Pamer Nikmat
Pamer Nikmat

Tafsir Surat Al Duha ayat 11: Maksud Menceritakan Nikmat

Al-qur’an memang menganjurkan untuk menceritakan nikmat (Tahaddutsan bi al Nikmah). Namun, apakah update status saat makan enak di restoran, atau upload foto saat rekreasi, pajang foto mobil baru dengan tulisan Alhamdulillah, dan bentuk pamer harta dan kenikmatan duniawi yang lain?. Apakah yang dimaksud menceritakan nikmat dalam Al Qur’an adalah menampakkan kemewahan supaya semua orang tahu?

Allah berfirman, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan” (QS. Al Dhuha: 11).

Dalam tafsir al Kabir karya Fakhruddin al Razi, Imam Mujahid berpendapat bahwa yang dimaksud dengan nikmat pada ayat tersebut adalah al Qur’an. Sebab nikmat terbesar yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad adalah al Qur’an. Adapun cara mensyukuri nikmat ini adalah membacanya dan menjelaskan makna serta kandungannya kepada orang lain.

Riwayat lain mengatakan, yang dimaksud nikmat menurut Imam Mujahid adalah diutusnya Nabi Muhammad menjadi nabi dan rasul. Maka makna ayat di atas adalah perintah kepada Nabi Muhammad supaya menceritakan atau menyiarkan sesuatu yang telah diturunkan kepadanya.

Sebagian ulama berpendapat, bahwa yang dimaksud nikmat adalah pertolongan Allah kepada seseorang untuk menjaga hak-hak anak yatim pengemis. Nikmat inilah yang harus diceritakan.

Imam al Qurthubi dalam tafsirnya menulis, menurut sebagian ulama, mengutip pendapat Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib, yang dimaksud nikmat adalah mengetahui hal yang baik. Sebab itu, di saat mengetahuinya maka harus menceritakan kepada  orang lain supaya ditiru.

Isma’il Haqqi Ibnu Musthafa al Istambuli al Hanafi, dalam karyanya Tafsir Ruh al Bayan menambahkan, firman Allah, “Dan tentang nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah” merupakan respon terhadap perkataan yang tidak membolehkan untuk menceritakan nikmat Allah.

Baca Juga:  Tafsir Surah al-Qashash 76-77: Komparasi Nasehat Bani Israil dengan UU Cipta Kerja

 Tujuan menceritakan nikmat adalah supaya mendapat perlindungan dari Allah, supaya ditiru oleh orang lain dan aman dari fitnah. Akan tetapi jika menceritakan nikmat menyebabkan riya’ atau sum’ah maka lebih utama untuk tidak menceritakannya.

Dari penjelasan ulama-ulama tafsir di atas, jelas bahwa yang dimaksud tahaddus bi al nikmah bukan pamer kekayaan ataupun nikmat duniawi seperti lazim dilakukan kebanyakan orang saat ini seperti update status di media sosial dengan memampang poto atau tulisan tentang aktivitas duniawi seperti makan, rekreasi, melancong dan lainnya. Sekalipun dengan kalimat, alhamdulillah.

Bagaimana dengan kaidah “Yang diperhatikan adalah makna umum teks bukan kekhususan sebab turunnya ayat”. Dengan demikian perintah menceritakan nikmat mencakup pada semua nikmat? Andaipun seperti ini, tetap harus memperhatikan apakah akan menimbulkan riya’ atau tidak. Jika berpotensi menimbulkan sifat riya’ maka tidak boleh menceritakan nikmat tersebut.

Kesimpulannya, pamer kemewahan duniawi di media massa, seperti makan minum, melancong, rekreasi, pamer kendaraan mewah yang baru dibeli dan semacamnya, sejatinya bukanlah menceritakan nikmat seperti termaktub dalam ayat di atas. Tetapi perbuatan yang tidak baik dan mengundang riya’.

Bagikan Artikel

About Faizatul Ummah

Faizatul Ummah
Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo