Bulan Ramadlan memiliki daya tarik dan kewibawaan yang luar biasa. Berbagai tawaran keberkahan dan ampunan serta terbebas dari siksa neraka yang begitu mudah diraih di bulan ini menjadikan kaum muslimin antusias dalam berbuat kebaikan.

Daya pikat Ramadlan yang begitu dahsyat membuat animo masyarakat muslim sangat kuat untuk menjalankan ibadah puasa meskipun harus bersusah payah menahan rasa lapar dan haus dahaga. Seolah tidak mau ketinggalan berkah Ramadlan yang hanya terjadi satu bulan dalam satu tahun.

Antusiasme ini terkadang mengalahkan semangat sebagian kaum muslimin untuk melaksanakan ibadah shalat. Mereka yang tidak pernah mencium tempat sujud sangat bersemangat menjalankan ibadah puasa. Fenomena ini tidak sedikit dapat dijumpai dalam realitas kehidupan umat Islam.

Bagaimana menyikapi hal tersebut, berpuasa tapi tidak pernah melaksanakan shalat, tidak pernah shalat tapi rajin menjalankan puasa?

Hukum Meninggalkan Shalat

Tak dapat diragukan lagi (ma’lum min al-din bi al-dlarurah) bahwa shalat memiliki kedudukan yang lebih agung dalam Islam dibandingkan ibadah puasa. Shalat merupakan tiang agama, barang siapa yang menegakkan shalat maka berarti mengokohkan tiang agama, barang siapa meninggalkan shalat maka berarti telah merobohkan dan menghancurkan agama. Kedudukan shalat dalam agama bagaikan kepala pada tubuh manusia (Afifuddin Muhajir, Fath al-Mujib al-Qarib, hal. 26).

Orang yang meninggalkan shalat dapat dikategorikan ke dalam dua golongan. Pertama, mereka yang meninggalkan shalat karena mengentengkan dan malas, namun tetap meyakini akan kewajiban shalat. Kedua, mereka yang meninggalkan shalat karena tidak mengakui (mengingkari) terhadap kewajiban shalat.

Dua kategori ini didasarkan terhadap hadis berikut:

أَنَّ الْعَهْد الَّذِي بَيْننَا وَبَيْنهمْ الصَّلَاة فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ.

Artinya: “Sesungguhnya perjanjian yang terjadi antara kami dengan mereka (orang-orang munafik) adalah soal shalat, maka barang siapa yang meninggalkan shalat sungguh ia telah kafir”. (HR. Ahamd, Abu Daud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan al-Hakim) (Syarh Sunan al-Nasa’i, No. 459, Tuhfah al-Ahwa, No. 2545).

Hadis ini menjelaskan bahwa orang yang meninggalkan shalat dihukumi kafir, tanpa melihat motif yang melatarbelakangi. Semua ulama’ sepakat bahwa orang yang mengingkari kewajiban shalat adalah kafir dan murtad. Sedangkan orang yang meninggalkan shalat karena malas dan menganggap enteng adalah fasik dan tergolong perbuatan dosa besar.

Kafir yang dimaksud dalam hadis adalah melakukan perbuatan dosa besar hingga menyerupai orang-orang kafir dari segi meninggalkan shalat, karena dosa besar serumpun dengan kekufuran sebagaimana ketaatan juga serumpun dengan iman. Oleh karena itu, orang yang meninggalkan shalat tidak dihukumi kafir kecuali ia mengingkari dan mendustakan kewajiban shalat, namun begitu ia tergolong pelaku dosa besar. (Wahbah al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, Juz I, hal. 577, Kitab Ahkam al-Shiyam, Dar al-Ifta’ al-Mishriyah, hal. 76).

Berdasarkan kategori tarik al-shalah (orang yang meninggalkan shalat) di atas jika dikaitkan dengan pelaksanaan ibadah puasa tentunya memunculkan dua hukum. Pertama, jika ia meninggalkan shalat dan mengingkari kewajiban shalat maka puasanya tidak sah, karena ia berstatus kafir. Ibadah puasa tidak sah dilakukan oleh orang kafir. Kedua, jika ia meninggalkan shalat karena alasan malas dan tetap meyakini kewajiban shalat maka puasanya sah. Lalu bagaimana menyikapi kelompok kedua ini?

Jangan Pilah Pilih Ibadah

Setiap muslim diperintahkan untuk melaksanakan seluruh ibadah yang telah disyariatkan dan diwajibkan kepadanya, mulai dari shalat, puasa, zakat, haji, dan lain-lain. Tidak boleh pilah pilih dengan mengerjakan yang satu dan mengesampingkan yang lain. Syariat Islam harus dikerjakan secara utuh. (Al-Baghawi, Tafsir al-Baghawi/Ma’alim al-Tanzil, Juz I, hal. 240).

Setiap ibadah yang diwajibkan oleh syariat Islam masing-masing mempunyai syarat dan rukun yang tidak terkait antara kewajiban yang satu dengan kewajiban yang lain. Siapapun yang telah melaksanakan satu kewajiban sesuai syarat rukun yang telah ditentukan, meskipun ia meninggalkan kewajiban yang lain, maka sudah cukup menggugurkan kewajiban ibadah yang dilaksanakan. Namun, ia melakukan dosa besar dengan meninggalkan kewajiban ibadah yang lain.

Barang siapa berpuasa, padahal ia belum pernah melaksanakan ibadah shalat, maka puasanya tetap sah dan ia berhak mendapat pahala. Di samping itu ia juga melakukan dosa besar dengan meninggalkan shalat.

Soal pahala apakah pahala yang diterima sebanding dengan dosa besar yang diperbuat semua diserahkan kepada Allah Yang Mahabijaksana. Kita hanya bisa mengatakan bahwa orang yang berpuasa dan shalatnya utuh lebih bisa diharapkan untuk mendapat pahala dan diterima dari pada orang yang berpuasa tidak pernah shalat. (Kitab Ahkam al-Shiyam, Dar al-Ifta’ al-Mishriyah, hal. 77).

Namun dalam ranah pendidikan dan berdakwah ketika dihadapkan dengan orang tersebut, sebaiknya tidak melakukan klaim dan memojokkan mereka dengan mengatakan: “antara berpuasa atau tidak, bagimu sama saja tidak akan mendapatkan pahala”. Ungkapan semacam ini dikhawatirkan membuat mereka jera berpuasa, sehingga tidak ada satu pun amal ibadah yang menghubungkan mereka dengan agama. Pada gilirannya mereka akan menjauh dari agama dan tidak mungkin diharap kembali.

Alangkah bijak dan mendidik jika mengtakan: “semoga Allah membalas kebaikan atas puasamu, lebih baik lagi kalau kamu menyempurnakan keislaman dengan memperbaiki ibadah yang lebih penting dari pada puasa, yaitu shalat. Kamu sudah berusaha berpuasa menahan lapar dan dahaga, namun terhalang dari rida Allah, apa susahnya jika kamu shalat untuk menggapai ridla-Nya itu ”. (Yusuf al-Qardlawi, Fiqh al-Shiyam, hal. 167). []

Wallahu a’alam bisshawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.