bencana
bencana

Selama Ada Dua Hal Ini, Semua Bencana Bukan Adzab di Dunia

Cerita bencana alam sebagai adzab dan hukuman Tuhan bukan kali ini saja terdengar. Dari setiap bencana selalu ada orang yang seolah melaknat para korban bencana sebagai pelaku maksiat. Virus corona waktu awal muncul di Cina dianggap tantara Tuhan yang ingin memusnahkan penduduk setempat. Lambat laun ia menyebar dan menjadi pandemi setiap negara.

Narasi bencana sebagai adzab memang bagian dari endapan pemikiran yang tertanam dalam diri umat. Al-Quran sendiri memang menceritakan berbagai adzab kepada umat terdahulu.

Kisah umat Nuh yang dihancurkan dengan banjir besar (Q.s Hud (11): 40). Umat Nabi Hud yang dihancurkan dengan gempa yang dahsyat dan mematikan (Q.s. Hud (11): 94). Ada pula umat Nabi Shaleh yang dimusnahkan dengan virus mewabah dan gempa  (Q.s Hud (11): 67-68). Dan yang paling populer adalah Umat Nabi Luth  yang dihancurkan dengan gempa bumi yang dahsyat (Q.s. Hud (11); 82) karena perilaku seksual yang menyimpang.

Cerita terakhir ini terkadang yang membekas dalam pikiran kita yang seringkali menyambungkan gempa dengan perilaku seksual menyimpang, katakanlah LGBT. Dulu, Gempa yang melanda Palu disebut karena LGBT. Di gempa Cianjur pun ada selentingan karena LGBT. Rasanya klaim ini memang menyakitkan untuk didengar para korban yang tengah berjuang pasca bencana.

Sejatinya bencana alam sebagai adzab yang dilukiskan dalam al-Quran adalah pelajaran bagi umat setelahnya. Bukan sebagai penghakiman setiap ada bencana. Adzab diberikan Tuhan pada masa lalu ketika kemaksiatan merata di seluruh penduduk dan wilayah dan hanya sedikit pengikut para Nabi yang ada. Bahkan para Nabi ditinggalkan.

Saat ini rasanya menyebut bencana sebagai adzab di tengah riuhnya syiar agama dan kebaikan dari berbagai pihak sungguh tidak tepat. Tuhan telah berjanji tidak akan menurunkan adzab di muka bumi selama ada dua hal. Apa itu?

Tuhan telah berjanji untuk tidak menurunkan adzab “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (Al-Anfal : 33).

Ayat di atas dipertegas oleh salah satu hadist yang diceritakan oleh Ibnu Katsir dari riwayat Imam Tirmidzi bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Allah telah menurunkan kepadaku dua pengaman atau penyelamat bagi umat dari azab dan bencana, yaitu keberadaanku dan istighfar. Maka ketika aku telah tiada, masih tersisa satu pengaman hingga hari kiamat, yaitu istighfar.”

Selama masih ada Rasulullah di tengah umat Allah tidak akan pernah menurunkan adzab kepada manusia. Jika Rasulullah telah tiada pun selama masih ada orang yang meminta ampunan Allah pun tidak akan pernah menurunkan adzab. Adzab akan turun ketika mereka merasa congkak dan sombong dengan keburukan dan kemaksiatan yang merata.

Karena itulah apapun bencana saat ini bisa terjadi di mana pun dan menimpa siapapun tanpa memandang agama dan wilayah. Bahkan Makkah dan Madinah pun pernah terguncang bencana.

Ketika bencana itu datang yakinilah itu bagian dari cara Tuhan mengingatkan bukan mengadzab manusia. Tuhan mengingatkan untuk memperbaiki hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan lingkungannya.

Karena itulah, perbanyaklah istigfar memohon ampunan kepada Allah atas segala hal yang terjadi. Bencana [un menjadi peringatan dan penguji bagi kita untuk saling peduli dan berbagi.

 

 

 

Bagikan Artikel ini:

About Farhah Salihah

Check Also

sarung dan baju koko

Sarung dan Baju Koko : Persilangan Budaya dalam Identitas Muslim Indonesia

Agama dan budaya serta tradisi memang tidak bisa dipisahkan. Orang yang bermaksud memurnikan agama dan …

KDRT

Jika Sering KDRT, Yakinlah itu Bukan Imammu yang Baik

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) beberapa kali mengemuka di ruang publik karena adanya aduan dari …

escortescort