shalat jamaah
shalat jamaah

Hukum Bermakmum Pada Imam yang Tidak Disenangi

Dalam Shahih Muslim dijelaskan, yang berhak menjadi imam adalah yang paling fasih membaca al Qur’an, kemudian yang paling paham sunnah (faqih), yang lebih dulu hijrah, dan kemudian yang lebih awal memeluk agama Islam.

Di era sekarang, maka yang dipertimbangkan adalah dua hal yang pertama; paling fasih dan yang paling alim (faqih). Sebab hijrah dan siapa yang lebih dulu memeluk agama Islam hanya terjadi masa dulu, di awal-awal Islam turun.

Bagaimana kalau ada seseorang yang memenuhi kriteria tersebut tapi tidak disenangi oleh makmum. Ada ragam alasan, misalnya orang tersebut tidak menjaga muru’ah (kehormatan), pelaku maksiat, dosa, dan alasan keagamaan yang lain? Atau, Karena faktor masalah pribadi?

Dalam Sunan Turmudzi termaktub satu hadits, “Tiga orang yang dilaknat oleh Rasulullah. Pertama, orang yang menjadi imam shalat sebuah kaum, padahal mereka membencinya. Kedua, wanita yang tidur dalam keadaan dimarahi suaminya. Ketiga, orang yang mendengar ajakan shalat (Hayya ala al shalat), tapi tidak mengindahkan”.

Apa batasan ketidaksukaan makmum kepada imam?

Ketidaksukaan seperti apa yang dimaksud oleh hadits di atas dijelaskan dalam kitab Al Tuhfah al Ahwazi dan Yasalunaka fi al Dien wa al Hayat. Ada tiga kriteria.

Pertama, ketidaksukaan makmum kepada imam disebab oleh sesuatu yang berhubungan dengan agama, seperti melakukan bid’ah, fasik, bodoh dan lain-lain.

Kedua, imam memiliki cacat syar’i.

Ketiga, ketidaksukaan pada imam tersebut dirasakan oleh mayoritas jama’ah. Menurut Imam al Ghazali yang dimaksud mayoritas adalah mereka yang ahli agama. Karenanya, walaupun ahli agama pada jama’ah tersebut sedikit, yang diperhitungkan adalah mereka.

Lalu bagaimana jalan keluarnya?

Syaikh Zainuddin al Malibari dalam Fathu al Mu’in mengutip pendapat gurunya Ibnu Hajar al Haitami menjelaskan, lebih baik mencari shalat jamaah lain sekalipun jumlahnya sedikit. Jika tidak menemukan, shalat sendirian lebih baik.

Inilah pendapat ulama tentang hukum bermakmum kepada imam yang dibenci atau tidak disukai. Hal ini perlu diperhatikan karena imam sejatinya harus memenuhi syarat-syarat dan memiliki akhlak yang baik. Imam adalah pemimpin bagi makmum untuk menghadap Allah. Maka, sungguh tidak layak apabila imam adalah seorang pendosa, pelaku maksiat dan segala cacat syar’i yang lain.

Bagikan Artikel ini:

About Nurfati Maulida

Check Also

ilmu agama di internet

Viral Anak Membunuh karena Media Sosial, Inilah 4 Aturan Fikih Mendidik Kesalehan Bermedia Sosial Anak

Kasus pembunuhan yang dilakukan oleh dua orang siswa sekolah menengah atas terhadap seorang bocah berumur …

Abdullah bin Abbas

Kisah Ibnu Abbas Menginsyafkan 2000 Muslim Radikal

Kisah ini diriwayatkan oleh beberapa orang perawi hadits seperti Thabrani, Baihaqi, Hakim dan Nasa’i. Satu …

escortescort