Ketua KPID Jabar Dr Adiyana Slamet
Ketua KPID Jabar Dr Adiyana Slamet

Siarkan Ajaran Agama Sempit di Radio dan TV, KPID Jabar Keluarkan SE Siaran Keagamaan

Bandung – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat menerbitkan surat edaran baru terkait Program Siaran Keagamaan di Lembaga Penyiaran. Surat Edaran KPID Jabar Nomor 1 Tahun 2022 tersebut berlaku untuk seluruh Radio dan TV yang ada di wilayah Jawa Barat. SE itu dikeluarkan dalam momentum memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI).

“Dengan semangat proklamasi kemerdekaan 17 Agustus, kami keluarkan surat edaran ini untuk menjadi pedoman bagi lembaga penyiaran radio dan televisi di Jawa Barat, tentang bagaimana seharusnya siaran keagamaan dilakukan, dalam rangka meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan yang Maha Esa, dan memperkukuh integrasi nasional, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,” tutur ketua KPID Jawa Barat Dr. Adiyana Slamet dalam jumpa pers secara daring, Kamis (18/8/2022) pekan lalu.

Menurutnya, Surat Edaran ini merupakan pedoman bagi lembaga penyiaran. Meski tidak memuat sanksi, tetapi sanksinya tetap bisa diterapkan berdasarkan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS), karena Surat Edaran ini hanya mempertegas kembali P3SPS yang sudah ada.

Salah satu isi edaran tersebut mengatur terkait larangan radio dan TV di wilayah Jawa Barat untuk menyiarkan orang atau kelompok yang pindah agama.

“Program Siaran dilarang menyajikan alasan perpindahan agama seseorang atau sekelompok orang,” kata Adiyana Slamet.

Berikut isi Surat Edaran yang wajib dipatuhi lembaga penyiaran di wilayah Jawa Barat, baik Radio maupun TV:

  1. Program siaran wajib menghormati perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan yang mencakup keberagaman budaya, usia, gender, dan atau kehidupan sosial ekonomi.
  2. Program siaran dilarang merendahkan dan/atau melecehkan suku, agama, ras dan atau antargolongan.
  3. Program siaran dilarang merendahkan dan atau melecehkan individu atau kelompok karena perbedaan suku, agama, ras, antargolongan, usia, budaya, dan atau kehidupan sosial ekonomi.
  4. Lembaga penyiaran wajib memberikan kesempatan yang sama bagi individu atau kelompok untuk bekerja di lembaga penyiaran atau menjadi narasumber sesuai dengan kompetensi dan kepakaran yang dimiliki tanpa memperhatikan perbedaan suku, agama, ras, antargolongan, usia, gender, dan atau kehidupan ekonomi.
  5. Program Siaran dilarang berisi serangan, penghinaan dan atau pelecehan terhadap pandangan dan keyakinan antar atau dalam agama tertentu serta wajib menghargai etika hubungan antarumat beragama.
  6. Program Siaran yang menyajikan muatan berisi perbedaan pandangan/paham dalam agama tertentu wajib disajikan secara berhati-hati, berimbang, tidak berpihak, dengan narasumber yang berkompeten, dan dapat dipertanggungjawabkan.
  7. Lembaga Penyiaran dalam mencari narasumber yang berkompeten dapat memperhatikan rekomendasi organisasi keagamaan yang telah terdaftar sesuai ketentuan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku.
  8. Program Siaran dilarang menyajikan perbandingan antaragama.
  9. Program Siaran dilarang menyajikan alasan perpindahan agama seseorang atau sekelompok orang.
  10. Program Siaran adzan wajib sesuai dengan waktu adzan yang diterbitkan otoritas keagamaan, dan dilarang disisipi dan atau ditempeli (built in) iklan.
  11. Program Siaran adzan dan atau pembacaan muatan dalam kitab suci, wajib memperhatikan kesesuaian pelafalan yang baik dan benar, Program Siaran dilarang bermuatan penyebaran paham keagamaan yang menolak keberadaan Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.
  12. Program Siaran dilarang mempromosikan terorisme dan penggunaan kekerasan terhadap kelompok suku, agama, ras, dan antargolongan lain.
  13. Program Siaran tentang dugaan tindak pidana kejahatan dan atau terorisme, dilarang mengaitkan atau melakukan labelisasi berdasarkan suku, agama, ras, dan atau antargolongan tertentu terhadap pelaku, kerabat, kelompok, dan atau lembaga yang diduga terlibat.
Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Check Also

Ratusan eks anggota NII Garut kembali baca dua kalimat syahadat dan ikrar setia kembali ke NKRI

Tobat, Ratusan Eks NII Garut Baca Syahadat Lagi dan Ikrar Setia Kepada NKRI

Garut – Ratusan eks pengikut Negara Islam Indonesia (NII) di Garut, Jawa Barat, melakukan pertobatan …

penceramah radikal

Jangan Heran Sudah Diprediksi Nabi, Sering Bikin Gaduh dengan Fatwa tanpa Ilmu

Terkadang kita susah membedakan antara ulama yang fasih ilmu fikih dengan hanya penceramah. Banyak pula …

escortescort