mengucapkan selamat
mengucapkan selamat

Perdebatan Hukum Mengucapkan Selamat Hari Raya kepada Penganut Agama Lain

Kisruh media terjadi setelah beredarnya video Menaq Yaqut Cholil Qoumas yang menyampaikan Selamat Hari Raya Naw Ruz 178 EB, hari raya umat Baha’i setelah menunaikan ibadah puasa. Video tersebut ramai dibicarakan dan menuai pro kontra.

Sebelum menyikapi hukum boleh dan tidaknya mengucapkan selamat hari raya kepada penganut agama lain, alangkah baiknya untuk mengenal lebih dulu apa itu agama Baha’i, apakah merupakan aliran atau sekte dari agama tertentu atau agama yang independen?

Pihak Kemenag sendiri telah melakukan penelitian mendalam terhadap agama Baha’i. Nuhrison M. Nuh, salah satu peneliti kemenag tentang agama Baha’i mengungkapkan, agama Baha’i adalah agama yang independen dan bersifat universal, ia bukan sekte atau aliran dari agama lain.

Hal ini ditegaskan Nuhrison karena selama penelitian tidak diketemukan bukti dan fakta tentang keterkaitan agama Baha’i dengan agama lain, termasuk Islam.

Dikutip dari Kemenag.go.id, Nuhrison menyampaikan, “Meskipun tampaknya memiliki kesamaan dengan peribadatan Islam (seperti sembahyang, puasa, ziarah dan lainnya), tetapi pada praktiknya tata cara peribadatan yang mereka lakukan sama sekali berbeda”.

Kalau begitu, ucapan Selamat Hari Raya Naw Ruz 178 EB yang disampaikan oleh Yaqut Cholil Qoumas sama seperti ucapan selamat hari raya yang disampaikan kepada agama lain, seperti ucapan Selamat Hari Raya Imlek, Natal dan lain-lain.

Hukum Mengucapkan Selamat Hari Raya Kepada Penganut Agama Lain

Karena agama Baha’i adalah agama yang independen dan tidak berkaitan dengan agama lain, maka ucapan Selamat Hari Raya Naw Ruz 178 EB sama persis dengan ucapan Selamat Natal yang sampai saat masih menjadi perdebatan. Sebagian ulama ada yang mengharamkan dan ulama yang lain membolehkan. Hal ini, karena baik al Qur’an dan hadis tidak ada yang secara tegas (sharih) melarang atau memerintahkan.

Baca Juga:  Bersiap Mengeluarkan Zakat Fitrah, Perhatikan Waktu, Kadar, dan Jenisnya

Di antara ulama yang membolehkan mengucapkan selamat hari Natal adalah Syaikh Yusuf al Qardhawi, Syaikh Ali Jum’ah, Syaikh Mushthafa Zarqa’, Syaikh Nashr Farid Washil, Syaikh Abdullah bin Bayyah, Syaikh Ishom Talimah, Majelis Fatwa Mesir, Majelis Fatwa Eropa dan lain-lain.

Adapun ulama yang mengharamkan adalah Syaikh Bin Baz, Syaikh Ibrahim bin Ja’far, Syaikh Utsaimin, Syaikh Ja’far al Thalhawi dan lain-lain.

Masing-masing dua pendapat tersebut dikuatkan dengan hujjah masing, baik al Qur’an maupun hadis. Kelompok ulama yang membolehkan mengucapkan selamat hari raya kepada penganut agama lain adalah al Qur’an surat al Mumtahanah ayat 8.

Allah berfirman, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangi kamu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”.

Dalil kedua adalah hadis riwayat Malik bin Anas. “Dahulu da anak orang Yahudi yang selalu melayani (membantu) Nabi, suatu ketika ia sakit. Maka Nabi mendatanginya untuk menjenguknya, beliau duduk didekat kepalanya, kemudian berkata, “Masuk Islam lah”, maka anak Yahudi tersebut melihat ke arah ayahnya yang ada disampingnya, maka ayahnya berkata, “Taatilah Abul Qasim (Nabi Muhammad)”. Maka anak itu masuk Islam. Kemudian Nabi keluar seraya bersabda, “Segala puji bagi Allah yang menyelamatkannya dari neraka”. (HR. Bukhari).

Dua dalil primer, al Qur’an dan hadis ini, dijadikan hujjah oleh ulama yang membolehkan mengucapkan selamat Natal, demikian juga selamat hari raya kepada penganut agama lain. Mengucapkan selamat hari raya kepada penganut agama lain masuk dalam konteks berbuat baik dan adil kepada non muslim yang tidak memerangi dan tidak mengusir umat Islam dari negerinya.

Baca Juga:  Sudah Tak Proporsional, Wamenag Minta Polemik Agama Baha’i Dihentikan

Hadis di atas juga sebagai hujjah bolehnya menjadikan non muslim sebagai pembantu dan bolehnya menjenguk non muslim yang sakit sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar al ‘Asqalani dalam Fathul Barunya.

Nabi, pada hadis tersebut, memberikan uswah hasanah bagaimana sikap yang semestinya dilakukan kepada non muslim yang berbuat baik kepada umat Islam. Umat Islam juga harus berbuat baik kepada mereka, termasuk menghargai mereka dengan mengucapkan selamat hari raya.

Sedangkan dalil ulama yang tidak membolehkan mengucapkan selamat hari raya kepada penganut agama lain adalah al Qur’an surat al Furqan ayat 72.

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya”.

Juga hadis Nabi Nabi riwayat Ibnu Umar, “Barang siapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian kaum tersebut”. (HR. Abu Daud).

Mengucapkan selamat Natal dan selamat hari raya kepada penganut agama lain masuk dalam konteks ayat memberikan kesaksian palsu dan membenarkan agama selain Islam. Berdasarkan keumuman ayat ini maka mengucapkan selamat hari raya kepada penganut agama lain hukumnya haram.

Hadis tasyabbuh di atas menjadi dalil kedua haramnya mengucapkan selamat hari raya kepada penganut agama lain karena dengan begitu berarti telah ikut dalam tradisi non muslim. Maka ia serupa dengan mereka dan menjadi bagian dari merekalah.

Kesimpulan

Dari uraian ini bisa disimpulkan, baik kelompok ulama yang membolehkan mengucapkan selamat hari raya kepada penganut agama lain dan kelompok ulama yang mengharamkan sama-sama mengacu pada keumuman ayat dan hadis yang dipakai sebagai hujjah untuk menguatkan pendapat masing-masing. Artinya, masalah ini masuk pada wilayah ijtihadi yang konsekuensinya pasti terjadi khilafiyah.

Baca Juga:  Heboh Agama Baha’i, Ini Penjelasan Ustaz Adi Hidayat Tentang Asal Usulnya

Dengan demikian, ucapan Selamat Hari Raya Naw Ruz 178 EB yang disampaikan oleh Menag Yaqut Cholil Qoumas adalah sah-sah saja. Apalagi dalam kapasitas beliau sebagai menteri agama yang berkewajiban mengayomi dan menghormati semua agama yang ada di Indonesia.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

anal seks

Fikih Berbicara Anal Seks

Ramai publik membicarakan hubungan ranjang yang abnormal dan tidak semestinya. Ya, anal seks lagi hebohnya …

santri tutup telinga

Geliat Pengharaman Musik yang Makin Menggelinjang

Tak berapa lama berselang, viral video sekelompok santri yang menutupi telinganya karena ada suara musik …