Kh Robikin Emhas
KH Robikin Emhas

Polisi Ngaji Kitab Kuning, PBNU: Keren, MUI: Bagus Untuk Belajar Islam Moderat

Jakarta – Calon Kapolri Komjen Listyo Sigit Prabowo dinyatakan lolos uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) untuk menjadi Kapolri menggantikan Jenderal Idham Azis. Dalam uji kepatutan dan kelayakan di Komisi III DPR, Rabu (201/12021) itu Listyo menyatakan akan mewajibkan anggotanya belajar kitab kuning, pembelajaran keagamaan Islam yang lazim diajarkan di pesantren-pesantren.

Menurut Listyo, ide itu berasal dari para ulama yang pernah ia mintai pendapat saat menjabat Kapolda Banten. Cara itu dinilai sebagai upaya untuk mencegah masuknya radikalisme dan terorisme di kalangan anggota Polri.

Ketua Harian PBNU KH Robikin Emhas menilai, ngaji kitab kuning untuk anggota Polri akan sangat bagus jika tujuannya agar penegakan hukum yang dilakukan Polri mengacu pada tuntunan agama seperti yang diajarkan dalam kitab kuning.

Ngaji kitab kuning? Kalau yang dimaksud adalah membekali nilai-nilai agama dengan cara pandang kitab kuning, itu keren agar keadilan menjadi kiblat penegak hukum, ikhlas melaksanakan tugas dan rendah hati bersikap,” ujar Robikin dalam cuitannya di akun Twitter @robikinemhas dikutip, Jumat (22/1/2021).

Robikin mengatakan, dengan penegakan hukum yang adil, tidak ada lagi cerita seseorang kehilangan kambing. Namun ketika lapor ke polisi korban justru merugi karena harus kehilangan biaya yang lebih besar lagi shingga tak ada sapi melayang karena lapor kambing hilang.

Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia KH Cholil Nafis mengatakan, belajar kitab kuning bagi polisi harus dimaknai bagaimana kiai yang alim mengajarkan kepada santri yang mengaji, dalam konteks ini polisi sebagai santri, tentang Islam wasathi atau moderat.

Hasil ngaji tersebut kemudian diterapkan oleh polisi sebagai pengayom masyarakat bermitra dengan ulama.

Baca Juga:  Dukung Anggota Polri Belajar Kitab Kuning, Gus Mis: Untuk Cegah Masuknya Ekstremisme ke Tubuh Polri

“Kiai yg alim, santri yg ngaji. Kemudian mengajar polisi ttg Islam wasathi kemudian direalisasikan polisi sbg pengayom masyarakat bermitra dengan ulama. Kitab kuning itu maknanya Islam washati,” katanya melalui akun Twitter @cholilnafis.

Menurutnya, belajar kitab kuning bagi polisi harus dipahami sebagai belajar Islam moderat, paham yang moderat. “Jangan sampai di polisinya justru ada radikalisme,” kata Kiai Cholil.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About redaksi

Avatar