Salam
salam

Waktu Dimakruhkan Mengucapkan Salam

Seperti telah maklum, mengucap salam ketika bertemu dengan saudara seagama, ketika bertamu atau di saat momen tertentu hukumnya sunnah, sementara bagi orang yang diberi salam wajib menjawabnya. Di samping itu, mengucapkan salam mampu merekatkan ukhuwah Islamiyyah, menghilangkan permusuhan, dan hubungan dengan saudara seiman bertambah mesra.

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al ‘Ash, Ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah, “Apakah (amal dalam) Islam yang paling baik?”. Rasulullah bersabda, “(Yaitu) kamu memberi makan (orang yang membutuhkan) dan mengucapkan salam kepada orang (muslim), baik yang kamu kenal maupun tidak kenal”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Adapun etika mengucapkan salam juga dijelaskan oleh Nabi.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Nabi bersabda, “Hendaklah yang kecil memberi salam kepada yang lebih tua, hendaklah yang berjalan memberi salam kepada yang duduk, hendaklah yang sedikit memberi salam kepada yang lebih banyak”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dua hadis di atas telah cukup sebagai dalil sunnahnya mengucapkan salam. Mengucapkan salam berarti mentradisikan sunnah Nabi dan juga sebagai media perekat persatuan, persaudaraan dan silaturahmi.

Para ulama sepakat bahwa hukum asal mengucapkan atau memberi salam kepada sesama muslim adalah sunnah. Namun begitu, ada waktu-waktu tertentu yang dimakruhkan untuk memberi salam.

Imam Nawawi dalam kitabnya Al Adzkar al Nawawi menjelaskan, pada asalnya, hukum memberi salam kepada sesama muslim hukumnya sunnah. Tetapi dalam kondisi tertentu memberi salam hukumnya makruh. Makruh berarti memberi salam tidak dianjurkan.

Di antaranya, makruh memberi salam kepada orang yang sedang buang air kecil (atau buang hajat), memberi salam kepada orang yang sedang bersetubuh dan semisal keduanya. Bagi orang yang sedang buang air kecil atau besar dan orang yang sedang senggama, tidak wajib menjawab salam orang lain. Makruh juga memberi salam kepada orang yang sedang tidur atau orang yang sedang mengantuk, sedang shalat, adzan dan Iqamah.

Baca Juga:  Kaidah Fikih Cabang Kelima: Menghargai Tradisi

Lebih lanjut Imam Nawawi menjelaskan, makruh memberi salam kepada orang yang berada di kamar mandi atau WC, kepada orang yang sedang makan, dan kepada orang yang sedang membaca khutbah Jum’at.

Inilah waktu atau kondisi dimana memberi salam hukumnya makruh. Apabila kita sedang dalam kondisi tersebut, lalu ada orang yang memberi salam, kita tidak wajib menjawabnya. Sebagaimana diketahui, hukum memberi salam selain kondisi yang telah disebutkan adalah sunnah dan menjawabnya wajib.

Bagikan Artikel

About Khotibul Umam

Avatar
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri