zubair

Sahabat Zubair Bin Awwam : Pembela Sejati Rasulullah

Zubair bin Awwam merupakan seorang pengikut Nabi yang tidak menduduki jabatan dalam politik yang dibangun oleh Rasulullah. Meski di dunia ia tak mendapatkan jabatan, namun ia justru mendapatkan jaminan surga dari Rasulullah langsung. 

Zubair termasuk tujuh orang pertama yang masuk Islam. Saat itu usianya masih menginjak 15 tahun. Di usianya yang masih belia Allah telah menurunkan hidayah kepadanya. Ia juga merupakan orang pertama yang mengangkat pedang di jalan Allah.

Pada waktu itu, jumlah kaum muslimin masih sangat sedikit. Mereka mengadakan kegiatan keagamaan di rumah al-Arqam. Namun dari luar terdengar kabar bahwa Rasulullah telah meninggal dunia. Seketika Zubair bin Awwam langsung menghunus pedang dan mengacungkannya ke atas sambil berlari berkata, “siapa yang berani menyebar berita bohong maka akan ku hunuskan pedangku!”

Banyak ahli sejarah menyebutkan bahwa Zubair bin Awwam merupakan orang pertama yang menghunuskan pedang di jalan Allah (awwalu man salla sayfahu fi sabiilillah). Keahlian Zubair memang telah tampak sejak anak-anak, Zubair adalah sosok pemberani dan pintar dalam menunggangi kuda.

Zubair termasuk satu di antara sahabat Rasul yang ikut merasakan pedihnya siksaan dari kaum Quraish. Meski ia merupakan salah satu dari keturunan bangsawan, namun kedudukannya tak membuat ia luput dari siksaan kaum Quraisy.

Ironisnya, orang yang disuruh menyiksanya adalah pamannya sendiri. Pamannya pernah mengikat dan membungkusnya dengan tikar lalu diasapi hingga kesulitan bernapas. Setelah memberi siksaan itu, sang paman lantas berkata, “Larilah dari Tuhan Muhammad, akan kubebaskan kamu dari siksa ini.” Namun Zubaipun menjawab “Tidak! Demi Allah, aku tidak akan kembali kepada kekafiran selama-lama nya.”

Berperang di jalan Allah, membuat Zubair selalu menemani setiap gerakan yang dipimpin oleh Rasulullah. Iapun mengikuti hijrah ke Habasyah dua kali. Hijrah pertama dipimpin oleh Usman bin Affan. Kedua dikepalai oleh Ja’far bin Abu Thalib yang dikenal dengan dzul janahain (orang yang memiliki dua sayap).

Baca Juga:  Jangan Sekedar Ikut-ikutan, Ini Tolok Ukur Ulama yang Patut dijadikan Panutan

Zubair adalah sosok sahabat yang tidak pernah sekalipun ia alpa dalam pertempuran, terbukti dengan banyaknya sayatan yang melekat pada tubuhnya. Zubair merupakan seorang yang percaya diri akan kemampuan berperangnya. Dengan kepercayaancdiri yang dimilikinya ia menghunuskan pedang tanpa perduli seberapa luka yang dia terima.

Ketika terjadi Perang Hunain, Zubair bin Awwam melihat pimpinan musuh, yaitu Malik bin Auf yang sendirian dan ingin melarikan diri dari peperangan. Saat itu, pasukan yang ia pimpin dalam keadaan terdesak. Dengan gagah berani, Zubair bin Awwam menyerbu pasukan musuh dan membuat lawan kocar-kacir.

Kecintaan dan penghargaan Rasulullah kepada Zubair bin Awwam sangat luar biasa. Dalam sebuah hadisnya beliau bersabda, “Setiap nabi mempunyai pembela dan pembelaku adalah Zubair bin Awwam. Ia membelaku bukan karena ia adalah saudara sepupu dan suami dari Asma binti Abu Bakar, namun karena pengabdiannya yang luar biasa dalam syiar Islam”.

Zubair wafat dalam sebuah peperangan akibat dari fitnah pembunuhan Ustman bin Affan. Dalam peperangan tersebut terdapat banyak pengadudomba didalamnya. Yaitu Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam yang bertolak dari Mekkah menuju Bashrah di Irak untuk menuntut ditegakkannya hukum atas para pembunuh Utsman.

Dalam kericuhan ini adalah terjadinya perang Jamal, kala itu Ali bin Abi Thalib menyadarkan mereka bahwa banyak fitnah yang terjadi melatarbelakangi peperangan ini. Maka Zubair dan Thalhah berhenti untuk memerangi Ali.

Sesaat setelahnya,ketika sedang shalat, Zubairpun dibunuh oleh seorang penghianat yang bernama Amr bin Jurmuz. Zubair bin Awwamwafat pada bulan Rabiul Awal tahun 36 H. Saat itu beliau berusia 66 tahun.

Setelah jasad Zubair dimakamkan, Khalifah Ali bin Abu Thalib mengucapkan kalimat perpisahan kepada Zubair, “Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS. Al-Hijr: 47)

Baca Juga:  Ketika Rasulullah Membelah Bulan, Mampukah Mukjizat Dirasionalkan?

Orang-orang yang beriman hidup di dalam kenikmatan itu dengan hati penuh gembira. Sifat dengki telah Kami cabut dari hati mereka. Mereka semua adalah bersaudara bagai satu keluarga yang saling berjumpa dengan wajah penuh ceria dan rasa cinta. Mereka tidak saling membelakangi, sebaliknya, justru saling ingin berjumpa.

Bagikan Artikel

About Imam Santoso

Avatar