Nabi Adam Dan Syaitan
Nabi Adam Dan Syaitan

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 35-36: Menafsirkan as-Syajarah dan Setan Masuk Surga

Muncul di benak penulis, kenapa Nabi Adam a.s. diturunkan ke dunia oleh Allah Swt.? padahal di surga sudah difasilitasi dengan berbagai kebutuhan. Apakah ini karena bujuk rayuan setan atau hanya karena ketidaksengajaan?. Jika karena rayuan setan, bagaimana dia bisa masuk surga?. Pada kajian tafsir ini, penulis mencoba mengungkap proses diturunkannya Adam a.s. ke bumi. Dan menafsirkan as-syajarah yang telah menjadi penyebab Nabi Adam a.s. dikeluarkan dari surga.

Firman Allah Swt.:

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ

Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.” [Q.S. al-Baqarah: 35]

Ayat diatas merupakan kondisi dimana Adam dan Hawa menempati al-Jannah (surga) dan dibolehkan memakan makanan surga. Namun, ada satu pohon dengan buah yang tidak boleh dimakan oleh mereka. Para Mufassir Alquran telah mencoba menginterpretasikan makna as-Syajarah (pohon).

            Dalam kamus al-Munawwir, شَجَرَةٌ   atau syajarah bermakna pohon. Kata syajarah juga menjadi kata serapan dalam bahasa Indonesia yaitu sejarah. Kali ini penulis mengungkap berbagai pendapat dari Mufassir tentang jenis pohon dalam ayat ke 35 ini.

            Pertama, pendapat yang diriwayatkan oleh as-Saddi dari Abu Malik dan Abu Ṣaleh, dari Ibnu Abbas. Bahwasanya pohon yang dimaksud adalah pohon anggur. Ibnu Mas’ud serta dari sejumlah sahabat juga menakwilkan makna syajarah ini dengan pohon dari buah anggur.

            Kedua, diriwayatkan dari Ibnu Jarir dan Ibnu Hatim, dari Muhammad Ibnu Ismail, meriwayatkan dari Abu Yahya al-Hammani, dari Abu Naḍr kemudian dari Ikrimah, Ibnu Abbas mengatakan bahwa pohon yang dilarang bagi Adam a.s. untuk didekati ialah pohon gandum. Demikian pula yang dikatakan oleh Muhammad Ibnu Ishaq. Ia meriwayatkan dari sebagian penduduk Yaman dari Wahab Ibnu Munabbih yang mengatakan pohon tersebut adalah pohon gandum. Akan tetapi, satu biji daripadanya di dalam surga sama dengan kedua paha sapi, lebih lembut dari zubdah dan rasanya manis.

Baca Juga:  Tafsir Ahkam Al Baqarah 183-187 (2) : Sakit dan Perjalanan yang Membolehkan Tidak Berpuasa

            Ketiga, Sufyan  aṡ-Ṡauri meriwayatkan dari Husain, dari Abu Malik sehubungan dengan makna itu yakni pohon kurma. Keempat, pendapat dari Ibnu Jarir, Mujahid, dan Qatadah, bahwasanya pohon itu adalah pohon buah tin.

            Kelima, ar-Razi, Ibnu Anas, dan Abul Aliyah berpendapat pohon tersebut apabila dimakan, akan mengalami hadas. Sedangkan hadas tidak layak di dalam surga. Keenam, ‘Abd ar-Razzaq berpendapat pohon itu ranting-rantingnya lebat sekali dan buahnya khusus dimakan oleh malaikat karena ditakdirkan kekal. Oleh karena itu, Adam dan Hawa dilarang makan buah dari pohon tersebut. 

Setan Masuk Surga

Kalamullāh selanjutnya:

فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ

Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”. [Q.S. al-Baqarah: 36]

Setan atau iblis sudah terusir dari surga. Diusirnya setan dari surga karena kedengkiannya terhadap Adam a.s. dan tidak mau bersujud. Jika setan menjadi penyebab diturunkannya Adam ke bumi, lalu bagaimana setan bisa masuk surga ketika itu?.

Para Mufassir tidak ada silang pendapat dan yang lainnya bahwa iblis terus menerus menyesatkan Adam, namun berbeda pendapat tentang cara yang ditempuhnya. Dalam tafsir al-Qurṭubi mengungkapkan pendapat Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas serta mayoritas ulama, bahwasanya setan menyesatkan Adam dan Hawa dengan dialog lisan. Dalilnya adalah Q.S. al-A’rāf ayat 21:

وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ

“Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua,” [Q.S. al-A’rāf: 21]

Baca Juga:  Tafsir Ahkam Surah al Fatihah (2) : Hukum Baca Basmalah dalam Shalat

            Pendapat selanjutnya dari Abdur Razzaq meriwayatkan dari Wahab Ibnu Munabbih, yang mengatakan Iblis masuk ke surga dengan cara masuk ke dalam tubuh ular melalui mulutnya, lalu ular tersebut masuk ke dalam surga. Ciri-ciri ular itu memiliki tanduk empat. Sebelum masuk ke tubuh ular, Iblis menawarkan diri kepada banyak binatang, namun taka da satu pun ada yang mau dimasuki kecuali ular.

            Kemudian ada lagi yang menceritakan bahwa ular tersebut adalah pelayan Nabi Adam a.s. di surga. Namun, ia kemudian mengkhianati Adam dan memasukkan musuh Allah ke dalam dirinya dan menampakkan permusuhan terhadap Adam a.s. di sana. Permusuhan yang abadi.

            Wallāhu a’lam

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Mubarok ibn al-Bashari

Avatar
Mahasiswa Pasca Sarjana UNUSIA