kuliner non halal

Polemik Festival Kuliner Non Halal: Keresahan, Lemahnya Edukasi Umat dan Ujian Toleransi

Sejatinya toleransi kita tidak baik-baik saja. Hanya mengakui tetapi tidak memberikan hak sosial dan politik yang setara. Masih muncul egoisme ketika yang berbeda tampil di ruang publik. Toleransi pun hanya lips service.

“Kami menghormati perbedaan, kami toleran, tapi..”. Kata “tapi” selalu menjadi penegas untuk memberikan batasan kepada yang lain. Salah satu contoh misalnya Festival Kuliner nonhalal bertajuk Festival Pecinan Nusantara yang sempat menimbulkan polemik. Walaupun acara ini sudah kelar dan sukses, tetapi sebelumnya muncul persoalan.

Acara yang diselenggarakan di Mal Solo Paragon Surakarta, Jawa Tengah itu sempat dihentikan karena muncul pro kontra salah satunya dari Ormas Dewan Syariah Kota Surakarta DSKS. Bahkan konon, mereka sempat mendatangi lokasi kegiatan yang menyebabkan kegiatan berhenti sementara.

Berapa poin yang disampaikan perwakilan DSKS misanya mengimbau umat muslim untuk tidak tidak ikut dalam festival tersebut. Mereka juga keberatan dengan spanduk pemberitahuan yang dinilai terlalu vulgar. Menurutnya, pemberitahuan seharusnya terpasang secara terbatas dan tidak terlalu vulgar.

Tak sampai di situ, Aliansi Ummat Islam Karanganyar (AUIK) juga mendatangi PT Lombok Gandaria, di Karanganyar yang disinyalir juga menjadi sponsor acara tersebut. Pihak sponsor akhirnya mengkornfirmasi menarik diri dari acara tersebut.

Ini mengingatkan kita ketika bulan Ramadan. Umat Islam harus dihormati ketika berpuasa dan seolah seluruh warung harus ditutup atau setidaknya terbatas agar menghormati bulan suci. Atau dengan kata lain, jangan ada aktivitas yang dapat mempengaruhi umat Islam untuk berbuka di siang hari.

Sejatinya problemnya adalah keresehan mayoritas atas segelintir aksi dan kreasi kelompok kecil. Seolah mayoritas terganggu dengan hadirnya aktivitas yang dapat menggangu mayoritas. Memang mereka toleran dan menghargai perbedaan, tetapi ruang publik jangan diambil dan dihiasi dengan yang berbeda.

Terlihat memang ada keresahan seolah umat Islam akan mengkonsumsi non halal atau dalam kasus puasa, ketika warung buka, akan banyak oknum umat Islam yang batal puasa. Sejatinya jika mau instropeksi berarti faktor edukasi dan dakwah internal umat Islam yang belum kokoh.

Keresehan timbul karena tokoh agama menganggap iman umat Islam belum kuat. Jika memang sudah kokoh, tidak mungkin umat Islam akan terganggu dengan adanya label non halal. Banyak makanan di Mall dan warung yang ada tanda non halal yang vulgar dan umat Islam secara sadar tidak membelinya. Justru informasi yang vulgar penting agar umat Islam aware bahwa itu adalah makanan non halal dan bukan pameran kuliner halal.

Umat Islam seolah selalu dipandang lemah iman oleh para tokoh agamanya. Jika ada non muslim memberikan bantuan sosial dianggap mempunyai kepentingan misionaris. Seolah iman umat Islam bisa goyah dengan mie instan. Lalu, kenapa dakwah tokoh agama juga tidak dakwah praktek bantuan sosial untuk mengokohkan iman umat Islam?

Label Halal yang ada di setiap makanan sudah bentuk privilege tersendiri bagi umat Islam. Non muslim rasanya tidak keberatan. Bahkan mereka harus menyantumkan non halal agar saudara muslimnya tidak mengkonsumsinya. Penegasan non halal sengaja dimunculkan agar umat Islam tidak mengkonsumsinya.

Jika tokoh agama selalu resah dengan lemahnya iman umat Islam khususnya generasi muda, mereka harus gencarkan dakwah dan literasi halal bukan dengan cara keberatan terhadap tetangga yang sedang menggelar hajatan. Perlihatkan Islam berwibawa dengan menampilkan umat dengan iman yang kuat di tengah keragaman. Iman yang tidak goyang karena warung buka di bulan Ramadan dan ada gelaran kuliner non halal.

Bagikan Artikel ini:

About Farhan

Check Also

tionghoa dan islamisasi nusantara-by AI

Jejak yang Terlupakan: Etnis Tionghoa dalam Islamisasi Nusantara

Seberapa sering kita mendengar nama-nama besar dalam sejarah Islam di Nusantara? Seberapa banyak kita mengingat …

kubah masjid berlafaskan allah 200826174728 473

Segala Sesuatu Milik Allah : Jangan Campuradukkan Pemikiran Teologis dengan Etika Sosial

Segala sesuatu yang di alam semesta adalah milik Allah. Dialah Pencipta dan Raja segala raja …