Sikap Islam terhadap Prediksi Perang Global

0
48

Konflik  Iran dan Amerika Serikat kian memanas pasca serangan Amerika Serikat ke Baghdad yang menewaskan pimpinan militer Iran Qasem Solaemani. Ketegangan ini sangat mengkhawatirkan perdamaian dunia karena puncaknya bisa menjadi perang dunia ketiga. Bagaimanapun juga, konflik ini akan mengundang keterlibatan negara-negara lain.

Sebagai balasan Iran terhadap serangan Amerika Serikat, pada hari Rabu (8/1/2020), Iran menembakkan puluhan roket di pangkalan udara gabungan AS-Irak. Roket ditembakkan Rabu pagi, sebagaimana dilansir Bloomberg dari televisi lokal yang mengutip Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC).

Seorang pejabat bahkan mengonfirmasi bahwa serangan dilakukan di Ayn al-Asad di Irak Barat. Ini dilakukan sebagai balasan atas kematian Jenderal Qasem Soleimani. IRGC mengumumkan kepada pihak AS bahwa balasan yang dilakukan akan dipenuhi rasa sakit dan kehancuran,” kata IRGC.

Sementara Gedung Putih juga mengkonfirmasi hal ini. “Kami mengetahui adanya laporan serangan terhadap fasilitas AS di Irak,” kata Sekretaris Gedung Putih Stephanie Grisham dalam sebuah pernyataan. Presiden telah diberi pengarahan dan sedang memantau situasi dengan cermat dan berkonsultasi dengan tim keamanan nasional.

Islam dan Jalan Damai

Lalu, bagaimana kita sebagai umat Islam merespon gejala yang jelas akan merobek tatanan kedamaian dunia ini? Hal pertama yang harus dilakukan umat Islam adalah menyadari dirinya sebagai muslim. Muslim sejati akan selalu memegang teguh prinsip wasathiyah (moderasi) dalam segenap lini hidupnya. 

Islam mengajarkan pola hidup seimbang. Teguh dan istiqomah menjalankan ritual keagamaan, serta punya tanggungjawab pribadi maupun kolektif dalam kehidupan sehari-hari. Agama Islam selalu menyeru kedamaian, keadilan dan persaudaraan.

Hal pertama yang harusnya ada dibenak umat Islam adalah upaya keharmonisan di internal agama Islam itu sendiri. Perbedaan pendapat, aliran, ormas, partai politik mestinya tidak menjadi jurang pemisah yang mengkotakkan umat Islam.

Baca Juga:  Kenapa Tahun Baru Masehi Dipermasalahkan Umat Islam ?

Perbedaan itu wajar dan sunnatullah. Saling curiga, konflik dan pertikaian mesti harus dihentikan. Karena hal yang paling penting untuk segera dilakukan adalah menyongsong masa depan Islam untuk mencapai puncak kemajuannya sebagaimana ditorehkan oleh para pendahulu agama ini. Mengukir sejarah peradaban Islam yang maju.

Seluruh pribadi muslim hedaknya menjadi agen perdamaian, bukan malah menjadi provokator dan sumber pertikaian.  Abdullah ibn Umar pernah meriwayatkan, bahwa Rasulullah bersabda:  “Seorang Muslim itu adalah orang yang Muslim lainnya merasa aman dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari)

Hadis ini memberi pelajaran agung pada umat Islam untuk selalu berbuat baik kepada sesama muslim. Lisan dan tangannya tidak menyebabkan orang-orang disekitarnya terluka, sakit dan menderita.

Dalam konteks ketegangan Iran dengan Amerika Serikat, semestinya seluruh umat Islam di dunia menyerukan bahwa perdamaian merupakan cita-cita agama Islam. Perang bukan solusi pertikaian. Walaupun dalam sejarah panjang kehidupan manusia peperangan selalu ada.

Perang Bukan Solusi

Diplomasi selayaknya dikedepankan untuk mengurai konflik. Bukan dengan senjata atau perang. Perang hanya akan menyisakan kepahitan dan penderitaan. Allah sendiri sangat memuliakan anak Adam.

Pembunuhan tanpa sebab-sebab yang diperbolehkan oleh agama merupakan bentuk pengingkaran terhadap kemuliaan manusia. “Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (QS. Al Isra’; 70)

Gus Dur merupakan cerminan sejati umat Islam. Sosok yang selalu tampil menyuarakan perdamaian. Ide-ide petingnya hidup damai selalu menggema dari pikirannya. Salah satunya dalam buku Islamku Islam Anda Islam Kita menekankan bahwa dialog terus-menerus harus dilakukan, sebab melalui “perundingan” dapat menjadi penyelesaian terbaik untuk mengatasi konflik di berbagai belahan dunia. 

Baca Juga:  Belajar Prinsip Dakwah Melalui Surat al-Ghasiyah

“Balasan atas suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal. Tetapi barangsiapa dapat memberi maaf dan menciptakan perdamaian, maka balasannya dari Allah. Sesungguhnya, Ia tak menyukai orang yang berbuat zalim.(QS. Al-Syura: 40)

Ayat ini memberikan pelajaran bagaimana menghukum kesalahan yang telah dilakukan. Balasan yang setimpal, tapi memaafkan lebih baik. Dengan demikian, penting bagi umat Islam untuk bisa menjadi agen perdamaian. Bahwa menegakkan perdamaian adalah kewajiban bersama.

Perang hanya akan merobek dan menghancurkan. Sementara kesejahteraan, pembangunan, dan keamanan tidak bisa diperoleh melalui jalan peperangan. Keragaman dan perbedaan menjadi potensi besar untuk mewujudkan kemakmuran. Manusia tidak mungkin bisa hidup sendiri, ia harus bergaul dengan yang lain untuk memenuhi hajat hidupnya. Maka sangat jelas, perbedaan harus dirawat dan dikelola, bukan untuk dipertentangkan.

Kembali pada ketegangan Iran dengan Amerika, semua elemen masyarakat dari semua penganut agama, terutama umat Islam dunia diharapkan mampu untuk mentranformasikan nilai dan ajaran perdamaian Islam melalui kebijakan politik yang strategis. Ini bukan soal pemberani atau penakut. Ini soal bagaimana tugas manusia sebagai khalifah di bumi bisa terwujud. Seorang pemimpin negara semestinya tidak dengan mudah menentukan perang, namun selalu mengupayakan perundingan agar tidak terjadi adu senjata dan pertumpahan darah.

Selanjutnya, peran para elit agama sangat dibutuhkan dalam situasi seperti saat ini. Ulama dan tokoh agama harus berani tampil untuk menyuarakan pesan perdamaian supaya suasana menjadi adem dan sejuk. Hal ini sangat penting mengingat di era informasi yang serba cepat, sangat mungkin dimanfaatkan oleh pihak yang tak bertanggung untuk lebih memperkeruh suasan. Provokasi dan adu domba yang akan menyebabkan bentrok dan perang.

Ulama-ulama Islam di berbagai belahan dunia harus lebih berani bersikap tegas yang dilandasi rasa sadar akan makna penting usaha menyebarkan “perdamaian” dunia. Sekali lagi, ini bukan soal siapa yang berani dan siapa yang takut. Ini soal kehidupan yang nyaman dan namai. Islam tidak mengajarkan perang sebagai solusi konflik. Perang hanya diperbolehkan kalau sampai pada titik yang mengancam aqidah.

Tinggalkan Balasan