Hari Raya Islam Pengganti Hari Raya Masyarakat Jahiliyah
Hari Raya Islam Pengganti Hari Raya Masyarakat Jahiliyah

Hari Raya Islam Pengganti Hari Raya Masyarakat Jahiliyah

Dalam bulan Dzulhijjah, kaum muslimin kini tengah bersiap untuk merayakan hari Raya Idul Adha. Selain Idul Adha umat Islam juga memiliki hari raya lain yakni Hari Raya Idul Fitri.

Idul adha sering dimaknai dengan penyembelihan hewan kurban yang akan dibagikan oleh warga sekitar, terutama adalah warga yang kurang mampu. Perayaan Idul Adha ini dilakukan bersamaan dengan ritual ibadah haji di Mekkah saat para jamaah tengah Wukuf atau istirahat di Arafah.

Lain halnya dengan Hari Raya Idul Fitri yang dimaknai dengan hari kemenangan, di mana selama sebulan penuh berpuasa menahan hawa nafsu tibalah kaum muslimin di hari yang fitri. Seluruh umat Islam sudah mempersiapkan diri untuk memaafkan dan juga dimaafkan.

Setelah turunnya kewajiban menunaikan ibadah puasa Ramadhan pada dua Hijriyah, sesuai dengan hadist yang diriwayatkan Abu Dawud dan An-Nasa’i, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya itu dengan hari raya yang lebih baik, yakni Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR Daud dan Nasa’i).

Ternyata pada jaman dahulu, Jauh sebelum Islam datang masyarakat arab di jaman Jahiliyah sebenarnya juga memiliki dua hari raya, yakni hari raya Niruz dan Hari Raya Mihrajan. Hari Raya  Nairuz dan Hari Raya  Mihrajan merupakan tradisi hari raya yang berasal dari zaman Persia Kuno.

Pada saat Nabi Muhammad sedang di Madinah, orang Madinah memiliki kebiasaan merayakan hari Nairuz dan Mihrajan. Nairuz adalah hari di awal tahun baru Masehi (syamsiyyah) versi Majusi. Beberapa kamus Arab menjelaskan demikian definisi Nairuz, semisal kamus AL-Lughah Al-Arabiyyah AL-Mu’aashir dijelaskan, “Nairuz adalah hari pertama pada tahun syamsiyyah versi Persia (bangsa Majusi saat itu).”

Hari Nairuz, penduduk Mesir berlebih-lebihan melakukan dan merayakannya. Nairuz adalah hari pertama pada tahun Qibhti yang mereka menjadikannya sebagai hari raya (diperingati setiap tahun), kemudian kaum muslimin mengikuti mereka (tasyabbuh). Sedangkan Mihrajan hari raya 6 bulan setelahnya.

Baca Juga:  Dakwah Era Virtual

Karena mengetahui tradisi yang dimiliki kaum Jahiliyah tersebut maka Nabi Muhammad mengingatkan bahwa umat Islam sudah mempunyai dua hari raya yaitu Idul Fitri dan Idul Adha, jadi diharapkan umat Islam tidak perlu ikut-ikutan merayakan hari raya tersebut.

Sahabat ‘Abdullaah berkata, ”Barangsiapa yang membangun negeri-negeri kaum ‘ajam (negeri kafir), meramaikan hari raya Nairuz dan Mihrajan (perayaan tahun baru mereka), serta meniru-niru mereka hingga ia mati dalam keadaan seperti itu, ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.”

Di setiap dua hari raya itu, orang Arab Jahiliyah menggelarnya dengan pesta-pora. Mereka memainkan berbagai pertunjukan. Seperti tari tarian perang maupun tari ketangkasan. Mereka juga merayakan hari raya dengan bernyanyi dan menyantap hidangan lezat serta minuman yang memabukkan.

Namun setelah Islam datang, Allah telah mengganti isi kedua hari besar Islam dengan hal yang jauh dari kandungan dosa, seperti meminum khamr, melakukan tari-tarian. Hari raya idul adha dan idul fitri merupakan dua hari raya umat Islam yang memuat unsur relijius, spiritual dan sosial sekaligus.

Dengan demikian, Allah membatalkan dua hari raya, Nairus dan Mahrajan, yang selama ini diperingati masyarakat Arab Jahiliyah. Dia kemudian menetapkan syariat dua hari raya yang kemudian dikenal dalam Islam, Idhul Adha dan Idhul Fitri. Karena itulah, dalam merayakan kedua hari raya tersebut, umat Islam tidak hanya terpaku dengan kemeriahan apalagi hingga diperingati dengan pesta pora. Hari raya adalah momen relijius yang penuh makna. Kegembiraan hari raya bukan untuk pesta pora tapi untuk memberikan kasih sayang kepada sesama.

Bagikan Artikel

About Imam Santoso

Avatar