Tradisi di Indonesia dan mungkin juga terjadi di beberapa negara di dunia adalah imsak sepuluh menit sebelum terbit fajar atau waktu subuh. Sejatinya, waktu puasa dimulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Jadi sederhananya, batas akhir makan, minum, jimak dan segala yang membatalkan puasa sampai terbitnya fajar. Bukan sepuluh menit sebelumnya.

Lalu, dari mana tradisi imsak? Bahkan di Indonesia biasanya ada peringatan di beberapa masjid dan mushalla untuk memperingatkan masyarakat. Bahkan kalau kita jeli banyak jadwal waktu puasa yang juga lebih merujuk pada akar kata imsak. Misalnya imsakiyah dan buka puasa. Hitungan pertama adalah waktu imsak dan buka puasa.  

Pertanyaannya, apakah tradisi imsak hanya tradisi dan langkah hati-hati? atau memang ada dalil penguat dari Nabi?

Ternyata akar sejarah tradisi ini berasal dari kebiasaan perilaku Rasulullah. Beliau berhenti melakukan aktivitas makan dan minum sebelum terbitnya fajar atau waktu shalat subuh tiba. Pada beberapa hadis Nabi mempraktekkan hal ini. Salah satunya adalah hadis riwayat Anas bin Malik.

عن أنس بن مالك عن زيد بن ثابت قال تسحرنا مع النبي صلى الله عليه وسلم ثم قمنا الى الصلاة قال قلت كم كان قدر ذلك قال قدر خمسين آية

Dari Anas bin Malik, dari Zaid bin Tsabit, ia berkata, “Kami sahur bersama Nabi, lalu kami beranjak menuju shalat (subuh)”. Anas bin Malik bertanya, “Berapa jarak keduanya (antara sahur dan shalat)?. Zaid bin Tsabit menjawab, “Sekitar bacaan lima puluh ayat al Qur’an”. (HR. Turmudzi).

Dari hadis ini para ulama kemudian mengambil langkah hati-hati untuk imsak. Tujuannya supaya ketika waktu subuh masuk telah benar-benar siap melakukan puasa. Karena kalau imsak tersebut benar-benar dimulai setelah terbitnya fajar khawatir, dan sangat mungkin melakukan aktivititas makan dan minum padahal fajar telah terbit. Bila demikian maka tentu puasanya batal.

Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Ali bin Muhammad al Mawardi dalam kitabnya al Iqna’. Menurutnya, waktu berpuasa dimulai dari terbitnya fajar kedua sampai terbenamnya matahari. Namun begitu, lebih baik memulai imsak sebelum terbit fajar kedua dan menunda berbuka puasa sejenak setelah terbenamnya matahari supaya puasanya benar-benar sempurna.

Sampai disini cukup jelas, bahwa imsak sepuluh menit sebelum subuh bukanlah tradisi yang salah kaprah. Namun lebih sebagai langkah antisipasi untuk menyempurnakan puasa. Terlebih hal ini pun telah diajarkan oleh Rasulullah serta dipertegas oleh para ulama. Dengan demikian patut kiranya kita meneladaninya.

‘Ala kulli hal, tradisi ini sangat membantu umat Islam untuk kesempurnaan puasa ramadhan.










LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.