Al-Qur’an menjadi pedoman sentral dan tuntunan berkehidupan bagi umat manusia. Sebagai kitab suci yang memuat pesan-pesan ilahi tentunya membutuhkan sosok yang juga dipercaya Sang Pemilik pesan untuk menterjemahkan pesan-pesan-Nya.

Sang penafsir pertama atas firman-firman-Nya haruslah orang yang mendapat mandat langsung menjadi mediator pertama untuk kemudian dilanjutkan oleh generasi berikutnya secara turun temurun. Dalam konteks inilah risalah kenabian menempati fungsi urgensitasnya.

Dengan diutusnya sosok pilihan sekaligus juga diberi tanggung jawab untuk menjaga, memelihara, dan menyampaikan sejelas-jelasnya kepada umat manusia. Oleh karena itu, Nabi Muhammad diberikan otoritas untuk menjelaskan dan menafsirkan Al-Qur’an. Nabi Muhammad sangat memahami isi kandungan Al-Qur’an, baik secara global maupun secara terperinci.

Demikian pula dengan para sahabat yang menjadi saksi sejarah turunnya Al-Qur’an. Mereka sangat memahami Al-Qur’an yang memang diturunkan dengan menggunakan bahasa mereka. Meskipun di antara mereka tidak sama dalam derajat pemahamannya.

Mufasir di Kalangan Sahabat

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya mengatakan: “Al-Qur’an diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab dan struktur retorika bahasa mereka (para sahabat). Mereka sangat memahami makna-makna Al-Qur’an melalui kosa kata dan redaksinya.

Namun, di samping itu, mereka berbeda-beda tingkat pemahamnnya. Ada yang tidak paham tentang suatu makna, tetapi yang lain dapat memahami, sehingga mereka saling melengkapi satu sama lain.

Ungkapan senada juga dinyatakan oleh Ibnu Qutaibah: “Sesungguhnya pengetahuan bangsa Arab tentang semua isi kandungan Al-Qur’an tidaklah setara. Namun, sebagian mereka memiliki pemahaman yang lebih terhadap sebagian yang lain.”

Dalam menafsirkan Al-Qur’an para sahabat berpedoman terhadap tiga hal: pertama, Al-Qur’an. Sudah maklum bahwa antara ayat-ayat Al-Qur’an saling menafsiri satu sama lain. Ayat yang bersifat global di satu tempat akan menemukan penjelasan secara terperinci di tempat yang lain. Hal ini yang dikenal dengan istilah tafsir ayat dengan ayat.

Kedua, Rasulullah. Ketika Rasululah masih hidup beliaulah tumpuan segala persoalan termasuk dalam memahami Al-Qur’an. Ketika sahabat mengalami kesulitan (muskil) dalam memahami ayat, mereka langsung konfirmasi kepada Rasulullah.

Ibnu Mas’ud berkata: pada saat turun ayat yang menjelaskan bahwa orang yang akan mendapatkan keamanan dan petunjuk dari Tuhan adalah mereka yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman (QS. Al-An’am, 6: 82). Para sahabat kebingungan dalam memahami ayat tersebut dan bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, siapakah di antara kami yang tidak pernah berbuat zalim terhadap diri sendiri”.

Lalu Rasulullah menjawab, “Zalim yang dimaksud dalam ayat itu tidak seperti yang kalian pahami, bukankah kalian sudah mendengar perkataan seorang hamba yang shalih (Luqman) saat berwasiat kepada anaknya bahwa sesungguhnya syirik itu merupakan perbuatan zalim yang besar (QS. Luqman, 31: 13).”

Ketiga, pemahaman dan ijtihad mereka. Setelah Rasulullah wafat, dalam menafsirkan Al-Qur’an, jika para sahabat tidak menjumpai penjelasan dari ayat Al-Qur’an sendiri, dan tidak menemukan keterangan yang bersumber dari Rasulullah, maka mereka melakukan ijtihad untuk memahami Al-Qur’an. Sebagaimana dijelaskan di awal bahwa mereka sangat memahami bahasa Arab, struktur retorika dan garamatikalnya.

Para mufasir yang terpopuler dari kalangan sahabat antara lain: khalifah yang empat (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali), Ibu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-‘Asy’ari, Abdullah bin Zubair, Anas bin Malik, Abu Hurairah, Jabir, Abdullah bin Amr bin Ash, dan Aisyah. Riwayat terbanyak dari kalangan khalifah yang empat adalah Ali bin Abi Thalib, sementara tiga sisanya sangat jarang, dikarenakan yang terakhir lebih dulu wafat.

Keunggulan Ali dalam hal riwayat ini pernah disampaikan Ma’mar dari Wahb bin Abdullah dari Abi Thufail dia berkata: “aku pernah menyaksikan Ali berpidato dan berkata: bertanyalah kepadaku, demi Allah kalian tidak akan bertanya tentang suatu hal kecuali aku bisa menjawabnya, bertanyalah tentang Kitabullah, demi Allah tidak ada satupun ayat yang turun kecuali aku mengetahuinya, apakah turun di waktu malam atau siang, apakah turun di lemabh atau di bukit”.

Hal itu menunjukkan betapa Ali sangat memahami tentang seluk beluk Al-Qur’an. Akan tetapi, riwayat dari Ali masih dikalahkan jumlahnya oleh riwayat dari Ibnu Mas’ud. Ibnu Jarir mengabarkan bahwa Ibnu Mas’ud pernah berkata: demi dzat yang tidak ada Tuhan selain Dia, tidak ada ayat Al-Qur’an yang turun kecuali aku mengetahuinya, kepada siapa ia ditujukan dan di mana ia diturunkan, andaikan aku tahu bahwa ada seseorang yang lebih paham tentang Al-Qur’an dari pada aku, niscaya aku akan mendatanginya.”[]

Wallahu ‘alam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.