Pertemuan keluarga para pendiri NU
Pertemuan keluarga para pendiri NU

Prihatin Situasi Memanas Jelang Muktamar, Keturunan Pendiri NU dan Keluarkan 3 Imbauan

Jombang  – Jelang Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU), situasi semakin memanas. Masalah jadwal pelaksanaan Muktamar yang awalnya digelar 23-25 Desember 2021, sejauh ini belum ada kepastian. Jadwal itu akhirnya dibatalkan karena pada saat itu pemerintah kembali menetapkan aturan PPKM Level 3 di seluruh Indonesia sebagai upaya mencegah penyebaran Covid-19 saat Hari Natal dan Tahun Baru.

Pihak Pengurus Besar NU (PBNU) pun mengundur jadwal muktamar itu menjadi akhir Januari 2022. Namun keputusan itu ditentang kelompok yang meminta Muktaramar dimajukan seminggu dari jadwal awal atau sebelum pelaksanaan PPKM Level 3. Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) adalah orang yang paling vokal menyuarakan penolakan pengunduran jadwal muktamar.

Kondisi itu membuat para keturunan pendiri NU atau Dzurriyah Muassis prihatin. Mereka pun menggelar pertemuan khusus di Rumah Pengasuh Ponpes Tebuireng, Jombang, Rabu (1/12) malam. Dalam pertemuan tersebut, Dzurriyah Dzurriyah NU mengeluarkan tiga imbauan khusus kepada PBNU dan warga nahdliyin.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh masing-masing wakil keluarga pendiri NU untuk meredakan ketegangan di internal NU utamanya di kalangan PBNU. Karena, ketegangan saat ini dianggap bisa menjurus ke perpecahan jika tidak segera diredakan.

Dzurriyah Muassis NU sengaja berkumpul di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Dzurriyah KH Hasyim Asy’ari, KH Fahmi Amrullah Hadziq selaku tuan rumah mengatakan,  mereka datang atas inisiatif sendiri untuk membahas dinamika yang terjadi jelang Muktamar NU.

“Masing-masing datang atas inisiatif sendiri-sendiri, tidak ada yang mengatur, tidak ada yang membiayai karena didasari oleh keprihatinan atas kondisi PBNU akhir-akhir ini,” ujar Gus Fahmi, sapaan akrab KH Fahmi Amrullah Hadziq dalam keterangan tertulis dikutip dari laman Republika.co.id, Kamis (2/12).

Setelah keluarga para pendiri NU tersebut melakukan diskusi dan musyawarah, akhirnya disepakati tiga hal yang merupakan imbauan dan ajakan bagi seluruh jam’iyyah NU.

Baca Juga:  Ketua Komisi X Saiful Huda Kritik Kemendikbud Yang Kecolongan Link Porno Di Buku Ajar

Poin pertama, mereka mengingatkan bahwa niat para muassis mendirikan jam’iyyah NU adalah untuk membangun ukhuwwah (persaudaraan). “Maka kita berharap kepada para pengurus, hendaknya menjaga ukhuwah ini,” ucap Gus Fahmi.

“Jangan sampai kemudian apa yang disampaikan oleh Hadratus Syaikh, pesan beliau janganlah perbedaan itu menyebabkan perpecahan. Maka, ini harus kita pegang, para pengurus terutama hendaknya memegang dawuh (amanat) ini,” jelasnya.

Poin kedua, mereka mengimbau agar hendaknya semua pihak mengedepankan akhlakul karimah dengan menjaga tradisi tabayun.

“Tidak mengeluarkan keputusan sendiri-sendiri. Karena bagaimanapun juga pengurus itu bukan personal tetapi kolektif kolegial. Jadi hendaknya keputusan itu diambil secara bersama-sama musyawarah untuk mufakat,” kata Gus Fahmi.

Poin ketiga, Dzurriyah Muassis NU berharap kepada semua pihak, terutama kiai-kiai sepuh untuk menahan diri, tidak melakukan aksi dukung mendukung terhadap salah satu pihak.

“Apa yang dilakukan oleh kiai-kiai ini memberikan dukungan kepada salah satu pihak akan berpotensi menyebabkan perpecahan. Jadi sebaiknya masing-masing bisa menahan diri,” ucapnya.

Gus Fahmi mengajak agar menjaga suasana tetap sejuk, tetap damai, sehingga semua yang dicita-citakan dapat tercapai. “Kalaupun ingin mendukung sebaiknya tidak perlu dipublikasikan dan tidak diumumkan karena berpotensi memecah belah,” ujarnya.

Selain KH Fahmi Amrullah Hadziq, para dzurriyah yang turut hadir dalam pertemuan tersebut antara lain, KH Sholahudin atau Gus Udin (Dzurriyah KH. Ridwan Abdullah), KH Wahab Yahya atau Gus Wahab (Dzurriyah KH. Wahab Chasbullah), KH. Hasyim Nasir atau Lora Hasyim (Dzurriyah Syaikhona Kholil), KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin (Pengasuh Ponpes Tebu Ireng) dan Gus Mahasin (Kakak Kandung Gus Baha).

Sementara itu, KH Abdul Wahab Yahya selaku dzuriyyah Mbah Chasbulloh Tambakberas Jombang, yang juga merupakan Majlis Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum menyampaikan keprihatinannya.

Baca Juga:  Wapres Minta Jaga Kekompakan NU Pasca-Muktamar

“Sebagai Panglima Asparagus Nusantara, saya menyampaikan keprihatinan yang sedalam-dalamnya terkait proses berjalannya agenda Muktamar. Yang berpotensi perpecahan Nahdliyin akibat polarisasi dukung mendukung yang jauh dari ahlaqul karimah dan  jauh dari amanat pendiri Nahdlatul Ulama,” kata Gus Wahab.

Panglima Aspirasi Lora dan Gus (Asparagus) Nusantara ini berharap, semua pihak bisa bersama-sama mengikhtiarkan tercapainya perdamaian dan persatuan kembali dalam keluarga besar NU. Tidak lupa, Gus Wahab juga berdoa agar semoga Muktamar ke-34  NU diberikan keberkahan, kelancaran dan kemaslahatan bagi umat NU pada khususnya dan Indonesia secara umumnya.

Dukungan terhadap tiga poin imbauan Dzurriyah Muassis NU ini disampaikan oleh kiai NU dari Banjarnegara, KH Khayatul Makki. Pemimpin Pondok Pesantren Tanbihul Ghofiliin yang akrab dipanggi Gus Khayat ini mendukung penuh hasil keputusan musyawarah Dzurriyah Muassis NU.

“Saya sepakat dan mendukung dengan imbauan dari Dzurriyah Muassis NU. Semoga ini dapat dipatuhi dan dilaksanakan oleh seluruh warga Nahdliyin. Sehingga NU dapat terus bersatu dan suasana jelang Muktamar ke-34 NU menjadi lebih sejuk berlangsung dalam suasana kekeluargaan dan dapat menghasilkan pemimpin terbaik yang kelak bermanfaat bagi kemajuan NU dan Bangsa Indonesia,” Jelas Gus Khayat.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

undangan non muslim

Fikih Toleransi (6): Menghadiri Undangan Non Muslim

Toleransi yang sejatinya merupakan ajaran Islam mulai menipis, bahkan dianggap bukan ajaran Islam. Ini terjadi …

toleransi

Khutbah Jumat – Islam dan Toleransi

Khutbah Pertama اَلْحَمْدُ لله الَذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ وَهَدَانَا إلَى صِرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ صِرَاطِ الَذِيْنَ …