Jakarta – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berhasil mengembalikan Hagia Sophia yang sebelumnya museum menjadi masjid. Perubahan status Hagia Sophia disambut gembira oleh bangsa Turki dan umat Islam, tapi di sisi lain keputusan Erdogan mengundang protes dari negara-negara barat.
Terlepas dari itu, Erdogan mengaku telah melaksanakan kewajiban dengan baik terkait Hagia Sophia. Kini, Erdogan bersumpah untuk membebaskan Masjid Al-Aqsa di Yerusalem dari cengkeraman Israel.
“Kebangkitan Hagia Sophia menandai pembebasan Masjid Al Aqsa,” kata bunyi pidato Erdogan yang dikutip dari situs web Kepresidenan Turki, Senin (13/7/2020).
“Kebangkitan Hagia Sophia adalah batu loncatan umat Islam di seluruh dunia yang akan datang…kebangkitan Hagia Sophia adalah kebangkitan api harapan umat Islam dan semua yang tertindas, terzalimi, teraniaya dan dieksploitasi.”
Pidato Erdogan dalam bahasa Turki itu diterjemahkan sedikit berbeda ke bahasa Arab dan Inggris. Dalam bahasa Arab pidato mengatakan bahwa mengubah Hagia Sophia menjadi masjid adalah bagian dari kembalinya kebebasan Al-Aqsa.
Presiden Turki mengaitkan keputusan untuk menghidupkan kembali Islam dari Bukhara di Uzbekistan ke Andalusia di Spanyol. Terminologi ini, yang menghubungkan Al-Aqsa di Yerusalem dengan Hagia Sophia dan Spanyol. Dalam terjemahan Turki referensi yang sama ke Spanyol tampaknya tidak dimasukkan seperti dalam bahasa Arab.
Usai mengumumkan perubahan status Hagia Sophia akhir pekan lalu, Erdogan mengatakan salat Jumat berjamaah pertama di Hagia Sophia akan digelar pada 24 Juli nanti. Menurut Erdogan, pihaknya menerima segala pandangan orang atas perubahan fungsi Hagia Sophia ini, namun dia pun menekankan sikap yang berlebihan atas perubahan fungsi ini akan dianggap mencederai kedaulatan Turki.
Hagia Sophia (Ayasofya dalam bahasa Turki) pada awalnya dibangun sebagai basilika bagi Gereja Kristen Ortodoks Yunani. Namun, fungsinya telah berubah beberapa kali sejak berabad-abad.
Kaisar Bizantium Constantius menugaskan pembangunan Hagia Sophia pertama pada tahun 360 M. Pada saat pembangunan gereja pertama, Istanbul dikenal sebagai Konstantinopel, mengambil namanya dari ayah Konstantius, Constantine I, penguasa pertama Kekaisaran Bizantium.
Kekaisaran Ottoman (Utsmaniyah), dipimpin oleh Kaisar Fatih Sultan Mehmed, yang dikenal sebagai Mehmed sang Penakluk, merebut Konstantinopel pada tahun 1453. Ottoman mengganti nama kota Konstantinopel menjadi Istanbul.
Islam Kaffah Media Pembelajaran Islam Secara Kaffah