upacara bendera

Rukun Sama Teman: Akhlak dalam Islam

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui SE Mendikdasmen No. 4 Tahun 2026 tentang pelaksanaan upacara, pembacaan Ikrar Pelajar Indonesia, dan menyanyikan lagu Rukun Sama Teman patut dibaca lebih dalam, tidak sekadar sebagai kebijakan administratif. Dalam perspektif Islam, kebijakan ini sejatinya menyentuh jantung pendidikan: penanaman akhlak melalui pembiasaan (ta‘līm bil-‘ādah).

Islam sejak awal tidak memandang pendidikan sebatas transmisi pengetahuan, tetapi proses tahdzīb al-akhlāq—pembentukan karakter manusia. Nabi Muhammad ﷺ sendiri menegaskan, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Ahmad). Maka, ketika sekolah secara konsisten membiasakan nilai hormat, rukun, disiplin, dan cinta tanah air, sejatinya ia sedang menjalankan mandat profetik pendidikan Islam.

Dalam tradisi Islam, perubahan karakter jarang lahir dari ceramah panjang. Ia lahir dari pembiasaan nilai yang diulang, dipraktikkan, dan dihidupkan. Shalat lima waktu, misalnya, bukan hanya ibadah individual, tetapi mekanisme pembentukan disiplin, ketundukan, dan kesadaran kolektif. Demikian pula puasa, zakat, dan haji—semuanya bekerja melalui repetisi yang membentuk jiwa.

Di titik inilah ikrar pelajar dan upacara menemukan relevansi teologisnya. Ketika pelajar setiap pekan mengikrarkan untuk menghormati guru, rukun dengan teman, dan mencintai tanah air, mereka sedang dilatih pada apa yang dalam Islam disebut malakah—kecenderungan jiwa yang menetap karena kebiasaan.

Imam al-Ghazali dalam Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn menegaskan bahwa akhlak tidak cukup diajarkan, tetapi harus ditanamkan melalui praktik berulang hingga menjadi watak. Pendidikan yang gagal membangun kebiasaan moral akan melahirkan generasi cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara etis.

Sekolah sebagai Ruang Tarbiyah Sosial

Islam tidak mengenal pendidikan yang terlepas dari relasi sosial. Akhlak justru diuji dalam perjumpaan dengan orang lain. Karena itu, konsep rukun sama teman sejatinya adalah terjemahan kontemporer dari nilai ukhuwah, ta‘āruf, dan tasāmuḥ (toleransi) dalam Islam.

Realitas hari ini menunjukkan krisis relasi sosial di lingkungan pendidikan: perundungan, kekerasan, intoleransi, dan relasi kuasa yang tidak sehat. Dalam istilah Al-Qur’an, ini adalah bentuk fasād fī al-arḍ—kerusakan sosial akibat hilangnya nilai rahmah dan keadilan.

Sekolah yang gagal menciptakan ruang perjumpaan yang sehat justru melahirkan generasi yang terbiasa menyelesaikan konflik dengan kekerasan atau eksklusi. Padahal Al-Qur’an dengan tegas menyatakan, “Dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal (li ta‘ārafū)” (QS. al-Hujurat: 13).

Ayat ini bukan sekadar deklarasi pluralitas, tetapi mandat pendidikan: perbedaan harus dihadirkan sebagai ruang belajar etika sosial, bukan dihindari atau diseragamkan.

Ikrar Rukun dalam Islam

Dalam Islam, ikrar bukan sekadar simbol. Syahadat sendiri adalah ikrar yang membentuk identitas, orientasi hidup, dan komitmen moral seorang Muslim. Maka, ikrar pelajar memiliki fungsi serupa pada level kebangsaan dan sosial: ia membangun kesadaran kolektif tentang siapa diri anak dan nilai apa yang harus dijaga.

Ketika pelajar mengikrarkan cinta tanah air, ini sejalan dengan prinsip ḥifẓ al-waṭan—menjaga negeri sebagai ruang hidup bersama. Ulama klasik maupun kontemporer sepakat bahwa mencintai dan menjaga tanah air adalah bagian dari tanggung jawab keagamaan, karena kemaslahatan umat tidak mungkin terwujud tanpa stabilitas sosial dan kebangsaan.

Dalam konteks maraknya radikalisme dan ideologi transnasional yang memutus loyalitas kebangsaan, pembiasaan cinta tanah air di sekolah justru menjadi benteng akhlak dan ideologi. Islam tidak mengajarkan perubahan instan. Ia mengajarkan tadarruj—bertahap, konsisten, dan berkelanjutan.

Karena itu, program ini, jika dijalankan dengan kesungguhan, bukan sekadar ritual kosong, tetapi revolusi sunyi pendidikan akhlak. Ia tidak menjanjikan hasil cepat, tetapi menanam fondasi jangka panjang. Ia tidak membentuk generasi yang hanya pintar menjawab soal, tetapi manusia yang tahu cara hidup bersama secara bermartabat.

 

 

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Check Also

048510200 1769099031 830 556

MUI: Bentuk Board of Peace Cara AS dan Israel Hadapi Tekanan

JAKARTA – Indonesia telah secara resmi bergabung menjadi anggota Board of Peace yang dibentuk oleh …

chiki fawzi turun langsung menjadi relawan untuk membantu korban banjir di sumatera banyak warga di sana mengalami kelaparan 1765269236649 169

Ramai Di Medsos Soal Pencopotan Chiki Fawzi dari Petugas Haji 2026, Kemenhaj Bilang Begini

Jakarta – Chiki Fawzi membagikan perihal pencopotan dirinya dari petugas haji 2026 yang datang secara …