Bumeryem Rozi
Bumeryem Rozi

Selidiki Genosida Muslim Uighur, Mahkamah Uighur Bersidang di London

London – China dituduh banyak negara, bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta lembaga hak asasi dunia melakukan genosida terhadap Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang. Namun tuduhan itu dibantah keras oleh Pemerintah Beijing. Alhasil itu kontroversi yang menyelimuti masalah tersebut.

Hal itulah yang mendorong digelar sebuah panel yang terdiri dari para pengacara, pakar hak asasi, pakar kedokteran, pendidikan, dan antropologi menggelar Mahkamah Uighur atau Uyghur Tribunal di London, Jumat (4/6/2021). Mahkamah itu mulai mendengarkan kesaksian dan bukti-bukti atas nasib Muslim Uighur di China.

Panel itu terdiri  dari sembilan juri. Mereka mendengar kesaksian langsung dugaan kejahatan di wilayah Xinjiang, di sebelah barat laut China, termasuk dugaan sterilisasi paksa, penyiksaan, penghilangan paksa, dan kerja paksa.

Sementara pemerintah Beijing meradang dan menyebut panel tersebut sebagai “mesin pembuat kebohongan.”

Meski ini bukan organisasi yang didukung oleh pemerintah Inggris, Uyghur Tribunal berencana menggelar dengar pendapat untuk mendengarkan kesaksian untuk mencari tahu apakah Beijing telah melakukan genosida atau kejahatan kemanusiaan terhadap warga Uighhur dan etnis muslim lainnya di China.

Sidang ini diketuai oleh pengacara hak asasi manusia Geoffrey Nice yang sebelumnya memimpin tuntutan terhadap mantan Presiden Serbia Slobodan Milosevic. Mereka berharap keputusan yang nantinya dihasilkan akan dijadikan tambahan pertimbangan oleh pemerintah Inggris dalam bersikap menghadapi masalah ini.

Pada sidang Jumat, mendengarkan tiga saksi termasuk seorang perempuan yang mengatakan dipaksa melakukan aborsi, mantan dokter yang berbicara tentang kejamnya kebijakan pengendalian kelahiran, dan seorang mantan tahanan yang mengatakan telah “disiksa siang dan malam” oleh tentara China saat dipenjara di daerah perbatasan terpencil.

Dikutip dari laman detikcom, seorang saksi bernama Bumeryem Rozi yang juga adalah ibu dari empat anak mengatakan kepada kantor berita AP bahwa pihak berwenang di Xinjiang menangkapnya bersama para perempuan lain yang juga tengah hamil untuk menggugurkan anak kelimanya pada tahun 2007. Dia mengatakan terpaksa menurut karena takut pihak berwenang menyita rumah dan barang-barangnya serta membahayakan keluarganya.

Baca Juga:  Blokir Konten Perlakuan China Terhadap Muslim Uighur, Tik Tok Minta Maaf

“Saya (saat itu) hamil 6,5 bulan. Polisi datang, satu orang Uighur dan dua orang China. Mereka memasukkan saya dan delapan perempuan hamil lainnya ke dalam mobil dan membawa kami ke rumah sakit,” tutur Rozi (55) dari rumahnya di Istanbul, Turki.

“Pertama mereka memberi saya pil dan menyuruh saya meminumnya. Jadi saya minum. Saya tidak tahu apa itu. setengah jam kemudian, mereka menusukkan jarum ke perut saya. Dan beberapa saat setelahnya saya keguguran.”

Semsinur Gafur, mantan dokter kandungan-ginekologi di sebuah rumah sakit desa di Xinjiang pada 1990-an, mengatakan dia dan dokter perempuan lain biasa pergi dari rumah ke rumah dengan mesin ultrasound untuk memeriksa apakah ada yang hamil.

“Jika ada rumah tangga memiliki kelahiran lebih dari yang diizinkan, mereka akan meruntuhkan rumah itu … Mereka akan meratakan rumah, menghancurkannya,” cerita Gafur.

Pemerintah China tampaknya tidak lagi menahan diri untuk melontarkan kecaman keras atas sidang ini.

“Ini bahkan bukan pengadilan atau pengadilan khusus yang sebenarnya, tetapi hanya mesin khusus yang menghasilkan kebohongan,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian, pekan lalu.

“Itu didirikan oleh orang-orang dengan motif tersembunyi dan tidak punya bobot atau otoritas. Ini hanya pertunjukan opini publik yang serampangan yang berkedok hukum,” kata Zhao Lijian kepada wartawan.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) menuduh China melakukan genosida di Xinjiang. Inggris telah menolak untuk menggunakan sebutan itu, tetapi pada bulan lalu Inggris bersama AS dan Jerman menyerukan Beijing untuk mengakhiri penindasan terhadap minoritas Uighur.

Wakil ketua panel tersebut, Nick Vetch, menolak mengomentari serangan dari pemerintah China atas sidang yang ia gelar. Vetch mengatakan pekerjaannya tidak memihak, dan berdasarkan pada bukti-bukti yang telah dan akan dikumpulkan.

Baca Juga:  Menyudutkan Islam, Wawancara BBC Dikecam Keras 100 Tokoh Muslim Inggris

“Sidang ini adalah upaya independen dan akan menangani bukti, dan hanya bukti,” ujar Vetch.

“Kami telah mengundang RRC untuk memberi kami bukti apa pun yang mereka miliki. Sejauh ini kami tidak menerima apa pun dari mereka.”

Persidangan ini berencana menyampaikan laporannya pada bulan Desember, dan meskipun putusannya nanti tidak memiliki kekuatan hukum, para anggota panel berharap dapat menarik perhatian internasional dan memacu tindakan yang mungkin dilakukan.

Tribunal ini didirikan atas permintaan Kongres Uighur Sedunia, kelompok terbesar yang mewakili warga Uighur di pengasingan, yang melobi komunitas internasional untuk mengambil tindakan terhadap China atas dugaan pelanggaran di Xinjiang.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Serah terima bantuan rumah dari Laznas Baitulmaal Muamalat kepada mantan pengikut aliran Hakekok Balakasuta

Laznas Baitulmaal Muamalat Serahkan Rumah Harapan Untuk Mantan Penganut Hakekok Balaksuta

Pandeglang – Masih ingat dengan penganut aliran kepercayaan Bakekok Balakasuta yang pernah menghebohkan Pandeglang dengan …

20210923170611

Taliban Akan Kembali Berlakukan Hukum Potong Tangan

KABUL – Pasca berhasil menguasai Afganistan, Taliban selalu menjadi perbincangan, berbagai spekulasi dan analisis diutarakan oleh …