

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali-Imran: 7: Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan ulul albab.

Ulil Albab yakni mereka yang berakal sehat dan memiliki pemahaman yang lurus. Mereka senantiasa memikirkan, mengambil pelajran dan memahami ayat-ayat sesuai dengan maksudnya. Pada konteks ini ulul albâb yakni orang yang memiliki kemantapan iman terhadap ayat-ayat yang diturunkan Allah. Mereka tidak sematamata menjadikan akal sebagai tolak ukur kebenaran, akan tetapi harus diimbangi dengan dzikir dan hati serta berdoa.

Ketiga, Mampu Membedakan Antara Yang Haq Dan Yang Bathil (Al-Faruq)

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Maidah: 100: Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai ulul albab, agar kamu mendapat keberuntungan”. Abdul Karim Khathib dalam tafsirnya Al-Tafsiru Al-Qur’ani Lil Qur’ani menjelaskan bahwa ayat di atas fattaqu ya ulil albab, yakni seruan bagi mereka yang memiliki pikiran untuk menggunakan pikiran dan memanfaatkannya untuk mengetahui kebenaran dan kebaikan, membedakan antara suatu hal yang bathil dan haq, akan menjadikan dirinya memperoleh kemenangan diiringi dengan ketaqwaan. Karena ketaqwaan inilah sebagai jalan untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagiaan dunia dan ukhrawi.

Baca Juga:  Orang Tua Sebagai Garda Terdepan Pencegahan Pernikahan Dini

Pada ayat ini terdapat dua kata antonim yakni kata al-khabits dalah segala sesuatu yang tidak disukai dikarenakan buruknya atau kehinaannya dari segi material maupun immaterial, baik menurut pandangan akal atau syariat, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Sedangkan ath-thoyyib adalah segala sesuatu yang dibolehkan oleh agama dan akal sehat. Dari tafsir di atas, jelas bahwa ulul albab adalah Mereka yang senantiasa menggunakan panca indera dan pikirannya untuk memperoleh kebenaran serta memilih yang terbaik dengan memperhatikan pada nilai kualitasnya.

Keempat, Senantiasa Berbekal Ketaqwaan Dalam Hidupnya

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 197: “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang-siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan menger-jakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Ber-bekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepadaKu hai ulul albab.

Al-Biqai menerangkan terkait dengan ya ulul albab yaitu akal-akal yang bersih, serta pemahaman yang cemerlang, yang terlepas dari semua ikatan fisik sehingga ia mampu menangkap ketinggian taqwa dan ia pun menjaga ketaqwaan itu. Pada konteks inilah potensi al-nafs yakni satu dimensi jiwa yang memiliki fungsi dasar dalam susunan organisasi jiwa manusia dilatih untuk melakukan yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarangnya agar mencapai derajat taqwa.

 

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Syah Alfarabi

Avatar of Ahmad Syah Alfarabi

Check Also

ka'bah

Makna Filosofis Ritual Haji (1)

Salah satu pengamalan ajaran Islam yang menarik untuk dikaji adalah ibadah haji. Ibadah yang setiap …

permasalahan haji di Indonesia

Permasalahan Haji di Indonesia, Inilah Solusinya!

Ibadah haji yang dilakukan Nabi ternyata berbeda dengan yang dipahami oleh umat Islam saat ini, …