Penyerangan di Masjid Al Aqsa
Penyerangan di Masjid Al Aqsa

Sama Dengan Netanyahu, PM Baru Israel Bebaskan Yahudi Duduki Masjid Al-Aqsa

Yerusalem – Harapan warga Palestina terhadap Perdana Menteri Israel yang baru Naftali Bennett terkait kebijakan dan perlakuan yangbaik terhadap Masjid Al-Aqsa sepertinya akan sulit terkabul. Pasalnya, Bennet sama saja dengan Benyamin Netanyahu, yang tetap memberi keistimewaan terhadap pemukim Yahudi di Yerusalem.

Hal itu terlihat dari pernyataan terbaru Bennet tentang kebebasan orang Yahudi berdoa di dalam Masjid Al-Aqsa. Hal ini sekali lagi menyoroti perdebatan tentang Yerusalem dan lingkungan Sheikh Jarrah, serta pertempuran berkelanjutan mereka melawan negara pendudukan sejak Ramadhan.

Pernyataan Bennett juga menyoroti Gerbang Damaskus Kota Tua sebagai fokus konfrontasi. Ini meluas ke sebagian besar wilayah kota yang diduduki, terutama setelah pasukan keamanan Israel menyerbu menara Mughrabi dan Bab Al-Silsila di Tempat Suci Al-Aqsa, serta memotong kabel pengeras suara masjid.

Dilansir Middle East Monitor, Selasa (27/7/2021), orang-orang Yerusalem Palestina marah ketika Israel mencoba menghalangi akses melalui Gerbang Damaskus menggunakan penghalang logam. Mereka ingin melakukan pertemuan rutin warga Palestina di Masjid Al-Aqsa, terutama di malam hari selama bulan Ramadhan.

Puncak dari keributan ini adalah Pertempuran Pedang Yerusalem, dimana warga Palestina dari Gaza melakukan perlawanan untuk mengekang Yudaisasi kota yang diduduki dan pengusiran paksa penduduk lingkungan Sheikh Jarrah.

Meskipun serangan Israel terhadap Gaza menghentikan serangan pemukim di Al-Aqsa, pembentukan pemerintah Israel baru dan keteguhan para pemukim memunculkan kembali serangan di masjid dan pawai provokatif di dalam maupun daerah sekitarnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, kelompok pemukim menyerukan pertemuan besar di Gerbang Damaskus, di bawah slogan “kehormatan Yahudi”. Mereka dilindungi oleh pasukan keamanan yang menyerang warga Palestina, dimana mereka berupaya memprotes kehadiran para pemukim di kota yang diduduki.

Baca Juga:  PM Hongaria Memprediksi 2050 Populasi Muslim Eropa Mencapai 20 Persen

Konfrontasi telah menyebabkan seruan terbuka bagi warga Palestina untuk diusir dari Yerusalem, pembersihan etnis, bahkan agar mereka dibunuh.

Peristiwa baru-baru ini di Masjid Al-Aqsa merupakan bentuk lanjutan dari sejumlah tindakan yang sebelumnya diambil oleh pemerintah Israel dan kelompok pemukim Yahudi. Salah satunya tentang keberadaan terowongan yang ditemukan di bawah masjid, “pembuktian” keberadaan Yahudi kuno, perayaan kelahiran sapi dara merah, cikal bakal pembangunan Kuil untuk menggantikan Al-Aqsha, serta lapisan hukum yang diberikan kepada orang Yahudi untuk berdoa di masjid.

Sementara itu, serangan pemukim semakin besar dan lebih sering. Tahun lalu, selama pandemi, tempat suci Al-Aqsa diserbu oleh lebih dari 30.000 pemukim Yahudi, dua kali lipat jumlah orang Israel yang memasuki daerah itu pada 2016 dan lima kali jumlah yang melakukan aksi serupa pada 2009.

Otoritas agama Yahudi tampaknya memberikan legitimasi untuk serangan semacam itu, meskipun Yahudi Haredi bersikeras melarang kaumnya memasuki tempat kudus jika mereka keliru memasuki “tempat maha suci” saat dalam keadaan tidak suci.

Larangan ini juga kembali ditegaskan baru-baru ini oleh para rabi senior di Israel. Namun, lebih dari 600 rabi dari komunitas Yahudi mengklaim bahwa larangan semacam itu sudah ketinggalan zaman.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Dr KH Adnan Anwar

Membangun Kebanggaan Nasional untuk Lawan Intoleransi, Radikalisme dan Terorisme

Jakarta – Semangat nasionalisme pada Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) menandakan rumusan identitas kebangsaan yang tidak …

uas ditolak masuk singapura berikut hal yang diketahui sejauh ini

Ormas Perisai Pendukung UAS Demo Kedubes Singapura Siang Ini

Jakarta – Penolakan Pemerintah Singapura terhadap Ustadz Abdul Somad (UAS) yang hendak memasuki wilayah Singapura …