salam kepada non muslim
salam kepada non muslim

Fikih Toleransi (2) : Hukum Mengucapkan Salam kepada non Muslim

Imam Nawawi dalam kitabnya al Adzkar menulis, mayoritas ulama madzhab Syafi’i berpendapat memulai salam kepada non muslim hukumnya haram, namun sebagian ulama madzhab Syafi’i yang lain berpendapat hukumnya makruh. Bagaimana kalau sebaliknya, non muslim yang mengucapkan salam kepada muslim? Boleh menjawabnya dengan kalimat wa’alaikum. Tidak boleh dari itu.

Masih dalam kitab yang sama, Imam Nawawi mengutip pendapat Imam al Mawardi membolehkan menjawab salam non muslim dengan kalimat wa’alaikum salam.

Dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah bersabda, “Jika ahli kitab mengucapkan salam kepadamu, jawablah wa’alaikum“. (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Nawawi juga mengutip pendapat Abu Sa’id yang menawarkan beberapa kalimat untuk menjawab salam non muslim dalam rangka untuk menghormati. Yaitu, hadakallahu (semoga Allah memberikan petunjuk kepadamu), dan an’mallahu shabahaka (semoga Allah membuat pagimu menyenangkan).

Hukum Mengucapkan Salam Natal

Perbincangan sebelumnya tentang mengucapkan salam kepada non muslim adalah dengan kalimat masyhur, yaitu assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh. Bagaimana kalau kalimat salam itu diucapkan dengan redaksi yang lain, misalnya selamat natal?

Ada dua pendapat. Haram dan boleh. Pendapat yang mengharamkan memberikan dua alasan. Pertama, ucapan salam natal atau selamat natal merupakan praktik kesaksian palsu atas keyakinan umat Kristiani yang meyakini Nabi Isa sebagai Tuhan dan membenarkan kelahiran Nabi Isa terjadi pada tanggal 25 Desember.

Pendapat ini merujuk pada al Qur’an surat al Furqan ayat 72. Persaksian palsu dalam ayat ini ditafsiri dengan hari-hari raya orang musyrik. Diantara ulama yang menafsirkan demikian adalah Abu al ‘Aliyyah, Thawus, Ibnu Sirin dan satu riwayat dari Ibnu ‘Abbas.

Kedua, mengucapkan selamat natal dianggap menyerupai umat Kristiani. Hal ini dilarang berdasarkan hadis riwayat Abu Daud, “Siapa yang menyerupai suatu kaum, ia termasuk golongan kaum tersebut”.

Baca Juga:  Fikih Toleransi (1) : Konsep Toleransi dalam Fikih

Sementara pendapat yang membolehkan mengucapkan selamat natal sebagai ekspresi perbuatan baik terhadap sesama manusia. Hal ini sangat dianjurkan oleh al Qur’an (QS. al Baqarah: 83).

Dalil kedua juga ayat al Qur’an (QS. Maryam: 33), di mana Nabi Isa mengucapkan selamat atas kelahirannya.

Berdasarkan dua ayat ini, maka sebagian ulama, seperti Habib Umar bin Hafidz dan Dewan Fatwa Mesir membolehkan muslim mengucapkan selamat natal kepada umat Kristiani.

Karena itulah, sebagai bagian dari etika sosial dalam merawat kerukunan yang tidak mengaitkan persoalan keyakinan, mengucapkan selamat kepada non muslim adalah bagian dari etika toleransi Islam. Tentu saja, umat Islam tidak akan terkurangi kadar keislamannya dengan berbuat baik terhadap yang berbeda.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

hadiah dari non muslim

Fikih Toleransi (5): Menerima Hadiah dari Non Muslim

Rasulullah adalah manusia paling sempurna dalam segala aspek kehidupannya; paling sempurna ibadahnya, pribadi yang paling …

hidangan non muslim

Fikih Toleransi (4) : Memakan Hidangan Non Muslim

Agama Islam membolehkan memakan makanan apa saja yang penting halal, demikian juga minuman. Maka, meskipun …