tafsir
tafsir ahkam

Potret Tafsir al-Qur’an di Masa Mendatang

Sarjanawan tafsir di era kontemporer ini mulai berfokus untuk mendiskusikan seperti apa seharusnya bentuk, corak, metode serta sistematika penafsiran yang cocok dalam memahami ayat al-Qur’an di masa depan. Sebagai sebuah kitab suci yang memiliki kedudukan tertinggi serta terjaga keasliannya, al-Qur’an disebutkan sebagai kitab yang shahih likulli zaman wa makan. Artinya, perkembangan zaman tidak menjadikan lafaz di dalam al-Qur’an bergeser. Namun, berbeda halnya dengan pemaknaan atau interpretasi terhadap sebuah ayat yang sering mengalami perubahan dan perkembangan seiring berjalannya waktu.

Lahirnya penafsiran ayat secara kontektual menjadi titik tolak berkembanganya tafsir di era sekarang. Seiring dengan itu, berbagai metode dan pendekatan mulai disuguhkan hingga menjadikan al-Qur’an bersifat dinamis yang pada akhirnya penafsiran ayat al-Qur’an sampai pada titik temu dan terkoneksi dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Hal seperti ini dapat menjadi kesempatan emas bagi penafsir untuk mencoba menginterpretasi ayat sesuai dengan disiplin keilmuan yang ia geluti.

Bagaimana Menggagas Tafsir yang Cocok untuk Masa Depan?

Kebutuhan manusia akan tafsir al-Qur’an seiring berkembangnya waktu akan semakin meningkat. Mengingat ranah kajian tafsir tidak hanya digeluti oleh umat Islam saja, sarjanawan Barat juga turut mengkaji kitab yang menjadi rujukan utama umat muslim dunia ini. Namun perlu dipahami bahwa hakikat menafsirkan al-Qur’an bukanlah menunjukkan kepastian hasil penafsiran. Lebih dari pada itu, proses penafsira yang sesungguhnya dilihat pada usaha manusia dalam melakukan ikhtiar penggalian makna ayat al-Qur’an secara maksimal. Hal ini sejalan dengan riwat dari Rasulullah yang disampaikan oleh Ibnu Mas’ud, “al-Qur’an ini merupakan penjamuan dari Allah, maka pelajarilah hal tersebut sesuai tingkat kemampuanmu”.

Terkonsepkan sebuah bentuk tafsir al-Qur’an di masa depan, bahwasanya tafsir akan berkembang di dunia virtual. Era sekarang saja, kitab tafsir yang berjilid-jilid sudah mulai jarang untuk dibuka. Dunia masyarakat sudah dialihkan menjadi dunia kecil namun memiliki jangkauan yang sangat luas. Kemajuan teknologi menjadikan tafsir akan diakses secara langsung dalam dunia digital. Kondisi seperti inilah yang mendapat perhatian khusus dari ulama-ulama virtual, seperti ustadz Adi Hidayat, ustadz Syafiq Basalamah, Gus Baha dan lain sebagainya untuk menjadikan media sosial sebagai penyambung mulutnya dalam menjelaskan tafsir al-Qur’an. Terlebih di tahun 2020, ketika maraknya pandemi covid -19. Umat sudah tidak dapat lepas dari dunia virtual ini.

Untuk tercapainya tujuan tafsir yang tepat di masa depan, mufassir hendaknya memiliki kemapanan metodologi dalam penafsiran al-Qur’an. Metode penafsiran menjadi pisau analisis yang sangat efektif untuk membedah makna ayat. Metode yang efetif akan mampu menjadikan tafsir lebih baik dan mapan akan metodologi. Selain itu, metode yang utuh dapat menangkap makna dan pesan Tuhan serta akan lebih mudah diterima.

Selain metodologi yang tepat, nilai novelty atau kebaruan dalam penafsiran sangat dibutuhkan untuk tafsir di masa depan. Seperti yang disampaikan sebelumnya, berkembangnya zaman menjadi tututan untuk berkembangnya sebuah ilmu pengetahuan. Mengingat al-Qur’an diturunkan di tanah Arab yang panas, gersang serta kental akan budaya lokal, Maka, tidak akan pernah cocok lagi bila dibawa ke masa depan tanpa ada unsur-unsur kebaruan di dalamnya.

Potret tafsir al-Qur’an di masa depan akan dinilai ideal bila mana tidak menganut sistem fanatik mazhab. Dapat kita lihat kebelakang, bahwa tafsir sebelumnya masih kental dan memegang teguh mazhab masing-masing. Di masa depan, peertentangan antar mazhab tidak akan menjadikan tafsir dapat berkembang. Di sisi lain, melepaskan diri dari fanatisme terhadap mazhab yang dianut akan menjadikan tafsir lebih orisinal dan mudah diterima. Karna pada dasarnya, al-Qur’an adalah rahmat bagi seluruh alam.

Terakhir, penulis membayangkan bahwa sebuah tafsir yang digagas untuk masa depan hendaklah saling terkoneksi dengan keilmuan yang lain. hal ini karena memang tafsir dibutuhkan untuk memecahkan berbagai persoalan yang berkembang di masa depan yang meliputi issu-issu kontemporer seperti oligarki ekonomi, trafficking, pemanasan global, maraknya muamalat kontemporer yang belum jelas hukumnya, global warming dan lain sebagainya.

Bagikan Artikel ini:

About Sri Kurniati Yuzar

escortescort