Bisri Mustofa
Bisri Mustofa

Revolusi Akhlak Ala KH Bisri Musthofa dalam Kitab Ngudi Susilo

Baru-baru ini, publik dihebohkan dengan istilah revolusi akhlak. Heboh karena erat kaitannya dengan kepulangan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab. Bahkan sekretaris umum FPI, Munarman, mengegaskan bahwa Habib Rizieq akan menyuarakan dan membawa serta memimpin revolusi akhlak.

Namun pada kesempatan kali ini, penulis tidak akan mengupas revolusi akhlak sebagaimana yang diusung oleh FPI, melainkan akan mengupas revolusi akhlak yang sudah jauh-jauh hari mempunyai niat yang tulus untuk mendidik, membangun karakter dan memperkuat akhlak mulia bagi segenap bangsa ini dalam kitab yang sangat masyhur di kalangan pesantren.

Adab dan etika (bisa disebut juga akhlak), sudah menjadi barang langka. Padahal, ia merupakan makhkota yang paling berharga yang ada dalam diri manusia. Dalam Islam, adab dan etika merupakan salah satu pilar ajaran yang memiliki kedudukan yang amat penting. Bahkan, kualitas muslim ditentukan oleh adab dan etika (akhlaknya).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (HR. Tirmidzi).

Banyak ayat Alquran maupun hadis yang berbicara tentang pentingnya adab dan etika. Bahkan, ulama besar Nusantara seperti KH. Bisri Mustofa mengarang kitab khusus tentang nilai-nilai adab dan etika sebagai bagi bekal anak-anak agar sukses di dunia dan akhirat. Kitab tersebut adalah “Ngudi Susilo”.

Kyai asal Rembang Jawa Tengah itu dalam menyampaikan pesan-pesan agama, khususnya tentang adab dan etika, menggunakan metode syi’ir (nyanyian). Tak ayal jika kitab Ngudi Susilo sangat populer di kalangan anak-anak Diniyyah karena di sana kitab ini dijadikan sebagai bahan ajar.

Baca Juga:  Indonesia Tak Perlu Ganti ‘Kelamin’ Menjadi Khilafah

Nilai Akhlak dalam Kitab Ngudi Susilo

Nilai adab dan etika atau akhlak dalam teks Syi’ir Ngudi Susilo sudah tergambarkan begitu jelas pada bagian pembukaan. KH. Mustofa Bisri tentu sangat tajam dalam menganalisa permasalahan yang sering terjadi di masyarakat. Bahkan, kitab Ngudi Susilo ini nampak memiliki harapan besar bahwa karyanya ini hendak menggerakkan anak-anak bangsa supaya menjunjung tinggi tata krama dan memiliki pribadi yang luhur serta berakhlak mulia.

Pada bagian awal, KH. Bisri Mustofa lebih menekankan bagaimana cara anak-anak bersikap kepada kedua orang tua, yakni harus membantu orang tua, selalu menaati perintah orang tua tanpa harus menunda-nunda, dan tidak boleh membantah orang tua karena hal tersebut bukanlah akhlak yang mulia. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam teks berikut ini:

Ibu bapa rewanggana lamun repot” (ketika Ibu dan Bapak sibuk, maka anak harus membantu)

Aja kaya wong gemagus ingkang wangkot” (Jangan seperti anak sombong keras kepala)

Lamun ibu bapak perintah inggal tandang” (Ketika diperintah ayah dan ibu, segera dilaksanakan)

Aja bantah aja sengol aja mampang” (Jangan membantah, jangan berbicara kasar dan jangan bandel).

 “Lamun ibu bapa duka becik meneng” (Ketika ayah dan ibu marah, lebih baik diam).

Cuplikan teks Syi’ir sebagaimana yang terdapat dalam kitab Ngudi Susilo di atas sangat menampar generasi saat ini. Betapa tidak. Banyak anak yang dengan enteng mengatakan kepada orang tuanya bahwa ia sedang sibuk, sehingga tidak bisa diganggu gugat, apalagi dimintai bantuan. Keras kepala juga menjadi karakter yang acapkali kita saksikan di mana-mana. Anak membantah orang tua juga menjadi fenomena lumrah terjadi.

Dalam kondisi seperti itulah, kitab Ngudi Susilo ini perlu dipelajari dan direnungi serta diperjuangkan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penulis meyakini bahwa, kitab-kitab seperti Ngudi Susilo perlu diajarkan di sekolah-sekolah tingkat dasar. Dengan pendekatan syi’ir, tentu akan semakin menjadikan anak-anak mudah menghafal dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga:  Fikih Waria : Lucinta Luna, Pria atau Wanita, atau Wanita Pria?!

Tidak hanya adab dan etika kepada orang tua, kitab Ngudi Susilo juga mengupas akhlak kepada guru, tamu dan lain sebagainya. Misalnya etika dan adab seorang anak kepada guru dijelaskan sebagai berikut:

Marang guru kudu tahu lan ngabekti” (Terhadap guru harus patuh dan taat).

“Piwulange ngertenana kanthi ngudi” (Semua perintah yang baik harus ditaati).

“Larangane tembehana kanthi yekti” (Jauhilah semua larangannya dengan sungguh-sungguh)

“Supaya ing tembe sira dadi mukti” (Supaya kelak kamu bisa merasakan hidup bahagia).

Itulah untaian-untaian pesan mendalam tentang pendidikan akhlak sejak dini yang disampaikan oleh KH. Bisri Mustofa dalam kitab Ngudi Susilo. Meskipun kitab ini merupakan kitab ‘lawas’, diterbitkan pada tahun 1954 oleh percetakan Menara Kudus, namun isi dan spiritnnya menemukan relevansinya hingga akhir ini. Bahkan, kitab ini akan bisa menjadi salah satu jawaban adanya dekandensi moral bangsa yang semakin hari, semakin meningkat.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Avatar
Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir